Singaraja, KoranBuleleng.com| Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat berdampak pada sektor kebudayaan di Kabupaten Buleleng. Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik yang diterima Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Buleleng pada 2026 dipangkas Rp200 juta, dari sebelumnya Rp800 juta menjadi Rp600 juta.
Meski alokasi anggaran berkurang, Disbudpar Buleleng memastikan upaya pelestarian warisan budaya, khususnya perawatan koleksi naskah lontar di Museum Gedong Kirtya, tetap menjadi prioritas.
Kepala Disbudpar Buleleng, I Nyoman Wisandika, mengatakan penurunan DAK nonfisik merupakan konsekuensi dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang berlaku di berbagai sektor.
“Ini memang kebijakan dari kementerian pusat. Bukan hanya di Disparbud, tetapi hampir semua sektor mengalami penurunan anggaran. Bahkan pembinaan dari Kementerian Agama seperti Utsawa Dharma Gita juga ikut terdampak,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Berdasarkan data Disbudpar Buleleng, alokasi DAK nonfisik sempat mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, Buleleng menerima anggaran sebesar Rp600 juta, kemudian meningkat menjadi Rp800 juta pada periode 2023 hingga 2025. Namun, pada 2026 anggaran tersebut kembali turun menjadi Rp600 juta.
Selama ini, DAK nonfisik menjadi salah satu sumber pendanaan berbagai program pelestarian budaya di Museum Gedong Kirtya. Anggaran itu dimanfaatkan untuk penyelenggaraan lomba membaca lontar, lomba berbahasa Bali tingkat SMA/SMK, hingga kegiatan *macecimpedan* bagi siswa sekolah dasar.
Selain pembinaan generasi muda, dana tersebut juga digunakan untuk menggelar pameran budaya, seperti pameran prasi dan pameran obat tradisional. Sebagian anggaran lainnya dialokasikan untuk menjaga kelestarian koleksi lontar yang menjadi salah satu warisan budaya penting di Buleleng.
“Termasuk pengadaan bahan pengawet untuk menjaga kondisi naskah lontar sebagai bagian dari upaya pelindungan warisan budaya,” ucapnya.
Wisandika menegaskan, meskipun besaran DAK nonfisik berkurang pada tahun ini, program pelestarian budaya tidak akan dihentikan. Anggaran yang tersedia tetap difokuskan pada kegiatan prioritas, terutama pemeliharaan koleksi Museum Gedong Kirtya sebagai pusat penyimpanan naskah lontar bersejarah di Buleleng.
Sementara itu, untuk DAK fisik, Disbudpar Buleleng mengaku sudah tidak lagi menerima alokasi anggaran dari pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau tidak salah sejak pak Pj (Pj Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana) sudah tidak dapat,” kata Wisandika.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

