Singaraja,koranbuleleng.com| Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng menggelar pelatihan bahasa isyarat bagi para pegawai bekerjasama dengan SLB Negeri 1 Buleleng. Pelatihan ini, sebagai upaya perlindungan serta pemenuhan hak penyandang disabilitas, khususnya kelompok rungu wicara yang kerap mengalami hambatan dalam akses informasi, Rabu, 29 Oktober 2025.
Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Buleleng, Maman Wahyudi, menjelaskan bahwa pelatihan ini diadakan karena selama ini instansinya memiliki keterbatasan dalam memberikan pendampingan kepada kelompok rentan tersebut. Pelatihan digelar dua jam setiap hari, mulai pukul 11.00 hingga 12.00 Wita, melibatkan enam pegawai setiap sesi, dan telah berjalan selama satu minggu.
“Dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak disabilitas, kelompok rentan rungu wicara memiliki hambatan akses informasi. Karena itu, pembelajaran bahasa isyarat bagi aparatur negara sangat penting agar ketika ada kegiatan atau informasi, mereka bisa cepat mengaksesnya,” ujar Maman Wahyudi.
Maman menegaskan, pelatihan ini tidak hanya menyasar pegawai Dinsos, namun juga akan diperluas kepada kader di desa, pilar sosial di kecamatan, hingga satuan kerja lainnya secara bertahap. Urgensi penguasaan bahasa isyarat terlihat jelas saat menangani kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas, di mana komunikasi sering kali menjadi hambatan utama.
“Ini memang kewajiban kami untuk memahami bahasa mereka, sehingga hak mendapatkan informasi dan penyampaian laporan dapat terpenuhi,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa selama ini komunikasi dengan penyandang rungu wicara masih dilakukan secara tertulis dan dinilai belum efektif. Dengan kemampuan bahasa isyarat, petugas diharapkan mampu memberikan pelayanan cepat, tepat, dan manusiawi, tanpa harus selalu bergantung pada juru bahasa isyarat eksternal.
Sementara itu, Kepala SLB Negeri 1 Buleleng, Made Winarsa, mengungkapkan bahwa pihaknya menyiapkan tenaga pengajar khusus untuk mendampingi para peserta pelatihan.
Menurutnya, seluruh guru di SLB tersebut dapat berperan sebagai instruktur, meski tidak semuanya berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Pelatihan ini merujuk pada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
“SIBI itu ada perkumpulannya, tetapi dalam pergaulan sehari-hari kadang berkembang bahasa lokal. Di Bengkala juga ada relawan bahasa isyarat lokal Bali,” jelas Winarsa.
Selain para guru, pelatihan juga melibatkan siswa SMA yang telah mahir berbahasa isyarat. Ia optimistis peserta dewasa akan mudah menguasai dasar-dasar SIBI karena telah tersedia kamus panduan belajar yang lengkap.
SLB Negeri 1 Buleleng kini menampung 157 murid dengan berbagai ragam disabilitas, mulai dari rungu wicara, netra, daksa, autis, hingga gangguan mental. Sekolah ini memiliki 43 pegawai, termasuk 37 guru yang mengajar di jenjang SD, SMP, dan SMA.
Winarsa menyoroti bahwa jumlah tenaga penerjemah bahasa isyarat di Buleleng masih jauh dari ideal. “Idealnya setiap instansi memiliki minimal dua orang penerjemah bahasa isyarat agar pelayanan bagi penyandang disabilitas, terutama rungu wicara, berjalan lancar,” katanya.
Selain Dinas Sosial, pelatihan serupa juga mulai dijalin dengan sejumlah instansi lain seperti pengadilan, Kementerian Agama, dan kepolisian.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

