Buleleng Sambut Grand Final Sirkuit Panjat Tebing Bali, Adu Gengsi Atlet Muda di Bhuana Patra

Singaraja, koranbuleleng.com| Kabupaten Buleleng resmi menjadi tuan rumah ajang bergengsi Sirkuit Panjat Tebing Seri III Bali 2025 yang berlangsung di Lapangan Bhuana Patra Singaraja pada 11–14 Desember 2025. Kompetisi ini mempertemukan para atlet terbaik dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) kabupaten/kota se-Bali dalam atmosfer persaingan yang semakin kompetitif.

Ketua FPTI Buleleng, Haji Wahyudi, menegaskan bahwa Seri III ini menjadi puncak dari tiga rangkaian sirkuit sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa seri pertama digelar di Klungkung, seri kedua di Badung, dan Buleleng mendapat mandat sebagai penyelenggara grand final. Momentum ini sekaligus mempertegas posisi Buleleng sebagai daerah yang konsisten mendorong kemajuan olahraga panjat tebing.

- Advertisement -

Selain menjadi arena perebutan tiket menuju kejuaraan nasional tahun depan, kompetisi ini mengemban misi lebih besar, pembibitan atlet muda Bali. Wahyudi menekankan pentingnya keberlanjutan pembinaan. “Tujuannya untuk pembinaan berkelanjutan. Melalui kompetisi ini atlet kita semakin terbina sekaligus menjadi bagian dari proses seleksi menuju even nasional tahun depan,” ujarnya.

Dalam grand final ini, FPTI Buleleng memasang target minimal masuk peringkat dua besar. Prediksi persaingan cukup ketat seiring turunnya kontingen kuat seperti Badung, Denpasar, dan Jembrana dengan atlet terbaik mereka. Kondisi Buleleng sendiri cukup dinamis. Sebanyak 31 atlet bertanding di tiga nomor—boulder, lead, dan speed—mulai jenjang usia sekolah dasar hingga 19 tahun.

Namun demikian, beberapa atlet Buleleng tidak dapat diturunkan karena mengalami cedera atau bertugas sebagai juri serta route setter. “Kita akui kejuaraan kali ini cukup ketat. Hampir semua kontingen, menerjunkan atlet terbaikan. Kita saat ini terkendala banyak yang jadi panitia, disamping itu ada beberapa yang cedera,” kata Wahyudi.

Di sisi lain, Ketua FPTI Bali, Putu Yudi Atmika, memandang sirkuit seperti ini sebagai sarana strategis untuk mengasah kemampuan atlet dalam menghadapi berbagai kompetisi tingkat lebih tinggi. Menurutnya, Bali termasuk daerah yang aktif menggelar kompetisi sekaligus mengirim atlet ke luar daerah sebagai bagian dari proses pematangan kemampuan.

- Advertisement -

Yudi menyoroti besarnya potensi Bali dalam melahirkan atlet usia dini berprestasi.
“Potensi daerah sangat besar. Ranking nasional masih didominasi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI, kemudian Bali. Karena itu kami dorong kompetisi nasional digelar lebih merata termasuk di luar Jawa-Bali,” ujarnya.

Ajang grand final ini bukan hanya tentang kompetisi semata, tetapi juga cerminan komitmen Buleleng dalam mendorong lahirnya atlet panjat tebing berkualitas, sekaligus menunjukkan bahwa daerah di ujung utara Bali ini siap menjadi pusat pertumbuhan olahraga ekstrem yang semakin digemari kawula muda.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru