Buleleng Butuh RPH Babi Standar Higienis, Pemotongan Harian Capai 100 Ekor

Singaraja, koranbuleleng.com | Kebutuhan daging babi di Kabupaten Buleleng terus melonjak, dan kondisi ini membuat pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) khusus babi menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda. Dinas Pertanian Buleleng menegaskan bahwa fasilitas pemotongan yang lebih higienis sangat mendesak untuk segera diwujudkan.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat, memaparkan bahwa aktivitas pemotongan hingga kini masih banyak dilakukan di rumah-rumah warga. Kondisi tersebut dinilai jauh dari standar kebersihan yang ideal bagi distribusi daging konsumsi masyarakat.

- Advertisement -

Melandrat menyebut volume permintaan daging babi di Buleleng tergolong besar. Setiap hari diperkirakan ada sekitar 100 ekor babi yang dipotong. Pada momentum Hari Raya Galungan lalu, jumlahnya bahkan melonjak signifikan.

“Konsumsi ini tidak hanya untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga untuk usaha kuliner seperti be guling, hingga siobak. Artinya, volume pemotongan ternak babi cukup besar,” ujarnya, Senin, 24 November 2025.

Lonjakan permintaan ini diperkuat oleh peran sektor kuliner di Buleleng yang mengandalkan daging babi sebagai bahan utama berbagai hidangan khas yang diminati warga lokal maupun wisatawan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Dinas Pertanian telah mengajukan anggaran sebesar Rp1 miliar melalui APBD 2026. Dana ini rencananya digunakan untuk melengkapi fasilitas RPH di Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, agar layak dipergunakan sebagai tempat pemotongan babi.

- Advertisement -

“Saat ini RPH di Panji Anom belum representatif untuk pemotongan babi. Pondasi mejanya sudah dibangun, namun belum ada Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL)nya. Perlu penyempurnaan lagi agar memenuhi standar higienis,” kata Melandrat.

Dengan tersedianya IPAL dan fasilitas pendukung lainnya, proses pemotongan akan lebih memenuhi standar sanitasi serta mengurangi risiko pencemaran lingkungan.

Melandrat menegaskan bahwa pemotongan ternak di RPH memberikan kemudahan bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong. Sistem ini jauh lebih efektif dibanding pemotongan door to door yang selama ini banyak dilakukan.

Ia pun berharap agar pengadaan RPH babi segera mendapat persetujuan, mengingat urgensinya tidak hanya untuk kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi pendapatan daerah.

“Kami terus mendorong agar pengembangan fasilitas peternakan ini bisa direalisasikan pada 2026, sehingga sektor peternakan dapat memberikan dampak lebih besar bagi pendapatan daerah,” ucapnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru