Singaraja, koranbuleleng.com| Ribuan krama Desa Adat Nagasepaha di Kecamatan Buleleng tampak khusyuk melaksanakan upacara Melasti serangkaian Piodalan Agung di Kahyangan Tiga, pada Minggu, 2 November 2025. Air laut Segara Buleleng menjadi saksi prosesi sakral penyucian diri menjelang puncak piodalan yang akan berlangsung pada 4–6 November 2025 mendatang.
Sejak pagi, udara di pesisir Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, dipenuhi aroma dupa dan lantunan kidung suci. Puluhan pratima dan sarad dari masing-masing dadia serta Pura Kahyangan Tiga diarak menuju pantai. Ribuan warga berpakaian adat putih, namun di antara mereka tampak sejumlah krama mengenakan busana khas raja—simbol sakral yang biasa digunakan dalam tradisi Ngigel Desa.
Makna Pakaian Raja dalam Tradisi Ngigel Desa
Kelian Desa Adat Nagasepaha, Jro Mangku Made Darsana, menjelaskan bahwa busana khas raja yang dikenakan krama merupakan bentuk ayah-ayahan dan rasa bakti dalam piodalan.
“Ngigel Desa ini merupakan ungkapan rasa syukur atas terselenggaranya piodalan,” ujarnya.
Ia menuturkan, krama yang berpakaian Ngigel Desa akan ngayah ngigel saat Wayonan, pada Kamis, 6 November 2025. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas spiritual masyarakat Nagasepaha.
Menurut Darsana, upacara Melasti merupakan bagian dari piodalan di Pura Dalem, Pura Prajapati, dan Pura Desa. Selain pembersihan lahir batin, prosesi ini juga disertai dengan mendak tirta Sanjiwani, yaitu permohonan tirta suci kepada Ida Betara Baruna di Segara Buleleng.
“Tujuannya untuk memohon kerahayuan dan keharmonisan bagi seluruh warga desa,” jelasnya.
Air laut diyakini sebagai sumber kesucian dan kehidupan. Melalui Melasti, masyarakat memohon agar segala mala, kekotoran, dan unsur negatif dapat disucikan—baik secara sekala (jasmani) maupun niskala (rohani).
Malam usai prosesi Melasti, warga akan menggelar Ngias Ida Bhatara atau Ngajum Sekar, sebuah ritual persiapan menjelang puncak karya. “Sesuai dresta di Desa Adat Nagasepaha, Melasti memang selalu dilaksanakan di Segara Buleleng. Sedangkan untuk menyambut Catur Brata Penyepian dan Piodalan biasa pelaksanaannya hanya sampai di Suter atau perbatasan desa. Tradisi ini sudah diwariskan turun-temurun,” imbuh Darsana.
Rangkaian Piodalan Agung Nagasepaha akan mencapai puncaknya pada 4–6 November 2025, yang dipusatkan di Pura Prajapati, Pura Dalem, dan Pura Desa.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

