Rinjani, Loka Samgraha, dan Janji yang Tertunda 25 Tahun

Oleh: I Putu Nova Anita Putra

Mei 2026 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan hidup. Bersama keluarga besar Mapala Loka Samgraha Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), saya mengikuti sebuah ekspedisi menuju Gunung Rinjani, gunung tertinggi kedua di Indonesia yang menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut. Saya sebenarnya hanya “nebeng” dengan mereka.

- Advertisement -

Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Rinjani menawarkan paket lengkap sebuah petualangan. Ada savana yang luas, tanjakan yang menguras tenaga, dinginnya malam di ketinggian, danau vulkanik yang memukau, hingga jalur Torean yang dikenal sebagai salah satu jalur terindah sekaligus paling menegangkan di Indonesia.

Perjalanan dimulai dari pintu gerbang Rinjani di Sembalun. Lalu dengan mobil pick up kami menuju pos ojek di Desa Sajang. Dengan naik ojek saja, petualangan sudahdimulai dengan deg-degan. Jalur setapak ini dilibas dengan mudah oleh tukang ojek setempat, walaupun kami yang dibonceng harus menahan pegal tubuh. Kami sampai di pos 1 pendakian, Kandang Sapi.

Pagi itu langit Lombok tampak bersahabat. Carrier besar berisi logistik dan perlengkapan ekspedisi menempel di punggung masing-masing anggota tim.

Langkah demi langkah mulai meninggalkan perkampungan warga menuju kawasan pegunungan. Hamparan rumput hijau dan punggungan bukit menjadi teman perjalanan. Semangat seluruh anggota tim masih sangat tinggi. Tawa dan candaan masih sering terdengar di sepanjang jalur.

- Advertisement -

Menjelang sore, kami akhirnya tiba di Pelawangan Sembalun. Dari tempat inilah wajah Rinjani yang sesungguhnya mulai terlihat. Danau Segara Anak membiru di dasar kaldera, sementara puncak Rinjani berdiri gagah di hadapan kami.

Malam itu kami beristirahat lebih awal. Summit attack telah menanti.

Sekitar tengah malam, saya bersama Bima dan Agung memutuskan bergerak lebih dahulu dibandingkan anggota tim lainnya. Kami berharap bisa mencapai puncak sebelum matahari terbit.

Namun kenyataan di lapangan jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

Jalur pasir vulkanik Rinjani memang terkenal kejam. Setiap langkah terasa seperti dua langkah. Belum lagi suhu dingin yang menusuk dan angin yang terus berhembus dari arah puncak.

Namun tantangan terbesar malam itu justru bukan medan.

Melainkan rasa kantuk.

Rasa kantuk yang datang benar-benar luar biasa. Tubuh seperti menolak untuk terus bergerak setelah digunakan berjalan sepanjang hari sebelumnya.

Beberapa kali saya, Bima, dan Agung terpaksa berhenti. Bukan karena kehabisan tenaga, tetapi karena mata yang tidak mampu lagi diajak berkompromi.

Kami mencari celah-celah tebing yang aman untuk sekadar merebahkan badan beberapa menit. Di tengah dinginnya malam Rinjani, kami tidur singkat di antara batu-batu besar.

Lalu bangun.

Berjalan lagi.

Tidur lagi.

Dan kembali berjalan.

Begitulah ritme perjalanan menuju puncak malam itu.

Sementara di belakang kami, rombongan utama terus bergerak perlahan. Ada Haji Wahyoedi, pembimbing yang selalu tenang dalam menghadapi berbagai situasi gunung. Ada Rakay selaku “Kepala Suku” Mapala Loka Samgraha yang memimpin tim dalam ekspedisi ini.

Ada Hanna, sang chef gunung yang memastikan urusan perut seluruh anggota tim tetap aman selama perjalanan. Ada Devina yang bertanggung jawab terhadap logistik ekspedisi. Ada Eka Sugiartawan, senior yang sudah kenyang pengalaman mendaki berbagai gunung.

Di antara mereka juga ada Juan, putra terbaik asal Danau Toba yang selalu membawa semangat khas anak Sumatera utara. Ada Resmi, mantan Kepala Suku yang tetap setia mendampingi generasi penerusnya. Ada Suwenten, anak gunung yang sempat bikin bingung orangtuanya karena tidak pamitan menuju alam Rinjani. Oh, ada juga Okta, seorang atlet yang perjalananya cukup stabil selama menyusur trek sepanjang Rinjani.

