Surabaya, koranbuleleng.com | Industri media digital di Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Perubahan algoritma platform global, hadirnya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga pergeseran kue iklan memaksa pengelola media independen untuk melakukan tindakan reorientasi dan reinvensi (reboot and reinvent) demi menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus independensi jurnalisme.
​Isu-isu krusial tersebut mengemuka dalam diskusi bergengsi Indonesia Digital Media Conference (IDMC) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Surabaya. Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber lintas sektor, yakni praktisi media nasional Dahlan Dahi, akademisi Dr. Ika Karlina Idris, serta wirausahawan media lokal Dwi Eko Lokononto.
​CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, menegaskan bahwa ekosistem media digital saat ini telah memasuki ‘new normal’. Menurutnya, era keemasan berburu pageview dan iklan programmatic sudah sepenuhnya berakhir.
​Dahlan menyoroti ketimpangan yang terjadi di industri penerbitan digital. Dari total kue iklan digital nasional yang diproyeksikan mencapai Rp71,5 triliun, sebesar 80 persen justru dikuasai oleh tiga platform raksasa digital. Sisa 20 persen sisanya diperebutkan oleh lebih dari 50 ribu penerbit di Indonesia.
​”Teknologi membantu kita memproduksi berita lebih cepat dan murah, tetapi persoalannya adalah bagaimana kita uncapture value dari karya yang diciptakan? Era pageview dan programmatic advertising sudah selesai. Kita tidak boleh lagi menjadikan karya jurnalisme sebagai bahan baku gratis bagi platform,” tegas Dahlan Dahi.
​Ia juga menyerukan agar perjuangan menegakkan hak cipta (copyright) dan hak ekonomi media disandingkan dengan regulasi antimonopoli. Menurutnya, kesewenang-wenangan platform terhadap penerbit hanya bisa terjadi karena struktur pasar yang monopolistik.
​”Kalau jurnalisme hancur, demokrasi hancur, dan bangsa ini juga ikut hancur. Perjuangan melawan monopoli platform adalah benteng untuk menyelamatkan jurnalisme sebagai mesin demokrasi,” tambahnya.
​Ketergantungan Iklan Pemerintah dan Rentannya Media Daerah
​Perspektif akademis dan berbasis data dipaparkan oleh Dr. Ika Karlina Idris, Associate Professor dari Monash University Indonesia sekaligus Co-director Data and Democracy Research Hub. Mengutip data riset model bisnis media, Ika menyoroti dominasi belanja iklan pemerintah yang makin tinggi terhadap keberlangsungan hidup media, terutama di daerah.
​Ia membeberkan, jika pada tahun 2021 iklan swasta masih mendominasi, maka pada tahun 2025/2026 porsi iklan pemerintah melonjak rata-rata mencapai 48,85 persen, bahkan di beberapa media lokal mencapai 76 hingga 100 persen.
​”Media di luar Jakarta jauh lebih bergantung pada anggaran iklan pemerintah dibandingkan media di ibu kota, dengan tingkat ketergantungan mencapai 49 persen.
Pendapatan media memuncak di momen Pilpres dan Pilkada, persis di saat liputan independen justru paling dibutuhkan masyarakat,” jelas Dr. Ika Karlina Idris.
​Ika memperingatkan bahaya laten jika pemerintah pusat maupun daerah mendadak memangkas anggaran belanja media. Satu kebijakan efisiensi anggaran dari pusat dipastikan bisa menggoyahkan ratusan dapur redaksi di daerah.
​Selain itu, ia mencatat tantangan media baru yang kesulitan melakukan diversifikasi pendapatan, serta kecenderungan elite politik yang kini melompati meja redaksi dengan menempatkan orang-orangnya secara langsung dalam ekosistem media.
​Resiliensi Media Lokal: Penguatan Kelembagaan dan Cash Flow
​Di sisi lain, pendiri media Beritajatim, Dwi Eko Lokononto (yang akrab disapa Cah Luki), membagikan resep bertahan hidup (survival strategy) media lokal independen yang berhasil melewati berbagai krisis tanpa bergantung pada iklan tradisional pemerintah sejak awal berdiri.
​Cah Luki mengungkapkan, kunci utama daya tahan Beritajatim selama lebih dari dua dekade adalah keberanian membangun reputasi, jaringan kepakaran, serta tata kelola keuangan yang ketat.
​”Modal kami saat mendirikan media ini bukan uang, melainkan pengetahuan dan jaringan. Kami tidak mengandalkan iklan pemerintah pada awal berdiri karena masalah nomenklatur hukum saat itu. Justru hal tersebut memaksa kami kreatif mengembangkan unit bisnis lain seperti konsultan komunikasi dan event organizer,” ungkap Cah Luki.
​Cah Luki menekankan pentingnya penguatan kelembagaan legal (PT, CV, Yayasan) serta disiplin tata kelola arus kas (cash flow). Bagi media lokal, keuntungan usaha tidak boleh langsung dibagi habis, melainkan diputar kembali untuk memperkuat cadangan kas Redaksi.
​”Reputasi internal dan eksternal adalah kunci. Penguatan merek melalui intellectual property (IP) dan kolaborasi di jejaring organisasi seperti AMSI terbukti menyelamatkan kami dari kegagalan arah di tengah perubahan teknologi digital,” terangnya.
​Cah Luki mengungkapkan, kunci utama daya tahan media lokal adalah pemahaman mendalam terhadap keberadaan pembaca dan ekosistem bisnis potensial di daerahnya. Di Jawa Timur, misalnya, Beritajatim secara strategis memosisikan diri sebagai media yang menguasai ceruk informasi industri minyak dan gas (migas).
​”Media lokal harus tahu persis di mana pembacanya dan di mana ekosistem bisnisnya berada. Sejak awal kami memosisikan diri memahami industri migas. Keahlian dan pemahaman atas krisis komunikasi ini bahkan membawa kami dipercaya menjadi pengajar di lembaga internasional seperti OSC (Oil Spill Combatting),” ujar Cah Luki.
​Menurut Cah Luki, keberlanjutan media tidak cukup dibangun dengan modal dana besar, melainkan pengetahuan, tata kelola arus kas (cash flow) yang akuntabel, serta penguatan kelembagaan legal yang serba lengkap (PT, CV, hingga Yayasan). Keuntungan usaha pun tidak boleh langsung dibagi habis, melainkan diputar kembali untuk memperkuat cadangan kas Redaksi.
​”Modal kami saat mendirikan media ini bukan uang, melainkan pengetahuan dan jaringan. Penguatan brand, reputasi, serta kolaborasi di jejaring organisasi seperti AMSI terbukti menyelamatkan kami dari kegagalan arah di tengah perubahan ekosistem digital,” tegasnya.
​Menghadapi serangan Generative AI dan Search GPT, Cah Luki mengimbau media lokal untuk mempraktikkan 8 Elemen Media Berkelanjutan yang dirumuskan AMSI. Media tidak lagi bisa bertahan jika hanya mengandalkan format teks murni atau server konvensional.
​”Suka tidak suka, kita harus menambah cost untuk memenuhi standar keberlanjutan. Kita beralih dari teks ke visual dan media sosial, mengalihkan infrastruktur ke sistem cloud, serta bertransformasi dari era SEO menuju Generative Engine Optimization (GEO) agar tetap relevan dan dijumpai oleh pembaca,” pungkas Cah Luki. (*)
Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

