Singaraja, koranbuleleng.com | Buku jendela dunia. Begitulah kata-kata bijak yang sering dilontarkan oleh beberapa orang untuk mendeskripsikan buku sebagai sumber informasi untuk memperoleh wawasan. Akan tetapi itu berbanding terbalik saat ini. Banyak orang saat ini jarang menggunakan buku sebagai sumber informasi utama. Melainkan berpindah pada teknologi informasi yang lebih cepat dan praktis.
Kendati memudahkan orang untuk mengakses informasi, hal ini justru membuat peran buku dan media cetak lainnya menjadi tergeserkan. sehingga banyak toko buku yang dulunya ramai pengunjung kini jadi sepi.
Setidaknya itulah yang dirasakan para penjual buku, di Kabupaten Buleleng. Salah satunya Muzahid penjaga toko buku Rhika yang beralamat di Jalan Patimura No. 2 Singaraja. Toko buku yang sudah berumur cukup tua. Terlihat banyak berjejer buku disana. Disana menjual banyak jenis buku. Mulai dari buku pelajaran, novel fiksi, buku agama, buku sejarah hingga buku bergambar untuk anak-anak. Namun lembarannya banyak yang mulai menguning termakan oleh usia.
Zahid mengatakan sudah beberapa tahun ini omsetnya terus mengalami penurunan. Hanya beberapa orang pembeli yang datang untuk mencari buku setiap bulannya. Menurutnya banyak masyarakat saat ini sudah beralih menggunakan gawai canggihnya untuk membaca setiap informasi baik berupa artikel maupun buku digital.
“Saya mulai jaga toko sejak tahun 2006 waktu itu masih ramai orang beli buku, bahkan tiap bulannya bisa habis puluhan tabloid atau majalah. Namun dari tahun 2015 keatas sudah mulai menurun orang yang datang untuk beli buku, internet juga makin canggih. Mungkin karena itu juga makin dikit orang yang baca buku” Ujarnya.
Untuk saat ini rata-rata pembeli di toko bukunya itu kebanyakan mencari buku anak-anak seperti buku bergambar, dan buku dongeng anak. Sedangkan majalah dan koran sudah jarang sekali orang yang mencari, padahal dulu sangatlah laris. Sementara buku-buku lainnya itu kadang-kadang masih ada yang membeli. Apabila kondisi terus seperti ini, bukan tidak mungkin kalau aktivitasnya menjual buku hanya akan bertahan beberapa tahun lagi.
“Harapan kita, namanya jual buku ya pengennya supaya kembali kayak dulu minat bacanya, paling tidak supaya Buleleng tetap bertahan kota pendidikannya” pungkasnya. |WK|