Dan tentu saja ada Mas Lalu, Seseniornya Mapala Undiksha yang terkenal dengan berbagai cerita mistisnya. Karena itulah ia sering mendapat julukan sebagai penerjemah alam gaib.

Meski berjalan dengan ritme berbeda, tujuan kami tetap sama. Menapakkan kaki di atap Pulau Lombok.

Menjelang pagi, kami masih belum mencapai puncak. Namun justru pada saat itulah Rinjani menghadiahkan salah satu pemandangan terbaik yang pernah saya saksikan.

Ketika tiba di lingkaran cincin puncak, setelah letter E, langit perlahan berubah warna.

Semburat jingga muncul dari balik cakrawala timur.

Matahari perlahan naik membelah lautan awan yang menghampar tanpa batas.

Kami sempat berhenti sebentar.

Tidak ada yang berbicara.

Semua larut dalam keheningan.

Setelah itu, saya berjalan menapak ke atas, perlahan disaksikan cahaya matahari pagi yang baru saja terbit. Sunrise yang selama ini hanya terlihat di media sosial kini hadir langsung di hadapan mata.

Rasa kantuk, dingin, dan lelah seketika terlupakan.

Setelah matahari semakin tinggi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Tidak lama kemudian, kaki kami akhirnya berdiri di titik tertinggi Gunung Rinjani.

Saat itu matahari sudah cukup terik.

Kami memang tidak menikmati matahari terbit dari puncak, tetapi menikmati sunrise dari cincin puncak justru menghadirkan pengalaman yang jauh lebih berkesan.

Seluruh perjuangan sepanjang malam terbayar lunas.

Dari ketinggian 3.726 mdpl, Pulau Lombok terbentang luas. Siluet Bali dan Sumbawa terlihat samar di kejauhan. Gunung Agung yang megah terlihat tanpa halangan. Sebuah pemandangan yang sulit dilupakan.  

Jujur saja, Pendakian kali ini bukan sekadar ekspedisi biasa. Ini adalah perjalanan balas dendam.

Sekitar tahun 2001, ketika masih menjadi mahasiswa, saya pernah datang ke gunung yang sama melalui jalur sama. Saat itu saya mendaki bersama teman-teman kuliah. Semangat kami begitu besar untuk menaklukkan Rinjani.

Namun alam memiliki kehendaknya sendiri. Kami hanya mampu mencapai Pelawangan dan bermalam satu malam di sana. Badai yang datang membuat seluruh rencana summit harus dibatalkan. Demi keselamatan, kami memilih kembali turun menuju Sembalun.

Saat itu saya pulang dengan satu perasaan yang menggantung.

Belum tuntas.

Belum selesai.

Dan selama seperempat abad, perasaan itu tetap tersimpan di suatu sudut ingatan.

Karena itulah ketika kesempatan kembali datang pada tahun 2026, saya tahu perjalanan ini bukan sekadar mendaki gunung, seiring umur sudah meninggi. Bulan Mei kemarin, Saya sedang kembali untuk menyelesaikan cerita yang tertunda selama 25 tahun. Begitulah, setelah 25 tahun, balas dendam terbayar.

***

Setelah summit, kami kembali turun menuju Pelawangan. Rencana awalnya adalah langsung turun menuju Segara Anak. Namun kondisi fisik tim membuat kami memutuskan menambah satu malam lagi di Pelawangan.

Di sinilah drama kecil saya dimulai.

Menjelang malam, perut tiba-tiba terasa mulas luar biasa.

Awalnya saya menganggap hal itu biasa. Namun semakin malam rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.

Saya mulai berpikir berbagai kemungkinan.

Bahkan sempat terlintas untuk kembali turun melalui jalur Sembalun seorang diri dan membiarkan teman-teman lain melanjutkan perjalanan ke Torean.

Namun jauh di dalam hati, saya tidak rela berpisah rombongan.

Obat sakit perut terus saya konsumsi.

Haji Wahyoedi kemudian memberikan beberapa suplemen yang sangat membantu memulihkan kondisi tubuh. Sekitar pukul 23.00 Wita, saya akhirnya menyerah pada keadaan.

