More

    Teknologi Termokromik Cadas Buatan Alternatif Pengganti Batu Cadas

    Singaraja, koranbuleleng.com|  Kebutuhan bahan baku batu alam atau batu cadas untuk memenuhi kebutuhan kerajinan ukiran di Bali semakin meningkat. Peningkatan kebutuhan ini seiring dengan naiknya permintaan ukiran dengan nuansa arsitektur Bali bahan batu cadas juga meningkat.  

    Disisi lain, isu kelestarian lingkungan daerah aliran sungai (das) dan perbukitan sebagai sumber utama penghasil cadas alam menyebabkan ketersediaan bahan baku semakin langka dan mahal. Di tengah hal ini, akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menawarkan solusi alternatif berupa penerapan teknologi tepat guna cadas termokromik buatan.

    Beberapa akademisi Undiksha, I Gede Putu Banu Astawa, M.T., M.Ak, I Made Ardwi Pradnyana, S.T., M.T dan Dr.rer.nat. I Wayan Karyasa, S,Pd., M.Sc. mengaplikasikan teknologi inovasi itu di Industri Kerajinan Cadas Silakarang Di Desa Singapadu Kaler Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar, diantaranya Nata Loka Arts dan Saka Bali Arts.  

    Ketua tim, Banu Astawa menjelaskan penerapan teknologi cadas tiruan dengan sistem moulding dan casting ini dengan campuran bahan-bahan yang mudah diperoleh, yaitu pigmen termokromik dari limbah pengolahan batu cadas Abasan, abu vulkanik Gunung Agung yang kertersediaan masih melimpah, dan nanokomposit silika-karbon dari abu sekam padi.

    “Pengusaha industri kerajinan cadas ini mengalami penurunan omzet dan kerugian yang sangat berarti semenjak pandemi Covid-19 terjadi. Mereka membutuhkan teknologi yang tidak saja meningkatkan kualitas dan produktivitas tetapi juga membangkitkan kembali kejayaan kerajinan cadas Bali,” jelasnya, Minggu  29 Nopember 2020.

    Program ini didanai oleh Direktorat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Jendera Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset dan teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN).

    Selain bahan baku, lanjut Banu, para perajin juga terbelit persoalan dalam hal pemasaran produk sebagai dampak pandemi COVID-19. Kondisi demikian menggiring para perajin beralih profesi. “Kami juga mencoba memberikan solusi untuk persoalan ini. Kami tawarkan perbaikan rencana bisnis berbasis data digital dengan sistem akuntansi berkelanjutan,” terangnya.

    Hasil dari program ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para perajin di era pandemi, dan mampu mengembalikan kejayaan industri kerajinan cadas Silakarang dengan sentuhan inovasi-inovasi hasil riset akademisi perguruan tinggi. “Saat ini, sudah ada beberapa produk pandil dan patung yang menggunakan cadas termokromik buatan. Semoga program ini bisa menggeliatkan usaha masyarakat,” pungkasnya. |NP|

    Berita Terpopuler

    Related articles