Tiga Ruang Kelas SDN 3 Kalibukbuk Ambruk, 80 Siswa Belajar di Ruang Guru dan Perpustakaan

Singaraja, koranbuleleng.com | Tiga ruang kelas SD Negeri 3 Kalibukbuk, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, ambruk pada Minggu, 13 September 2026 sore. Angin kencang menerjang bangunan yang sebelumnya telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, ambruknya bangunan berdampak terhadap 80 siswa yang harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang guru dan perpustakaan.

- Advertisement -

Bangunan yang ambruk merupakan satu kompleks yang digunakan sebagai ruang belajar kelas IV, V, dan VI. Kerusakan paling parah terlihat pada bagian atap ruang kelas yang berada di tengah bangunan.

Sekolah langsung memasang tali pembatas di sekitar lokasi untuk mencegah siswa mendekati puing bangunan. Pembersihan material yang runtuh juga segera dilakukan agar area sekolah kembali aman digunakan.

Kepala SD Negeri 3 Kalibukbuk, Nyoman Sumitra mengatakan, kerusakan bangunan sebenarnya sudah terpantau sebelum peristiwa ambruk terjadi.

Atap mulai terlihat melengkung dan kondisinya dinilai sudah lapuk. Sekolah kemudian mengambil langkah antisipasi dengan mengosongkan tiga ruang kelas tersebut sejak Juli 2026.

- Advertisement -

“Memang sudah lapuk. Bulan Juni itu sudah terlihat atapnya melengkung, sehingga sejak Juli sudah dikosongkan,” kata Sumitra, ditemui Senin, 14 September 2026.

Sebanyak 27 siswa kelas IV, 24 siswa kelas V, dan 29 siswa kelas VI terdampak kondisi tersebut. Totalnya mencapai 80 siswa.

Sekolah juga telah menyampaikan usulan perbaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng setelah kondisi atap mulai menunjukkan kerusakan.

“Pas kelihatan bulan Juni, sudah langsung diusulkan ke dinas untuk perbaikan. SK perbaikannya masih dalam proses,” ujarnya.

Bangunan tersebut tergolong bangunan lama. Sumitra menyebut gedung itu dibangun pada 1983 dengan struktur tembok berbahan kapur dan pasir. Sementara itu, bagian atap terakhir kali direnovasi pada 2009.

Atap bangunan diperkirakan runtuh pada Minggu, 13 September 2026 sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 Wita. Saat kejadian, kegiatan belajar mengajar sudah tidak berlangsung.

Kondisi bangunan kemudian mendapat asesmen dari personel BPBD Buleleng. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bagian atap yang ambruk memiliki panjang sekitar 25 meter dan lebar 6,5 meter. BPBD memperkirakan nilai kerusakan sementara mencapai sekitar Rp60 juta.

Kondisi ini membuat aktivitas pembelajaran harus kembali diatur agar tetap berlangsung tanpa menempatkan siswa di sekitar bangunan yang rusak.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, turun langsung meninjau kondisi tiga ruang kelas tersebut pada Senin siang.

Setelah pengecekan, Disdikpora meminta sekolah melakukan penataan ulang kegiatan belajar mengajar. Fokus awalnya adalah memastikan proses pendidikan tetap berjalan sekaligus menjaga keselamatan siswa.

“Untuk melakukan pengaturan kembali dulu untuk pembelajaran siswa. Kemudian untuk melakukan pembersihan dulu bersama, nanti dibantu oleh komite untuk merapikan sisa-sisa kerusakan agar tidak membahayakan selanjutnya,” ujar Surya Bharata ditemui usai peninjauan.

Menurut Surya Bharata, proses pembelajaran masih memungkinkan dilakukan dengan sistem single shift berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak sekolah.

Kelas III hingga VI tetap menjalani pembelajaran selama enam hari kerja, mulai Senin hingga Sabtu.

Sementara kelas I dan II yang memiliki durasi pembelajaran lebih pendek dapat menerapkan pengaturan waktu secara bergilir.

“Di mana untuk kelas I dan kelas II karena jamnya pendek itu bisa dilaksanakan shift bergilir. Jadi yang untuk kelas III, IV, V, VI mereka seperti biasa dan kegiatan PBM itu di enam hari kerja,” ujarnya.

Jika proses perbaikan nantinya berdampak terhadap kegiatan belajar, sekolah dapat menyesuaikan pola pembelajaran. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pembelajaran daring maupun pembelajaran dari rumah.

Selain mengatur kegiatan belajar, Disdikpora meminta sekolah memperluas pembatas di sekitar bangunan yang ambruk.

Langkah tersebut dinilai penting karena jumlah siswa cukup banyak dan lokasi bangunan berada di lingkungan sekolah yang masih menjadi ruang aktivitas anak-anak.

“Pembatasnya diperlebar lagi agar nanti anak-anak tidak bermain karena jumlah siswanya cukup banyak,” kata dia.

Pembersihan sisa material juga menjadi perhatian agar tidak muncul risiko lanjutan terhadap siswa maupun warga sekolah.

Untuk penanganan permanen, Disdikpora Buleleng akan membawa kondisi SD Negeri 3 Kalibukbuk tersebut dalam pembahasan bersama tim anggaran daerah dan pimpinan.

Perbaikan bangunan diusulkan masuk dalam anggaran induk 2027.

“Tadi sudah kami laporkan pagi untuk ditindaklanjuti dan kita usulkan di induk 2027. Mudah-mudahan bisa segera tertangani,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah belum menentukan apakah bangunan tersebut cukup direhabilitasi atau harus mendapat penanganan dengan konstruksi baru.

Disdikpora akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk memastikan kelayakan fisik bangunan.

Hasil asesmen teknis nantinya menjadi dasar menentukan bentuk intervensi yang paling tepat terhadap gedung yang telah berdiri sejak 1983 tersebut.

“Kami akan koordinasi dengan Dinas PU secara fisik seperti apa kelayakan bangunannya, apakah masih layak untuk diperbaiki sebagian atau ada hal-hal teknis lain yang bisa diperbaiki secara lebih baik lagi,” kata Surya Bharata.

Besaran anggaran juga belum dapat ditetapkan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan teknis karena kebutuhan biaya akan berbeda apabila bangunan direhabilitasi dibandingkan dengan dibangun kembali.

“Kalau perbaikan belum bisa kita pastikan. Karena kalau rehab sekian, kalau pembangunan sekian, itu ada hitungan tersendiri,” ujarnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru