Singaraja, koranbuleleng.com| DPRD Buleleng mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng agar memanfaatkan sisa pinjaman daerah sebesar Rp200 miliar dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, tidak hanya untuk penataan kantor pemerintahan, tetapi juga dialokasikan bagi pembenahan infrastruktur yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Rencana Pemkab Buleleng, dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk peningkatan fasilitas kesehatan di RSUD Buleleng dengan nilai anggaran Rp150 miliar. Sementara sisanya Rp50 miliar, disebut akan dipakai untuk penataan Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Buleleng.
Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya menegaskan, penggunaan dana pinjaman wajib melalui kajian matang. Tujuannya agar perencanaan proyek diketahui seluruh pihak dan terhindar dari potensi temuan yang dapat menghambat pembangunan.
“Kita tidak menolak, kita setuju dengan perencanaan Bupati yang luar biasa. Cuma masalah anggaran perlu dikaji. Agar tidak ada temuan, lebih baik mengingatkan dari awal,” ujar Ngurah Arya usai rapat Penyampaian Paparan Detail Pemanfaatan Rencana Pinjaman Daerah dan Program Kegiatan Strategis Tahun Anggaran 2026, Senin, 22 September 2025.
Menurut Ngurah Arya, seluruh fraksi di DPRD Buleleng mendukung penggunaan Rp150 miliar pinjaman daerah untuk peningkatan RSUD Buleleng. Namun, ia berharap sisa Rp50 miliar lebih diarahkan pada pembangunan infrastruktur jalan dan pertanian yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi rakyat.
“Sisanya lagi 50 miliar. Kan bisa untuk masalah jalan ekonomi dan sebagainya. Kan bisa digunakan lingkar tani dan sebagainya. Sehingga tidak mengurangi juga keinginan Pak Bupati. untuk membangun Kantor Bupati mengembalikan seperti tempoh dulu. Sudah dianggarkan 25 miliar, kan selesai,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menjelaskan bahwa penataan Kantor Setda dilakukan untuk memperindah kawasan pemerintahan. Hal ini karena terdapat bangunan tua yang posisinya dinilai tidak sesuai secara etika dan tata ruang.
“Di sebelah barat. yang gedung yang timur nanti tidak ada dia. Jadi murni wantilan, pura parkir di sana aja. Gedung-gedung itu satu gedung semuanya. Artinya nanti yang di sebelah timur itu diratakan, dibangun ulang. Secara kita, secara Bali kan kurang bagus, karena di atas pura ada toilet,” terangnya.
Ia menyebut, gedung yang akan ditata sudah berusia sekitar 40 tahun. Nantinya, gedung yang berada di dekat Padmasana akan dihilangkan untuk dijadikan area parkir, sementara gedung lainnya akan diratakan dan dibangun ulang agar lebih sesuai dengan etika budaya Bali.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

