Mahasiswa IMK Ciptakan Nama Titik Nol Kota Singaraja, Terpilih dari 868 Usulan

Singaraja,koranbuleleng.com| Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Institut Mpu Kuturan (IMK), Kadek Dika Wirawan (22), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan setelah nama yang diusulkannya terpilih sebagai identitas resmi Titik Nol Kota Singaraja.

Dari 868 usulan nama yang dikirimkan masyarakat dalam sayembara penamaan yang digelar Pemerintah Kabupaten Buleleng, usulan Dika bertajuk “Praja Mandala Singa Ambara Raja” ditetapkan sebagai nama terbaik.

- Advertisement -

Mahasiswa asal Banyuning Tengah, Jalan Pulau Komodo, Singaraja itu mengaku tidak menyangka gagasannya akan terpilih.

“Saya syok sekaligus senang. Rasanya campur aduk karena tidak menyangka bisa terpilih dari sekitar 800 lebih peserta yang mengikuti sayembara ini,” ujarnya.

Dika menjelaskan, nama Praja Mandala lahir dari ketertarikannya terhadap penggunaan kata mandala pada sejumlah kawasan penting di Bali, seperti Niti Mandala di Denpasar maupun Yudha Mandala Tama di Pelabuhan Buleleng.

Setelah menelusuri maknanya, ia menemukan konsep Tri Mandala dalam tata ruang tradisional Bali yang memaknai mandala sebagai kawasan atau pusat.

- Advertisement -

“Kalau berbicara inspirasi, saya melihat banyak nama kawasan di Bali menggunakan kata mandala. Setelah saya mencari tahu, ternyata ada konsep Tri Mandala. Dari situ saya memahami bahwa mandala dapat diartikan sebagai kawasan atau pusat. Kemudian saya memadukannya dengan kata praja yang berarti pemerintahan, sehingga menjadi kawasan atau pusat pemerintahan Kota Singaraja,” jelasnya.

Sementara itu, frasa Singa Ambara Raja sengaja dipertahankan karena menurutnya telah menjadi identitas historis Kota Singaraja.

“Nama Singa Ambara Raja sudah menjadi maskot legendaris Kota Singaraja dan melekat di hati masyarakat. Karena itu saya merasa tidak perlu mengubah atau menghilangkannya,” katanya.

Dika mengaku ide tersebut disusunnya setelah mengetahui informasi sayembara melalui media sosial. Dalam prosesnya, ia juga berdiskusi dengan keluarga dan teman-temannya untuk menyempurnakan usulan nama.

Keberhasilan mahasiswa IMK tersebut mendapat apresiasi dari Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Terpilihnya nama yang diusulkan mahasiswa menjadi identitas Titik Nol Kota Singaraja merupakan bentuk kontribusi intelektual sekaligus bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam membangun peradaban melalui ide, pemikiran, dan karya,” ujar Suwindia.

Ia menambahkan, Institut Mpu Kuturan terus mendorong budaya akademik yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mampu melahirkan solusi dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Mahasiswa harus didorong untuk peka terhadap potensi daerah, budaya lokal, dan dinamika pembangunan. Kearifan lokal merupakan kekayaan yang harus dijaga sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Suwindia berharap keberhasilan tersebut menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Kami akan terus membuka ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan kreatif yang berpijak pada nilai budaya, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berinovasi dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah,” tutupnya.(*)

Kontributor: Rika Mahardika

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru