Singaraja, koranbuleleng.com| Kala itu, Senja kata tren anak-anak sekarang menyebutnya, hari Sabtu, 1 November 2025. Seorang perempuan muda melangkah, menuju belakang panggung RTH Taman Bung Karno, Sukasada. Namanya adalah Luh Putu Sensa Yudiantini mahasiswa Institut Mpu Kuturan (IMK).
Sejak tiba di belakang panggung, Sensa, begitu ia dipanggil terlihat mondar-mandir, bibirnya nampak komat-kamit, seesekali dahinya nampak mengkerut, seolah ia sedang berusaha mengingat sesuatu. Ya, Sensa saat itu memang sedang mempersiapkan diri. Memaksimalkan diri untuk tampil dalam pemilihan Green Youth Bali 2025. Sebuah ajang bergengsi yang melahirkan duta-duta lingkungan muda Pulau Dewata.
Sebelum tampil dalam Grand Final di Taman Bung Karno, Sensa Yudiantini sudah mengikuti berbagai tahapan. Ia melewati tahapan administrasi, ujian tertulis, wawancara, hingga enam kali sesi karantina yang melelahkan. Namun bagi Sensa, proses itu bukan beban, melainkan ruang untuk belajar.
“Setiap tahap adalah proses belajar. Saya tidak menyiapkan strategi khusus, hanya berusaha hadir dengan hati dan menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri,” ujarnya dengan senyum lembut.
Hingga kemudian, penampilannya dalam grand final malam itu mampu memukau dewan juri yang melakukan penilaian. Melalui beberapa proses presentasinya di atas panggung yang juga disaksikan oleh ratusan penonton saat itu, namanya kemudian diumumkan sebagai pemenang. Matanya nampak berair, berkaca-kaca sebagai bentuk rasa haru, rasa syukur dan luapan kebahagiaannya.
“Saat itu yang terbayang hanya perjalanan panjang, bagaimana saya belajar, gagal, lalu bangkit lagi. Kemenangan ini bukan akhir, tapi awal untuk berbuat lebih banyak bagi bumi,” tutur mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar itu.
Namun, kisah Sensa bukan sekadar tentang lomba. Ia adalah tentang kesadaran yang lahir dari pengalaman pahit. Beberapa bulan sebelum kompetisi, Bali diguncang banjir besar. Air sungai meluap, jalan tertutup air, dan sampah plastik menumpuk di mana-mana. Dari kejadian itu, Sensa menemukan panggilannya.
“Saya melihat sendiri betapa parahnya dampak sampah yang tidak dikelola. Saat itulah saya sadar, krisis lingkungan bukan isu jauh. Ia ada di depan mata kita,” katanya lirih.
Sejak saat itu, kepedulian Sensa menjelma menjadi aksi. Ia mulai aktif dalam gerakan kampus hijau, ikut menanam pohon dikegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan menginisiasi eco corner kecil di lingkungannya.
Kini, setelah dinobatkan sebagai Duta Lingkungan, Sensa bertekad memperluas gerakannya dengan menggelar clean up day di desa, workshop daur ulang plastik, hingga membangun bank sampah sekolah.
“Kepedulian terhadap lingkungan harus terasa dekat dan penuh makna,” tegasnya.
Baginya, kampus menjadi tempat awal untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. “Institut Mpu Kuturan sangat mendukung gerakan seperti ini. Kami dibiasakan membawa tumbler, mengurangi plastik, hingga menanam pohon di lokasi KKN. Itu bukan sekadar program, tapi pembiasaan hidup hijau,” jelasnya.
Kini, langkah Sensa tak berhenti di lingkungan kampus. Ia ingin menjangkau lebih jauh, menggandeng komunitas muda di desanya untuk bergerak bersama menjaga bumi.
“Saya ingin mengajak lebih banyak orang, bukan untuk sekadar peduli, tapi untuk bergerak. Karena bumi ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi berikutnya,” tutupnya. Rika Mahardika