Dengan penerangan seadanya, saya mencari lokasi yang paling aman dan jauh dari area perkemahan. Setelah berhasil mengeluarkan segala bentuk “beban” yang mengganggu perut sejak sore, saya hanya bisa mengucapkan satu kata.

Legaaaaaa…

Malam itu saya bisa tidur dengan nyenyak. Dan keesokan harinya, tubuh kembali segar seperti tidak pernah mengalami masalah apa pun. Peregangan otot menuju Danau dilakukan dengan normal, sambil tertawa dan menikmati udara Rinjani.

Perjalanan menuju Danau Segara Anak kemudian dimulai.

Jalur turun dari Pelawangan benar-benar menguji nyali dan konsentrasi. Medannya sangat terjal. Bebatuan kering terlihat kokoh, tetapi banyak yang licin dan bergoyang saat diinjak.

Tali-tali bantuan memang tersedia di beberapa titik. Namun itu tidak membuat perjalanan menjadi mudah. Carrier besar yang masih kami bawa memaksa setiap langkah dilakukan dengan penuh perhitungan.

Salah pijak sedikit saja bisa berakibat fatal. Sebelum mencapai Segara Anak, kami sempat beristirahat di sebuah shelter. Dari tempat itu, perjalanan menuju danau tinggal sekitar tiga puluh menit lagi. Saat duduk memandang kaldera yang luas, saya kembali menyadari satu hal.

Rinjani selalu menegangkan.

Namun pada saat yang sama, Rinjani juga sangat indah. Ketika akhirnya tiba di Danau Segara Anak, rasa lelah langsung terbayar. Air danau berwarna biru kehijauan tampak tenang di tengah kaldera raksasa.

Namun ada pemandangan yang membuat saya tersenyum. Beberapa anggota tim justru langsung mengeluarkan alat pancing.

Tenda belum berdiri, tetapi aktivitas memancing sudah dimulai. Seolah-olah ikan di Segara Anak jauh lebih penting daripada tempat tidur malam itu.

Dan memang harus diakui, kawasan yang dipercaya sebagai kawasan suci Dewi Anjani ini seperti menyediakan berkah bagi siapa saja yang datang.

Ikan cukup mudah didapat.

Sayangnya, saya juga melihat beberapa pendaki yang terlalu berlebihan saat memancing. Karena terlalu asyik, hasil tangkapan menjadi berlebihan hingga sebagian ikan akhirnya mati sia-sia dan dibuang di bibir danau.

Pemandangan seperti itu tentu sangat disayangkan. Alam sudah memberikan begitu banyak. Sudah seharusnya manusia mengambil secukupnya. Menjelang senja, tenda-tenda akhirnya berdiri. Sebagian anggota tim mulai memasak.

Sebagian lainnya menikmati pemandangan matahari sore yang perlahan tenggelam di balik tebing kaldera.

Kami kemudian makan bersama.

Sederhana, tidak mewah namun terasa luar biasa nikmat.

Saya sendiri memilih makan secukupnya saja. Pengalaman sakit perut di Pelawangan membuat saya lebih berhati-hati. Yang penting energi kembali terisi untuk perjalanan panjang menuju Torean keesokan harinya.

Dan benar saja.

Perjalanan menuju Torean menjadi penutup sempurna ekspedisi ini. Lembah hijau, sungai jernih, tebing-tebing raksasa, hingga air terjun yang muncul di sela dinding pegunungan menemani langkah kami.

Namun saat tiba di kawasan Kebun Jeruk, hari mulai gelap. Demi keselamatan seluruh anggota tim, kami memutuskan mendirikan tenda dan bermalam satu malam lagi.

Pagi berikutnya, perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya kami tiba di pintu keluar Torean. Lima hari empat malam ekspedisi ini pun berakhir. Namun Rinjani meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar cerita perjalanan.

Ia mengajarkan tentang kebersamaan.

Tentang kesabaran.

Tentang perjuangan.

Dan tentang bagaimana manusia selalu memiliki alasan untuk kembali mencintai alam.

Karena pada akhirnya, puncak hanyalah bonus.

Sementara perjalanan dan orang-orang yang berjalan bersama di dalamnya adalah cerita yang akan selalu dikenang sepanjang hidup. (*)

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru