Singaraja, koranbuleleng.com | Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan doa dan empati mendalam bagi korban banjir yang melanda Bali pada 9–10 September 2025. Bencana ini merenggut 18 jiwa dan membuat empat orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Dalam peresmian perubahan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan menjadi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Kabupaten Buleleng, Sabtu 20 September 2025, Menag mengajak seluruh undangan untuk berdoa bersama bagi para korban.
“Sebelum saya melanjutkan, pertama-tama izinkan saya selaku pribadi maupun Menteri Agama menghaturkan doa kepada saudara-saudara kita yang lebih dicintai Tuhan Yang Maha Esa, yang dipanggil kemarin dalam peristiwa banjir,” ujarnya.
Selain doa, Menag menekankan pentingnya empati yang diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi keluarga korban. “Dan kita semua yang hadir mari kita mewujudkan rasa empati kita dalam bentuk memberikan kontribusi terhadap mereka, keluarga para korban. Doa yang kita panjatkan untuk kelanjutan kesejahteraan kehidupan mereka,” ucapnya.
Ia juga berharap agar Pulau Bali terhindar dari bencana serupa. “Kita berharap nanti insya Allah mudah-mudahan Bali terlindungi dari berbagai macam musibah dan bala,” kata dia.
Banjir yang melanda Bali tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur, menutup akses jalan, serta meninggalkan trauma psikologis bagi warga terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali memperkirakan kerugian materiil akibat bencana ini mencapai sekitar Rp28 miliar.
Pemerintah Siapkan Bantuan Hingga Rp60 Juta
Di lokasi yang sama, Anggota Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan bantuan perbaikan rumah bagi korban banjir di Bali. Nilai bantuan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah warga.
“Rumah yang rusak berat itu akan diganti, dibuatkan rumah atau dengan senilai Rp60 juta, yang sedang Rp30 juta, dan yang ringan Rp15 juta,” ucapnya.
Kariyasa menegaskan bahwa fase darurat bencana telah selesai, dan pemerintah kini fokus pada tahap pemulihan. “Yang bersifat kebutuhan awal sudah dipenuhi. Sekarang masuk pasca pemulihan. Infrastruktur seperti jalan yang rusak, rumah yang terdampak, semuanya akan ditangani pemerintah di bawah kendali BNPB,” katanya.
Selain perbaikan rumah, pemerintah juga melakukan pemetaan kerusakan sektor lain, termasuk infrastruktur dan aktivitas ekonomi warga. Tercatat ada sekitar 474 kios dan usaha kecil menengah (UMKM) yang terdampak banjir.
Kariyasa menambahkan bahwa DPR RI akan mendorong asesmen menyeluruh hingga ke tingkat desa agar bantuan tepat sasaran. “Ini kami terus dorong melakukan asesmen sampai tingkat bawah, terutama yang terdampak itu. Sekarang ini fokusnya bagaimana mengembalikan kehidupan normal masyarakat, baik melalui perbaikan infrastruktur maupun pemulihan ekonomi,” tutup dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

