Dua Sapi Terindikasi LSD Ditemukan di Gerokgak, Dinas Pertanian Buleleng Lakukan Karantina Desa

Singaraja,koranbuleleng.com| Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng menemukan dua ekor sapi yang terindikasi terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) di wilayah Kecamatan Gerokgak. Temuan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan karantina wilayah guna mencegah meluasnya penyebaran penyakit pada ternak sapi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan informasi terkait potensi masuknya virus LSD di Bali telah diterima pihaknya sejak pekan lalu dari Balai Veteriner Bali (BPFED).

- Advertisement -

“Memang minggu lalu virus LSD ini kita dengar dari laporan BPFED. Waktu itu di Buleleng belum kita temukan adanya serangan,” ujar Melandrat, Selasa, 20 Januari 2026.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Dinas Pertanian Buleleng langsung melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) sekaligus pemantauan lapangan selama tiga hari.

“Hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu kita bergerak. Fokusnya di Gerokgak karena populasinya paling tinggi,” jelasnya.

Namun, pada Senin, laporan baru diterima dari petani setempat terkait dua ekor sapi yang diduga pernah terjangkit LSD. Kedua sapi tersebut diketahui dibeli secara online melalui media sosial Facebook dan berasal dari luar kabupaten.

- Advertisement -

“Ternyata sudah ada masuk dua. Ini sapi yang dibeli lewat online,” ungkap Melandrat.

Dari hasil pengecekan awal, kondisi sapi dinilai sudah membaik dan tidak menunjukkan gejala akut. Namun, sapi itu disebut sudah mau mulai makan. Dimana jika terkena LSD sapi tidak akan mau makan dan malas bergerak.

Meski demikian, bekas bercak pada kulit sapi masih terlihat. “Bercak bekas LSD itu ada. Penyakit ini seperti cacar air pada manusia,” kata dia.

Melandrat menjelaskan, LSD merupakan penyakit virus yang hanya menyerang sapi dan tidak menular ke manusia maupun hewan lain. Penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

“Penularannya banyak melalui nyamuk dan lalat. Penyakit ini muncul di musim hujan karena semak-semak tinggi dan sarang nyamuk banyak,” jelasnya.

Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Dinas Pertanian Buleleng memberlakukan karantina wilayah di desa tempat ditemukannya sapi tersebut. Pemberlakuan ini dilakukan, sampai desa benar-benar steril.

Karantina dilakukan dengan pengawasan ketat oleh Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan). Di Kecamatan Gerokgak, dua dokter hewan ditugaskan khusus untuk pengendalian penyakit.

“Di setiap kecamatan ada puskeswan. Khusus di Gerokgak ada dua dokter hewan,” ujarnya.

Dokter hewan yang melakukan pemeriksaan diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD). Melandrat menegaskan, vaksinasi LSD tidak dilakukan pada sapi yang sudah sakit.

“Vaksin hanya untuk sapi yang sehat. Kalau sakit itu pengobatan,” katanya.

Pengobatan yang dilakukan relatif sederhana dan murah, termasuk upaya tradisional untuk mengusir serangga. Meski tingkat kematian akibat LSD tergolong rendah, penyakit ini tetap berdampak secara ekonomi.

“Risikonya sapi cacat dan itu menurunkan nilai jual,” ungkapnya.

Meski demikian, Melandrat memastikan sapi yang telah dinyatakan sembuh dan mendapat rekomendasi kesehatan masih aman dikonsumsi.

“Kalau sudah sembuh dan ada rekomendasi, bisa. Ini hanya di kulit, tidak di dalam,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru