More

    Kenangan dan Harapan dari Sebuah Resort

    Mangku Kari |FOTO : Wayan Artika|

    Pagi berat dan kelam oleh mendung di atas Taman Ujung, Kamis 24 Juni 2021. Alunan adzan subuh baru saja lewat, dari masjid di Desa Kecicang. Dari lobi Resort dan SPA Taman Surgawi, laut masih samar halimun dan semalaman suara ombak begitu lembut menemani istrirahat beberapa tamu yang menginap.

    Namun demikian, Komang Mangku Kari (64 tahun) memulai kesibukan yang telah ia jalani di resort bintang 3 ini sejak hampir seperempat abad silam. “Tiyang sampun kirang langkung 23 taun driki.” Katanya di awal percakapan dengan I Wayan Artika dari Koran Buleleng.com yang juga menjadi salah seorang dari hanya belasan tamu yang juga menginap di sini. Tentu tingkat hunian yang tidak pernah terbayangkan di benak Komang.

    Saat chek in sehari sebelumnya, senja mendung namun sinar matahari menerpa permukaan laut Ujung. Dari lobi para tamu leluasa menikmati kaki langit menghampar laut dan merangkul deru angin ke lereng, tempat resort ini dibangun oleh arsitek Puri Karangasem yang tenar di dunia internasional. Kolam renang berkilau biru muda, jernih dan menggoda. Dari pintu kamar 103 juga masih tampak kemilau senja yang dipendarkan Kristal-kristal air.

    Aroma dupa tercium di areal lobi. “Sekadi niki sampun mangkin kawentenan hotel e” Komang Mangku Kari mengajak duduk, membelakangi panorama laut Ujung yang pagi ini masih gelap. Di lobi inilah kenangan dan harapan itu menjadi cerita yang mungkin sangat jarang dituturkan. Terasa lebih menusuk hati ketika kenangan dan harapan itu ibarat mendung keputusasaan dan ketidakpastian.

    Dumun tiang polih kalih yuta, mangkin wantah 300.” Katanya dengan sangat jujur. Bagi Mangku Kari, gaji sejumlah itu, tentu adalah anugerah ketika hampir separuh lebih karyawan resort ini dirumahkan. Mangku kari tetap masih memiliki harapan dan tentu saja kenangan, jauh dalam hari-hari indah di Dusun Tumbu, lokasi resort ini, sebelum pandemi melanda dunia dan melumpuhkan satu-satunya andalan ekonomi Pulau Bali, pariwisata.

    Salah satu sudut hotel dengan ornamen yang sangat unik

    Rasa syukurnya mungkin harus ditebus dengan setiap dedikasi dan kesetiaan spiritual kepada para dewa yang bertempat tinggal di areal resort. “Malih jebos tiyang ngaturang wedang.” Katanya lagi untuk menjelaskan bahwa kesetiaan doa dan persembahan tiada boleh surut walau kali ini para dewa tidak bisa melimpahkan rezeki kepadanya dan juga kepada karyawan resort lainnya.

    Mangku Kari memulai hari subuh dingin di sini, dari lobi ke seluruh palinggih di areal resort. Satu per satu canang, semangkuk kopi, jajan, segehan, dan tentu saja dupa dipersembahkan pada setiap palinggih. Mulutnya berat dan kazim ujaran doa yang terrafalkan. Mungkin Mangku Kari-lah yang paling paham akan kedalaman mantra atau doa-doanya. Hanya dari hatinya yang tulus, harapan-harapan perbaikan keadaan dikumandangkan melewati jalur angin menerbangkan sayap-sayap asap dupa. Sujud ketulusan dan segala harapan itu, seperti dipertegas oleh kuntum-kuntum kamboja emas yang berserak di jalan-jalan resort menuju setiap kamar, yang tengah terkunci, berdebu, dan taman-taman depan berandanya tidak sepenuhnya dirawat.

    Sebagaimana hamparan kamboja emas itu, sisa-sisa canang persembahan menghiasi setiap palinggih pertanda doa-doa dan ritual pengharapan atau permohonan, tidak pernah surut. Mangku Kari juga ujung tombak pariwisata Bali. Dengan doa-doa persembahannya, resort ini bergerak dan melimpahi hidup bagi para karyawannya. Itu dulu. Dan pandemi merenggut semuanya. “Dumun nak ten taen sepi, Pak” Lagi-lagi Mangku Kari mengenang. Kenangan ini milik semua orang yang jadi korban wabah covid 19.

    Orang-orang yang dulu berkelindan di sektor ini, kini entah kemana, tercerai-berai. Dengan kenangan. Dengan harapan yang jauh lebih hebat daripada kenangan. Lewat kisah Mangku Kari ada kenyataan besar yang sedang mengguncang Bali. Bali yang menyusui semua kalangan, dari air susu yang bersumber pada ekologi, tata sosial, seni, tradisi, dan lain-lainnya, dari kalangan investor internasional yang kapitalis mengkolonialisasi di zaman pascakolonial atas nama industri pariwisata hingga pedagang kaki lima pecel lele lalapan ayam goreng yang menjadi sahabat para pekerja murahan di sektor ini, termasuk seorang Mangku Kari di dalamnya.

    Cerita (kenangan dan harapan) yang meluncur syahdu dari Mangku Kari di lobi resort ini, ketika ia tengah menanti dauh untuk ngaturang wedang menjadi penuh makna karena menyadarkan betapa eksploitasi pulau ini oleh kapitalisme hampir selama setengah abad juga memberi hidup kepada anak-anaknya sendiri. Uang yang melimpah ruah memang tidak untuk orang Bali, anak-anak yang dilahirkan di pulau ini, para penjaga tradisi, seperti saudara-saudara yang tetap hidup damai di Tenganan Pegringsingan yang menghadapi pariwisata tidak berlebihan, hanya sebagai bonus (Ekspedisi Indonesia Biru) sehingga tiket masuk hanya bersifat sukarela. Hal yang bertolak belakang dengan cara isap kaum kapitalis di sektor pariwisata yang ramah dan penuh senyum.

    Karena itu, goncangan ini sama sekali tidak terasa di Tenganan Pegringsingan. Mereka tetap bergeming dalam hari-hari indah dan hidup dalam iklim tata sosial yang tidak pernah digadaikan kepada kapitalis pariwisata. Sikap itu menjadi benteng yang tak tertandingi oleh kuasa modal kaum investor. Berhadapan dengan Tenganan, kuasa modal tidak berarti apa-apa. Dengan sikap itu, Tenganan Pegringsingan memberi dunia pariwisata secara tulus apa yang indah dalam warisan mereka. Dengan ketulusan ini, Tenganan Pegringsingan memuliakan siapa saja yang datang dari seantero dunia, menjadi kesan mendalam tentang satu titik di Bali ketika adalah semacam antitesis terhadap pariwisata yang tidak bisa dimungkiri sebagai warisan kolonial.

    Pagi itu, 24 Juni 2021, mulai sedikit benderang oleh cahaya matahari yang masih tersembunyi di balik Gunung Rinjani di Lombok. Namun mendung tetap terasa kelam, seperti tengah mewakili perasaan Mangku Kari. Perasaan yang diterima dengan iklas sebagaimana dia melantunkan doa dan mantra dengan tulus pada setiap palinggih di areal Taman Surgawi Resort dan SPA, Karangasem.

    Roda kehidupan tetap bergerak. Anggrek bulan mekar. Papan penunjuk kamar bagi para tamu. Patung di tebing yang curam. Air kolam renang yang jernih memantulkan warna pagi yang kelam. “Bapak mau minum kopi?” Sapa seorang siswi sekolah pariwisata SMK PGRI Amlapura yang sedang training di resort ini, ramah dan mengesankan. Saya harus mengendapkan semua cerita Mangku Kari bersamaan nasi goreng yang lezat dan nikmat di restoran. (*)

    Pewarta  : Wayan Artika  (Redaktur Bahasa)

    Berita Terpopuler

    Related articles