Singaraja,koranbuleleng.com| Pemerintah Kabupaten Buleleng resmi menetapkan Praja Mandala Singa Ambara Raja sebagai nama kawasan Titik Nol Kota Singaraja. Penetapan ini menandai lahirnya identitas baru ikon kota setelah melalui sayembara yang diikuti 868 peserta dari seluruh Kabupaten Buleleng.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, sayembara penamaan resmi ditutup pada Selasa, 28 Juli 2026 malam. Dari ratusan usulan yang masuk, Praja Mandala Singa Ambara Raja dipilih sebagai nama terbaik.
“Yang terpilih adalah nama Praja Mandala Singa Ambara Raja,” ujar Sutjidra, Rabu, 29 Juli 2026.
Nama tersebut merupakan karya Kadek Dika Wirawan, mahasiswa Institut Mpu Kuturan Singaraja. Sebagai pemenang, ia berhak menerima hadiah Rp5 juta yang akan diserahkan pada rangkaian Buleleng Festival 2026, Agustus mendatang.
Sutjidra menjelaskan, penetapan nama tidak hanya mempertimbangkan kreativitas, tetapi juga nilai sejarah dan budaya. Seluruh usulan terlebih dahulu dikaji oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng bersama tokoh masyarakat serta tokoh puri.
“Usulan nama dari ratusan peserta dikaji oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama tokoh masyarakat dan tokoh puri,” jelasnya.
Menurutnya, Praja Mandala Singa Ambara Raja mengandung filosofi sebagai pusat pemerintahan yang berwibawa dengan semangat kepemimpinan Panji Sakti yang visioner, kuat, dan mengayomi masyarakat.
“Nama ini memiliki filosofi sebagai pusat pemerintahan yang berwibawa, berlandaskan semangat kepemimpinan Panji Sakti yang visioner, kuat, dan mengayomi masyarakat,” katanya.
Nama tersebut mulai digunakan bersamaan dengan peresmian kawasan Titik Nol Kota Singaraja pada Rabu, 29 Juli 2026. Penataan tulisan nama di kawasan itu masih akan disesuaikan dengan konsep estetika ruang publik.
“Nanti penempatannya kami atur lagi. Kami serahkan kepada yang lebih memahami agar terlihat indah dan sesuai kepatutannya,” ujar Sutjidra.
Ke depan, kawasan Titik Nol Singaraja akan dioptimalkan sebagai ruang publik yang hidup melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, termasuk penampilan kelompok musik Suara Senja bersama musisi asal Buleleng.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

