Singaraja, koranbuleleng.com | Malam menjelang sunyi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, justru meledak dalam kobaran api. Bukan sekadar nyala, tetapi amarah yang dibakar, ego yang dilebur, dan jiwa yang disiapkan untuk memasuki keheningan suci.
Tradisi meamuk-amukan—atau dikenal juga sebagai perang api—kembali menggema di tengah pekatnya malam pengerupukan. Ikatan daun kelapa kering (danyuh) yang terbakar saling diayunkan, memercikkan bara ke udara. Sekilas tampak seperti kekacauan, namun di balik itu, tersimpan makna yang begitu dalam: manusia sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Menariknya, tradisi ini tidak lahir dari catatan lontar atau awig-awig tertulis. Ia tumbuh dari tutur para tetua, diwariskan secara lisan, dan dijaga sebagai ingatan kolektif masyarakat adat. Di sinilah kekuatannya—tradisi ini tidak sekadar dikenang, tetapi benar-benar dihidupkan.


Kelian Desa Adat Padang Bulia, I Gusti Ketut Semara, menegaskan bahwa tradisi yang juga disebut mapuput ini bukanlah luapan emosi tanpa arah. Sebaliknya, ia adalah simbol kesadaran tertinggi untuk mengendalikan diri.
“Melalui tradisi ini, umat Hindu diingatkan bagaimana dalam menjalankan Catur Brata Penyepian harus mampu mengekang hawa nafsu yang dapat mengganggu kekhusyukan Nyepi. Meamuk-amukan ini adalah simbol memadamkan api amarah dalam diri,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.
Di tengah percikan api yang menari liar, terselip pesan sunyi: sebelum dunia dihentikan selama Nyepi, manusia harus terlebih dahulu menaklukkan gejolak batinnya.
Lebih dari sekadar ritual, perang api ini juga menjelma menjadi ruang kebersamaan yang hangat. Tawa, teriakan, dan semangat warga berpadu dalam satu irama, menandai sukacita menyambut Tahun Baru Caka.
“Kita menyambut tahun baru dengan penuh suka cita. Tradisi ini bukan sekadar ngamuk, tetapi wujud kebersamaan masyarakat,” imbuhnya.
Tak heran jika tradisi yang tampak ekstrem ini justru mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Penghargaan itu diserahkan oleh I Wayan Koster kepada Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, dalam penutupan Bulan Bahasa Bali di Denpasar, Sabtu 1 Maret 2025.

Pengakuan itu bukan sekadar sertifikat, melainkan pengingat bahwa api tradisi ini harus terus dijaga agar tidak padam ditelan zaman.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Ini menjadi motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi ini agar tidak punah,” kata Semara.
Di barisan pemuda, semangat itu terasa nyata. Putu Yoga mengaku telah mengikuti tradisi ini sejak SMP. Baginya, luka kecil akibat percikan api bukanlah halangan, melainkan bagian dari perjalanan menjaga warisan leluhur.
“Saya sudah ikut sejak SMP karena ini tradisi turun-temurun. Pernah juga mengalami luka ringan akibat terbakar, tetapi tidak sampai parah,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Putu Gede Susila Mahendra. Baginya, malam pengerupukan tak akan lengkap tanpa perang api yang menyatukan rasa dan jiwa.
“Selain seru, ada rasa kebersamaan yang sangat kuat. Kami sebagai generasi muda bangga bisa melestarikan warisan leluhur ini agar tetap dikenal dan tidak hilang,” pungkasnya.
Di Padang Bulia, api bukan hanya membakar. Ia mengajarkan. Ia menyucikan. Dan pada akhirnya, ia menuntun manusia untuk siap memasuki keheningan Nyepi—dengan hati yang lebih bersih. (*)
Pewarta : Kadek Yoga Sariada

