Endek Street Fashion Sulap Zebra Cross Jadi Catwalk

Singaraja, koranbuleleng.com| Zebra cross di Kawasan Titik Nol Kota Singaraja berubah total menjadi lintasan peragaan busana terbuka pada Sabtu, 18 Juli 2026 sore. Sebanyak 60 model berusia 3 hingga 17 tahun tampil percaya diri memperagakan beragam busana berbahan kain tenun endek dalam gelaran Endek Street Fashion, yang sukses menyedot perhatian masyarakat.

Berbeda dari peragaan busana konvensional yang berlangsung di dalam gedung, ajang ini memanfaatkan jalur penyeberangan jalan sebagai catwalk. Konsep tersebut menghadirkan suasana baru di pusat Kota Singaraja sekaligus menghidupkan ruang publik melalui kreativitas generasi muda. Ratusan pasang mata yang memadati kawasan Titik Nol tampak antusias menyaksikan setiap penampilan.

- Advertisement -

Mayoritas busana yang diperagakan mengusung motif khas Buleleng. Meski beberapa rancangan mengadaptasi tren fesyen internasional, identitas lokal tetap menjadi ruh utama dengan menjadikan kain endek sebagai elemen dominan dalam setiap koleksi.

Founder Fortuna Manajemen, I Gede Ary Santika, menjelaskan sebagian besar koleksi yang ditampilkan merupakan hasil rancangan Fortuna Bali Fashion. Namun, sejumlah desainer lain juga dilibatkan agar ragam kreativitas yang muncul semakin berkembang.

“Sebagian besar desain berasal dari Fortuna Bali Fashion, tetapi kami juga merangkul desainer lain untuk ikut berkreativitas. Harapannya semakin banyak ide baru yang lahir,” ujarnya.

Menurut Ary Santika, Endek Street Fashion bukanlah kegiatan yang lahir secara spontan. Gagasan tersebut telah dipersiapkan sejak lama dan akhirnya diwujudkan dengan memanfaatkan tren street fashion yang sedang berkembang sebagai media memperkenalkan kain endek kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

- Advertisement -

Selain menjadi ruang bagi para model binaan untuk menunjukkan kemampuan mereka, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka jalan bagi perkembangan industri fesyen berbasis budaya di Kabupaten Buleleng.

Ke depan, pihaknya bahkan menargetkan lahirnya agenda fesyen berskala lebih besar, seperti Buleleng Fashion Week atau Sunda Kecil Fashion Week yang digelar selama sepekan dengan melibatkan lebih banyak komunitas kreatif serta desainer lokal.

“Harapan kami kegiatan ini bisa berkembang menjadi Buleleng Fashion Week. Nantinya kami ingin menggandeng lebih banyak komunitas agar bersama-sama memajukan industri kreatif di Buleleng,” katanya.

Ary Santika menambahkan, perkembangan dunia fesyen turut memengaruhi desain busana endek yang kini mulai dipadukan dengan gaya modern dari Korea, Vietnam, hingga China. Meski demikian, karakter kain tenun endek khas Buleleng tetap dipertahankan sebagai identitas utama setiap rancangan.

“Pengaruh luar memang ada, tetapi kami tetap mempertahankan dominasi kain tenun endek khas Buleleng. Tujuannya agar endek tidak hanya dipakai sebagai seragam kantor, tetapi juga menjadi busana sehari-hari,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Endek Street Fashion yang dinilai mampu mengubah kawasan Titik Nol menjadi ruang ekspresi kreatif bagi anak-anak dan generasi muda.

Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa ruang publik dapat menjadi pusat kegiatan seni dan budaya yang diminati warga apabila dimanfaatkan secara optimal.

“Saya cukup terkejut melihat begitu banyak masyarakat yang datang menyaksikan kegiatan ini. Persiapannya singkat, tetapi antusiasmenya luar biasa,” ujar Sutjidra.

Ia menegaskan, kawasan Titik Nol merupakan ruang publik yang terbuka bagi masyarakat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas positif, mulai dari pertunjukan seni, musik, hingga peragaan busana. Pemerintah Kabupaten Buleleng pun berkomitmen melengkapi fasilitas pendukung seperti jaringan Wi-Fi, kamera pengawas (CCTV), serta area pertunjukan agar aktivitas komunitas semakin berkembang.

Pemerintah juga berencana menyusun jadwal pemanfaatan kawasan tersebut sehingga berbagai komunitas dapat bergantian menggunakan ruang publik tanpa terjadi benturan agenda.

“Ini adalah ruang publik milik masyarakat. Kami ingin semakin banyak komunitas memanfaatkannya untuk berkarya dan menghidupkan Kota Singaraja,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru