Pemkab Buleleng Hentikan Sementara LKSA Ganesha Sevanam, Anak-anak Langsung Direlokasi

Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) mengambil langkah tegas dengan memindahkan anak-anak dari LKSA Ganesha Sevanam, Minggu, 5 April 2026. Kebijakan ini menjadi tindak lanjut atas keputusan resmi Bupati Buleleng yang menghentikan sementara operasional lembaga tersebut.

Langkah relokasi ini bukan tanpa alasan. Dugaan kasus kekerasan fisik dan seksual yang menyeret ketua yayasan berinisial IMW memicu intervensi cepat dari pemerintah daerah demi menjamin keselamatan anak-anak yang berada di dalam naungan panti tersebut.

- Advertisement -

Kepala Dinsos P3A Buleleng, I Putu Kariaman Putra, menegaskan bahwa proses pemindahan dilakukan melalui koordinasi menyeluruh dengan berbagai pihak, mulai dari keluarga anak, aparat wilayah hingga unsur keamanan. Upaya ini dilakukan agar seluruh pihak memahami situasi yang terjadi secara utuh.

“Kami dari Dinsos bersama P3A menindaklanjuti SK Bupati. Diawali dengan bersurat ke pihak panti, kemudian kami lakukan relokasi terhadap anak-anak yang masih berada di sana,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan, dari total 30 anak yang sebelumnya tinggal di LKSA tersebut, sebagian besar telah kembali ke keluarga masing-masing. Sebanyak 16 anak dipulangkan atas permintaan orang tua, sementara empat anak dipindahkan ke Panti Asuhan Narayan Seva di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan.

Dua anak lainnya masih bertahan di lokasi awal karena membutuhkan waktu untuk penyesuaian.

- Advertisement -

Sementara itu, delapan anak yang diduga menjadi korban kini ditempatkan di rumah aman guna mendapatkan perlindungan maksimal.

“Masih terisa dua anak yang saat ini masih berada di Panti Ganesha Sevanam, karena mereka masih butuh proses penyesuaian. Kami tidak bisa memaksakan. Kalau kedepan dua anak dan 16 yang sudah kembali ke rumah ini minta direlokasi ke panti yang lain, kami siap memfasilitasi,” kata dia.

Pemkab Buleleng memastikan bahwa hak-hak dasar anak, khususnya pendidikan, tetap menjadi prioritas utama di tengah proses relokasi ini. Pemerintah menjamin tidak ada anak yang terputus akses pendidikannya.

“Pendidikan mereka tetap kami fasilitasi. Jika ingin pindah ke sekolah terdekat, kami bantu memfasilitasi bekerjasama dengan Disdikpora Buleleng,” jelas Kariaman.

Di sisi lain, kondisi psikologis anak-anak korban juga menjadi perhatian serius. Pendampingan intensif terus diberikan oleh tenaga profesional, termasuk pekerja sosial dan psikolog, guna memulihkan trauma yang dialami.

“Nanti mereka akan kami dampingi dan antar ke sekolahnya, untuk mengikuti ujian. 8 anak ini akan terus berada di rumah aman, sampai kasus ini memiliki keputusan yang berkekuatan hukum tetap,” kata Kariaman.

Ketua Panti Asuhan Narayan Seva, Luh Maeri Arjani, menyampaikan kesiapan pihaknya dalam menerima tambahan anak hasil relokasi. Kapasitas panti yang masih memadai memungkinkan penanganan berjalan optimal.

“Dari kapasitas total 85 anak, saat ini terisi 70 anak. Masih bisa menampung sekitar 20 anak lagi,” ujarnya.

Ia juga memastikan anak-anak yang baru datang akan mendapatkan perhatian khusus agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru secara bertahap.

“Banyak kakak-kakak disini yang akan membimbing dan membantu mereka untuk beradaptasi. Kalau mereka minta berada di dalam satu kamar, kami siap memfasilitasi. Namun di setiap kamar memang harus ada satu kakak asuhnya,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru