Ketika Filter Tak Lagi Sekadar Fitur, tetapi Menjadi Budaya Baru Generasi Z

Singaraja, koranbuleleng.com | Sebelum sebuah foto atau video tampil di Instagram maupun TikTok, ada satu kebiasaan yang nyaris tak pernah terlewat bagi sebagian Generasi Z, memilih filter. Bukan hanya untuk mempercantik wajah, filter kini menjadi bagian dari proses menciptakan tampilan yang dianggap lebih menarik sebelum dibagikan ke media sosial.

Mulai dari mengatur pencahayaan, memilih efek warna, hingga menghaluskan tampilan wajah, semua dilakukan hanya dalam hitungan detik. Apa yang dulu sekadar fitur pelengkap, kini perlahan berubah menjadi bagian dari gaya hidup digital yang akrab dengan keseharian anak muda.

- Advertisement -

Bagi Dayu Komang Wahyu Pradnyan, kebiasaan menggunakan filter sudah menjadi sesuatu yang berjalan begitu saja tanpa perlu dipikirkan lagi. Menurutnya, hampir setiap kali berswafoto, terutama menggunakan kamera TikTok, tangannya secara otomatis akan memilih filter sebelum mengambil gambar.

“Relate sih, apalagi kalau selfie. Rasanya ada yang kurang kalau enggak pakai filter, terutama filter di TikTok. Menurut saya, sebagian besar bukan karena insecure, tetapi memang sudah jadi kebiasaan. Begitu buka kamera, otomatis langsung pilih filter,” ujar Dayu.

Ia mengatakan, di lingkungan pergaulannya penggunaan filter bukan lagi sesuatu yang dipersoalkan. Justru, filter dipandang sebagai bagian dari kreativitas dalam membuat konten di media sosial.

“Di lingkungan pergaulan saya juga enggak ada yang ngejek kalau pakai filter, kecuali memang hasilnya berlebihan sampai wajahnya putih banget seperti kapur. Bahkan sudah pakai makeup pun masih banyak yang tetap memakai filter. Tujuannya bukan mengubah wajah, tetapi karena efek filter bikin tampilan jadi lebih smooth,” katanya.

- Advertisement -

Menurut Dayu, perkembangan teknologi membuat kebiasaan tersebut semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kini, bukan hanya aplikasi media sosial yang menyediakan filter, tetapi juga kamera bawaan telepon pintar hingga teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu mengedit foto secara otomatis.

“Sekarang kamera bawaan handphone juga sudah punya efek yang bikin hasil fotonya lebih bagus. Misalnya di iPhone, ada fitur-fitur yang memang bikin tampilan lebih estetik. Jadi bukan cuma filter di TikTok atau Instagram,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Dayu, penggunaan filter kini telah berkembang menjadi kebutuhan dalam aktivitas digital sehari-hari. “Kalau dari sisi psikologis, mungkin sekarang sudah masuk kebutuhan sehari-hari. Bukan cuma filter wajah, tapi juga edit warna foto, background, sampai sekarang ada AI yang bisa otomatis mengedit foto. Menurut saya, justru AI ini jauh lebih canggih karena hasil editannya bisa mengubah foto secara instan,” tuturnya.

Fenomena tersebut mendapat perhatian Akademisi Institut Mpu Kuturan, Dr. I Putu Mardika, S.Pd., M.Si. Menurutnya, apa yang dilakukan Generasi Z bukan sekadar mengikuti tren, melainkan mencerminkan perubahan budaya komunikasi yang lahir seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Generasi Z lahir dan tumbuh bersama teknologi digital. Wajar apabila media sosial menjadi bagian dari budaya mereka dalam berinteraksi. Filter kemudian berkembang bukan sekadar alat untuk memperindah foto, tetapi menjadi medium yang digunakan untuk menyampaikan bagaimana mereka ingin dikenal dan dipersepsikan oleh orang lain,” ujar Mardika.

Dekan Fakultas Dharma Duta Institut Mpu Kuturan itu menjelaskan, identitas seseorang kini tidak hanya dibentuk melalui interaksi di dunia nyata, tetapi juga melalui ruang digital. Karena itu, media sosial telah menjadi ruang baru bagi generasi muda untuk menampilkan versi diri yang ingin mereka perlihatkan kepada publik.

Meski demikian, Mardika mengingatkan agar budaya digital tidak menggeser makna autentisitas diri. Menurutnya, penggunaan filter merupakan bagian dari kreativitas, selama tidak membuat seseorang bergantung pada pengakuan yang dibangun dimedia sosial.

“Yang perlu dijaga bukan soal menggunakan atau tidak menggunakan filter, tetapi bagaimana generasi muda tetap memiliki kesadaran bahwa identitas digital hanyalah salah satu cara berekspresi. Jangan sampai seseorang merasa berharga hanya ketika tampil sesuai standar yang dibangun media sosial,” katanya.

Ia menambahkan, derasnya perkembangan teknologi, termasuk kehadiran AI yang mampu memodifikasi foto secara instan, menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan dalam membangun literasi digital.

“Budaya digital akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Karena itu, yang harus diperkuat adalah karakter dan literasi digital. Ketika seseorang memiliki fondasi nilai yang baik, ia akan mampu menggunakan media sosial sebagai ruang berkarya dan berkolaborasi, bukan sekadar mengejar validasi sosial,” imbuhnya.(*)

Kontributor: Rika Mahardika

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru