More

    Jalan Niskala Pemangku di Pura Jagat Ponjok Batu

    Jro Mangku Widi|FOTO : Luh Sinta Yani|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Pura Ponjok Batu menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat unik di Buleleng yang terletak di Desa Pacung, Tejakula. Keberadaan Pura Ponjok Batu erat kaitannya dengan sejarah kedatangan Danghyang Niratha yang diangkat sebagai penasehat kerajaan Waturenggong.

    Pura Ponjok Batu merupakan Pura Dang Kahyangan atau penyungsungan jagat. Pura yang berpadu dengan hamparan laut biru memiliki rekaman sejarah yang cukup panjang, sehingga banyak cerita dengan berbagai versi beredar di masyarakat.

    Salah satu folklore yang berkembang di benak warga sekitar bahwa sejarah pura Ponjok Batu yang berkembang sampai saat ini di masyarakat, berasal dari cerita Ida Batara di Bali yang menimbang kawasan Utara Bali dari pura Penimbangan di desa Panji Buleleng, ternyata bagian Timur kawasan ini lebih ringan dibandingkan bagian barat, untuk menyeimbangkannya maka Ida Bhatara berkenan menambahkan tumpukan batu pada sisi Timur, sehingga akhirnya menjadi seimbang, untuk itulah dinamakan Ponjok Batu.

    Dibalik berbagai macam edisi cerita Pura Ponjok Batu, ada hal yang penting untuk menjadi sorotan bersama, yakni mengenai para pelayan umat yang mengabdikan dirinya untuk Pura Ponjok Batu.  

    Pada jaman kaliyuga seperti sekarang, manusia berlomba-lomba mengejar kehidupan duniawi tanpa peduli darimana memperolehnya. Seorang pelayan umat seperti pemangku memiliki tantangan berat karena harus mampu menjadi panutan dan mampu mengendalikan seluruh indirianya, terbebas dari hawa nafsu.  

    Tidak sampai di sana, sebelum mereka sadar bahwa mereka ditunjuk sebagai pelayan umat, mereka benar-benar diberikan cobaan yang cukup berat, mulai dari menderita penyakit yang sulit disembuhkan sampai mengalami titik terendah dalam usaha.

    Seperti yang diceritakan oleh Jro Nengah Widi, pengempon sekaligus pengurus di Pura Ponjok Batu. Berawal dari sang ayah dan sepupunya yang juga menjadi seorang pemangku. Ketika masih kecil, Jro Nengah Widi sempat sakit keras, dan dicarikan obat secara niskala.

    Dikatakanlah bahwa ketika dewasa nanti, dia akan menjadi seorang pemangku. Namun ketika sudah dewasa dan menikah, Jro Widi bingung, kapan dirinya akan menjadi seorang pemangku. Sebuah kejadian saat dia melukat di Pura Beji, Jro Widi melihat seekor ular, dan ular tersebut mendekatinya. Ular tersebut diarahkan ke sebuah goa kecil di sekitaran pura. Anehnya, ketika sudah pulang, ular tersebut berada di depan Jro Widi. Saat itulah, Jro Widi merasa bahwa ini bukan ular biasa. “Padahal waktu itu saya diharuskan untuk ngiring menjadi jro mangku, tapi saya tidak mempedulikannya” ujar Jro Mangku Widi.

    Tahun 1996 Jro Mangku Widi mengalami sakit yang sangat parah sampai tiap hari muntah darah, namun ketika dibawa ke rumah sakit malah tidak ada penyakit dan tidak ada organ yang bermasalah. Jro Widi menuturkan, waktu itu sepupu Jro Widi yang juga seorang pemangku kodal (kerasukan) dan meminta Jro Widi untuk ngiring menjadi pemangku di Pura Ponjok Batu. Jro Widi pun berjanji jika dia diberikan kesembuhan, maka dia akan  melakukan upacara eka jati. Ajaibnya, Jro Widi sembuh dari penyakitnya, dan dia memenuhi janji menjadi seorang pemangku.

    Berbeda versi dari Jro Mangku Suarnatasa Jelantik yang juga menjadi pengempon di Ponjok Batu. Dahulu, Jro Mangku Suarnatasa Jelantik sangat skeptis dengan hal-hal yang tidak terlihat. Semasa muda, dia diberikan kekayaan yang melimpah, memiliki perusahaan besar seperti bengkel mekanik, kontraktor, show room mobil yang berada di Jakarta dan Bali, sampai menjadi seorang atlet pembalap yang sudah melalang buana. Sempat dia mengalami kesakitan sampai muntah darah, namun hingga dibawa berobat ke Singapura, hasil pemeriksaan dia tidak ada penyakit apapun, namun Jro Mangku Suarnatasa Jelantik mengalami koma. “Semasa koma, saya didatangi oleh kakek tua, yang menyuruh saya mengambil air untuk melukat dan minum. Lalu saya diingatkan bahwa pakaian yang harus saya kenakan adalah pakaian putih. Di dalam mimpi saya minum air tersebut, saya langsung sadar dalam koma” tutur Jro Mangku Suarnatasa Jelantik.

    Jro Mangku Suarnatasa Jelantik

    Tapi Jro Mangku Suarnatasa Jelantik lalai terhadap janjinya. Merasa masih muda dan memiliki banyak talenta, dia tidak ingin menjadi seorang pemangku. Akibatnya, dia terus diberikan kesakitan, sampai dia berada di titik nol yang dahulunya seorang milyoner. Jro Mangku Suarnatasa Jelantik sadar bahwa dia memang harus menjadi seorang pemangku di Ponjok Batu. Mulailah dia menjalani hidup yang baru, penuh dengan kesederhanaan dan pengabdian kepada masyarakat. Jro Mangku Suarnatasa Jelantik juga diberikan kemampuan lebih untuk paham terhadap tanda-tanda alam semesta, baik dari kejadian langsung maupun melalui alam mimpinya. (*)

    Pewarta : Luh Sinta Yani

    Editor     : I Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles