Singaraja, koranbuleleng.com | Tiga kebakaran melanda wilayah Kabupaten Buleleng dalam waktu berbeda pada Senin, 7 September 2026. Rangkaian kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi kerugian materi mencapai sekitar Rp135 juta.
Tiga lokasi yang dilanda kebakaran yakni Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, dan Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada.
Polres Buleleng menyebut penggunaan sumber api yang tidak diawasi menjadi persoalan dalam rangkaian kebakaran tersebut. Aktivitas membakar sampah hingga memasak dengan kompor dan kayu bakar berujung pada kebakaran setelah api ditinggalkan.
Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz mengatakan, peristiwa pertama terjadi di Desa Bengkel sekitar pukul 10.30 Wita.
Sebelum kebakaran terjadi, Jro Mangku Wayan Suparto (67) membakar sampah menggunakan tong berbahan drum sekitar pukul 10.00 Wita. Setelah itu, korban meninggalkan lokasi dan menuju rumah yang berjarak sekitar 10 meter dari tempat pembakaran.
Tidak lama berselang, tetangga memberitahu korban bahwa api pembakaran sampah telah merambat ke bangunan miliknya.
“Diduga karena kelalaian korban saat membakar sampah. Saat itu kondisi angin kencang sehingga api bergeser ke bangunan di sebelahnya,” ujar Yohana, Selasa, 8 September 2026.
Api menghanguskan bangunan semi permanen dan gelebeg atau lumbung padi yang digunakan menyimpan kayu bakar. Selain itu, lima sepeda, satu kursi roda dan dua ekor bebek turut terdampak. Nilai kerugian diperkirakan Rp15 juta.
Beberapa jam kemudian, kebakaran kembali terjadi di Perumahan LC 8, Jalan Jalak Putih, Kelurahan Banyuasri. Peristiwa tersebut dilaporkan sekitar pukul 18.45 Wita.
Kebakaran kali ini bermula ketika I Nyoman Asta Sumadi (67) menyalakan kompor untuk memanaskan minyak goreng. Setelah kompor menyala, korban meninggalkan dapur untuk sembahyang dan lupa mematikan kompor.
Saat kembali ke rumah, korban mendapati api sudah membesar dan membakar sejumlah barang di area dapur. Warga sekitar kemudian membantu memadamkan api menggunakan peralatan yang tersedia sebelum petugas pemadam kebakaran datang.
Sejumlah peralatan rumah tangga rusak, di antaranya satu set rak dinding/kitchen, lemari es, dispenser dan kompor gas. “Korban diperkirakan rugi sekitar Rp20 juta,” terang Yohana.
Belum selesai rangkaian kejadian tersebut, kebakaran ketiga terjadi di Banjar Dinas Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada.
Dapur rumah milik Nyoman Subagia (50) terbakar setelah sebelumnya digunakan untuk memasak menggunakan kayu bakar sekitar pukul 19.30 Wita. Sekitar pukul 21.00 Wita, korban kemudian masuk kamar dan tidur.
Sekitar pukul 22.00 Wita, korban terbangun setelah mendengar dan merasakan sebagian plafon rumahnya jatuh. Ketika keluar, api telah membakar dapur dan mulai merambat ke bagian atap rumah yang berjarak sekitar 1,5 meter.
Warga sempat melakukan upaya pemadaman secara manual menggunakan ember dan air dari bak penyimpanan. Namun, kobaran api tidak berhasil dikendalikan.
Petugas pemadam kebakaran baru tiba sekitar pukul 23.15 Wita. Upaya pemadaman juga menghadapi kendala karena akses menuju lokasi cukup sempit.
Api akhirnya dapat dipadamkan sekitar pukul 24.00 Wita. Dapur berukuran 5×7 meter beserta perabotannya terbakar. Bagian atap rumah berukuran 7×6 meter turut terdampak, sedangkan barang-barang di dalam rumah berhasil diselamatkan.
Kerugian akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp100 juta.
Yohana mengingatkan warga Buleleng untuk meningkatkan kewaspadaan ketika menggunakan sumber api, baik saat memasak maupun membakar sampah. Api tidak boleh ditinggalkan sebelum dipastikan benar-benar padam.
“Jangan meninggalkan sumber api dalam kondisi masih menyala. Termasuk saat membakar sampah, perlu memperhatikan kondisi angin dan lingkungan sekitar,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

