More

    Labirin Kehidupan Putu Ardi

    Kontributor : Wayan Artika

    Di samping sebuah desa, Busungbiu juga berstatus sebagai kota kecamatan. Lokasi  desa yang tepat di jalur Pupun (Tabanan) – Seririt  (Buleleng) sedikit lebih ramai ketimbang desa-desa lain di sepanjang jalan ini, Seperti Desa Bantiran, Subuk, Mayong, dan Rangdu.

    Di jantung desa ini membentang jalan nasional menghubungkan Denpasar-Singaraja melewati Pupuan), dimana dibangun pasar, toko modern ayam goreng, pura terbesar, bank, toko-toko grosir.

    Putu Ardi |FOTO : Wayan Artika|

    Tidak hanya itu, sepanjang jalan yang jadi pusat ekonomi,  warga bebas parkir. Kendaraan tronton pengangkut air dalam kemasan parkir beberapa hari, truk-truk box bongkar muatan di depan toko grosir. Pokonya harus ekstra hati-hati.

    Melewati jembatan di utara desa, menyebrangi sungai curam yang menjadi batas alam dengan Desa Mayong, jalan menanjak dengan sejumlah tikungan. Di sisi kiri dan kanan berjejer warung-warung penjual buah. Ramai jika lagi musimnya, seperti buah kepundung, ceroring, nangka, mangga, dan tentu saja durian.

    Tidak hanya itu, di desa ini, tepatnya di tikungan dekat Penginapan Lebah Sari, di Desa Busungbiu, seseorang setiap hari berkarya disana. Putu Ardi,  dia berkarya dengan “menyulap” kayu-kayu gelondongan jadi patung labirin. Nyaris luput dari perhatian warga setempat dan sorotan media sosial. Bukan saja karena bengkel seni atau studionya tersembunyi juga karena tidak memiliki papan nama.

    Prosespembuatan patung labirin dengan menggunakan gergaji besar |FOTO : Wayan Artika|

    Putu Ardi luput perhatian juga karena masyarakat setempat tidak paham dengan bentuk-bentuk karya seni yang dihasilkan. Bahkan Putu Ardi sendiri tidak dapat memberi penjelasannya. “Saya tidak tahu apa namanya. Yang penting saya buat seperti ini.” katanya.

    Di bengkel seninya ia bekerja dengan hanya dua tenaga kerja yang seorang adalah mantan “muridnya” dan yang seorang lagi masih berlatih. Suara gergaji mesin berbagai ukuran menderu sepanjang hari.

    Putu Ardi sebagian besar bekerja menggunakan gergaji mesin dan beberapa peralatan lainnya yang juga digerakkan mesin. Tidak ada perlatan ringan separti pahat, perlatan seniman patung pada umumnya. Kerja dengan perlatan tersebut sangat berisiko. “Karena itu saya tidak bernai menerima mahasiswa magang. Sangat berbahaya.”

    Kisahnya dimulai ketika ia menjadi pekerja urban di Denpasar. Secara tiba-tiba ia mengerjakan patung seperti saat ini. Lalu menraik bosnya, orang Jepang. Patung-patung yang tidak pernah diberinya nama itu sukses memasuki pasar luar negeri.  Karena suatu faktor dia kembali ke desa.

    Dari desa ini ia berkarya dan menghasilkan patung-patung supermodern yang tak ada jejaknya dalam seni patung Bali karya siapapun, termasuk Tjokotisme yang ditemukan oleh Maestro I Njoman Tjokot. Ukuran patungnya spektakuler, rata-rata di atas satu meter dengan diameter hampir satu meter.

    Melihat karya-karya Putu Ardi dan dua seniman lainnya, terasa sedang menelusuri lorong di taman labirin. Tekstur kayu bercerita sebuah perjalanan dalam ekologi pohon-pohon raksasa purba. Putu Ardi tidak bekerja seperti tukang yang mengikuti pola yang telah dirancang oleh pemesan atau semata-mata patuh pada pakem seni rupa.

    Dia memahat jalan labirin dalam tubuh bongkahan kayu gelondongan berusia ratusan tahun, yang mungkin tumbang karena banjir musim hujan atau pemiliknya harus menggusur pohon tersebut dari kebunnya karena dianggap menggagu tumbuhan di bawahnya. “Saya tidak bisa membuat karya yang sama.” katanya.

    Ia bertutur pernah sampai lima tahun belum berhasil memenuhi pesanan beberapa patung yang sama. Baginya setiap patung yang sedang ia garap adalah sebuah pergulatan. Imajinasinya bekerja dengan baik dan penuh tantangan selama proses pengerjaan dan secara kinestetik, daya imajinasinya itu lahir dalam gerakan gergaji mesin untuk membuka senti-demi senti tubuh kayu yang sedang memberi berbagai kemungkinan sebuah perjalanan yang “menyesatkan”.  Putu Ardi tampaknya tidak pernah sanggup keluar dari labirin yang ia ciptakan sendiri. Pada setiap karya patungnya adalah labirin-labirin kehidupan yang selalu mengurungnya.

    Sisi lain seniman Bali adalah terjerat dalam rantai ekonomi. Putu harus membiayai kelurga dan menggaji dua senimannya yang turut serta di bengkel. Karena itu, pemasaran karyanya diserahkan kepada pihak kedua di Denpasar. “Karya-karya ini masih harus diselesaikan menurut standar internasional dan harganya akan melambung tinggi.” kata Putu Ardi.

    Setiap karya yang sudah jadi  (yang sesungguhnya masih memasuki tahap akhir) langsung dikirim ke Denpasar. Setelah itu, ia tidak lagi memiliki hak atas karyanya. Putu Ardi tidak pernah mencantumkan namanya pada setiap ciptaannya. Mungkin juga, karyanya diambil alih oleh seniman atau perusahan lain. Namanya diganti begitu saja. Dunia seni patung pun tidak pernah mengenal nama Putu Ardi, si Pemahat Labirin dari Desa Busungbiu.  

    Menurut Putu Ardi, beberapa pemesannya tahu cirri khas karyanya. Mereka biasanya secara khusus memesan namun masih tetap melalui pihak kedua karena patung masih harus memasuki tahap finishing.

    Dari tutur katanya, saat Kontributor koranbuleleng.com  mampir di bengkel seninya Sabtu 15 Mei 2021,  tampak Putu Ardi memiliki kesetiaan seorang pematung, sebagai seniman-seniman besar lainnya. Ia berkaya dengan gergaji mesin yang penuh risiko, menangkap rahasia bongkahan kayu, membuka setiap jalan labirin yang sudah pasti akan menjeratnya, bukan karena ia membtuhkan pekerjaan. Ia bekerja pada keterasingan-sunyi seorang seniman. Syukur kini ada dua rekannya yang turut bekerja di bengkelnya. Setidaknya, dia punya teman berbagi imajinasi, di bawah tanah kontrak yang rindang sambil nyiup kopi.

    Ia bergeming pada karya labirinnya dan menabur kesetiaan di sana. Dalam kondisi bohemian seorang pematung seperti dirinya yang “bersembunyi” di desa, berkarya pada bengkel tanah kontrakan, yang tiada bernama, memang kehadiran perusahan yang menjamin membeli karya-karyanya, sungguh jadi energi ekonomi yang mahahebat, energi untuk menghidup keluarganya. Putu Ardi tetap terkurung dalam labirin pohon namun cukup realistis karena ia dikeliringi oleh keluarganya. (*)

    Berita Terpopuler

    Related articles