Desa Adat Banyuasri Rancang Pengembangan Destinasi Wisata Bahari Berbasis Konservasi 

Singaraja, koranbuleleng.com| Desa Adat Banyuasri merancang pengembangan destinasi pariwisata berbasis pelestarian lingkungan di kawasan pesisir Banyuasri, mencakup Pantai Pidada, Pantai Camplung, hingga Pantai Indah yang selama ini dikenal sebagai jalur hilir mudik penyu hijau.

Langkah ini muncul sebagai respons atas potensi besar ekosistem laut di wilayah utara Bali, khususnya di Buleleng, yang selama ini belum tergarap maksimal sebagai destinasi wisata berbasis konservasi. Kawasan pesisir tersebut dinilai memiliki nilai ekologis tinggi karena menjadi habitat alami penyu untuk bertelur, sekaligus peluang pengembangan wisata edukatif melalui pelestarian tukik.

- Advertisement -

Pegiat konservasi, Adhy Simatupang, menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini tidak sekadar berorientasi pada pariwisata, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem laut yang berkelanjutan. Ia menilai, diversifikasi daya tarik wisata bahari menjadi kebutuhan mendesak bagi Buleleng.

Ketergantungan terhadap satu ikon wisata seperti lumba-lumba, menurutnya, berpotensi menimbulkan risiko penurunan daya tarik jika tidak diimbangi alternatif lain yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya, Minggu, 3 Mei 2026.

Pengembangan kawasan pesisir Banyuasri tidak hanya difokuskan pada konservasi tukik, tetapi juga diarahkan menjadi pusat ekowisata bahari yang terintegrasi. Sejumlah potensi yang dapat dikembangkan meliputi wisata memancing, kano, berenang, dolphin seeing, hingga wisata religi di Pura Segara dan Pura Taman Alit.

- Advertisement -

Tak hanya itu, sektor pendukung seperti wisata kuliner khas pesisir serta pembangunan jogging track dengan panorama laut dan hamparan persawahan dinilai mampu memperkuat daya tarik kawasan ini sebagai destinasi baru di Buleleng.

Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Ia menilai program ini sejalan dengan prinsip pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis kearifan lokal bagi krama desa.

“Saya menyambut baik program ini selama tidak mengganggu keseimbangan lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah bagi desa adat,” ujarnya.

Secara hukum adat, rencana pengembangan ini tidak serta-merta dijalankan, melainkan akan melalui mekanisme paruman desa adat sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan. Hal ini menjadi penting untuk memastikan seluruh krama memperoleh ruang partisipasi serta menjaga keselarasan antara pembangunan dan nilai-nilai adat yang berlaku.

Dengan posisi strategis dalam jalur wisata Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri kini diproyeksikan berkembang sebagai destinasi unggulan baru yang tidak hanya mengedepankan nilai ekonomi, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan ekologis dan perlindungan lingkungan pesisir.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru