Tiga Anak Meninggal Suspek Rabies di Buleleng

Singaraja, koranbuleleng.com| Tiga anak di Kabupaten Buleleng meninggal dunia dengan diagnosis suspek rabies sepanjang Januari hingga 9 Agustus 2026. Ketiganya memiliki riwayat gigitan anjing, tetapi tidak segera mendapatkan penanganan medis maupun vaksin anti-rabies (VAR).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng, Sucipto, mengungkapkan tiga korban masing-masing berusia 9 tahun, 13 tahun, dan 7 tahun.

- Advertisement -

“Pada tahun 2026 ini, sampai 9 Agustus ada tiga kasus kematian suspek rabies,” ujar Sucipto, Senin, 10 Agustus 2026.

Kasus pertama terjadi pada Maret 2026. KJP, anak berusia 9 tahun asal Kecamatan Sawan, memiliki riwayat digigit anjing liar. Namun, keluarga tidak melaporkan kejadian tersebut ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dua bulan kemudian, kasus serupa terjadi di Kecamatan Busungbiu. KS (13) digigit anjing peliharaan pada Juni 2026. Anjing tersebut dibunuh setelah menggigit korban, tetapi KS juga tidak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh penanganan.

Kasus terbaru menimpa GEW (7), warga Desa Bubunan, Kecamatan Seririt. Bocah tersebut meninggal dunia di RSUD Buleleng pada Jumat, 7 Agustus 2026 setelah mengalami gejala yang mengarah pada rabies.

- Advertisement -

GEW sebelumnya digigit anjing lokalpada bagian betis kaki kiri sekitar awal Juni 2026. Anjing tersebut kemudian dibunuh dan dikubur. Persoalannya, setelah gigitan terjadi, korban tidak dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan VAR.

Kondisi GEW mulai memburuk pada awal Agustus. Saat menjalani pemeriksaan, korban mengalami takut terhadap air, takut terhadap angin, terus mengeluarkan air liur, sensitif terhadap cahaya hingga mengalami kegelisahan.

“Di RSUD Tangguwisia dilakukan pemeriksaan dan pasien didiagnosis suspek rabies. Kemudian dirujuk ke RSUD Buleleng,” ujar Sucipto.

GEW tiba di RSUD Buleleng sekitar pukul 15.30 Wita. Sekitar dua jam berselang, nyawa bocah tersebut tidak tertolong dan meninggal dunia di IGD.

Kematian tiga anak tersebut terjadi ketika kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) masih tinggi di Buleleng. Dinkes Buleleng mencatat 4.927 kasus GHPR hingga 9 Agustus 2026. Dari jumlah itu, sebanyak 3.648 pasien telah mendapatkan VAR.

Anjing menjadi sumber gigitan paling dominan. Sebanyak 4.012 kasus atau sekitar 81 persen GHPR disebabkan oleh anjing. Kemudian kucing sebanyak 886 kasus atau 18 persen, monyet atau kera 20 kasus, dan hewan lainnya 11 kasus.

Kasus GHPR tercatat 916 kasus pada Januari, 650 kasus pada Februari, 828 kasus pada Maret, 700 kasus pada April, 581 kasus pada Mei, 684 kasus pada Juni, 501 kasus pada Juli, dan 67 kasus hingga 9 Agustus.

Data tersebut menunjukkan bahwa risiko rabies masih menjadi persoalan serius di Buleleng, terutama ketika masyarakat tidak segera membawa korban gigitan ke fasilitas kesehatan.

Dinkes meminta setiap gigitan maupun cakaran hewan yang berpotensi menularkan rabies tidak dianggap sepele.Luka harus segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir. Setelah itu, korban wajib segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan, termasuk pertimbangan pemberian VAR.

“Jangan menganggap remeh gigitan hewan penular rabies. Segera laporkan ke fasilitas kesehatan,” kata Sucipto.

Kasus GEW di Desa Bubunan juga menjadi perhatian karena anjing yang menggigit korban sebelumnya disebut telah menyerang sejumlah warga.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan vaksinasi rabies telah dilakukan di wilayah tersebut pada Juni 2026. Sebanyak 430 ekor anjing divaksin setelah terjadi serangkaian gigitan terhadap warga.

“Sebenarnya pada bulan Juni kita sudah melaksanakan vaksin rabies atas kejadian yang sama. Jadi sebenarnya anjing ini menggigit sudah 7 orang sampai ke anak ini,” ujar Melandrat.

Enam warga yang sebelumnya menjadi korban gigitan disebut telah mendapatkan VAR. Namun, anjing yang menggigit mereka tidak berhasil ditemukan. Anjing tersebut diduga bersembunyi di sebuah gudang di lokasi tempat ayah GEW bekerja.

Hewan itu kemudian diduga menggigit GEW ketika bocah tersebut diajak ayahnya ke lokasi tersebut. Setelah menggigit korban, anjing itu langsung dibunuh oleh ayah GEW. Akibatnya, petugas tidak sempat mengambil sampel untuk pemeriksaan.

“Anjing ini langsung dibunuh oleh si bapak, gigitan ke anak ini tidak dilaporkan. Jadi kita tidak sempat ambil sampel anjing tersebut,” kata dia.

Distankan Buleleng menyatakan upaya pencegahan rabies terus dilakukan melalui Puskewan di masing-masing kecamatan.Vaksinasi dilakukan dengan menyasar desa-desa. Pemerintah juga mendorong sterilisasi hewan penular rabies (HPR) sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat.

“Kita sudah lakukan edukasi termasuk vaksin sudah. Kedepan kami-kami akan terus melakukan langkah-langkah, bersama seluruh stakeholder bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas yang terus melakukan langkah-langkah yang sama dengan kita. Jadi mengedukasi, memberi informasi, ber- berkoordinasi juga ke desanya,” ucapnya.

Namun, cakupan vaksinasi anjing masih menjadi tantangan. Data Distankan Buleleng hingga 6 Agustus 2026 mencatat baru 21.973 ekor anjing atau 31,91 persen dari total populasi 68.748 ekor yang telah mendapatkan vaksin rabies.Pada periode yang sama tercatat 118 kasus rabies pada hewan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 82 kasus dinyatakan positif rabies.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru