Filamen 3 D Printer dari Botol Bekas Jawara dalam Lomba Teknologi Tepat Guna Nusantara

Singaraja, koranbuleleng.com| Seorang pria bernama Ketut Cana, 33 tahun, berhasil mengembangkan alat untuk mengubah sampah plastik menjadi barang ekonomis dengan printer 3 Dimensi (3D).

Alat yang dikembangkan pemuda itu, berhasil keluar menjadi Juara I Nasional dalam Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Nusantara XXIV Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, dalam kategori inovasi, pada pekan kedua bulan Juni 2023.

- Advertisement -

Di halam rumah Cana, di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng, tampak dua alat tengah dioperasikan. Satu alat digunakan untuk memotong dan membentuk botol plastik, menjadi benang seperti senar atau filamen 3 D. Alat lainnya, merupakan printer 3 D yang digunakan untuk mengubah filamen sampah plastik menjadi barang.

Ada berbagai barang yang telah dihasilkan, seperti patung tokoh, kap lampu, pas bungan, pot bonsai kecil, dan berbagai barang dari olah sampah.

Alat yang dibuat oleh Cana itu, dinamai dengan TrashKleng. Yang diartikan oleh Cana, Trash dalam Bahasa Inggris berarti sampah dan Kleng diambil dari dialek Kling yang sering diucapkan kakeknya berati ingat mengembalikan ke posisi semula. TrashKleng diartikan ingat mengembalikan sampah seperti semula.

Ketut Cana mengatakan, alat tersebut dibuatnya karena kesenangannya dengan teknologi 3 D. Namun, untuk membuat barang 3 D pihaknya harus merogoh kocek untuk membeli filamen yang harganya cukup mahal. Sehingga, dengan bermodalkan Rp2 juta, ia membuat alat yang bisa mengubah botol plastik menjadi filamen. Setelah berhasil mengembangkan inovasi dari idenya, dia kemudian ikut dalam lomba.

- Advertisement -

“Awalnya karena sering bermain di 3 D printer. Melihat sampah botol yang terbuang percuma kita bisa, kayaknya bisa diolah jadi filamen 3 D. Kebutuhan filamen begitu tinggi, dengan harga yg lumayan. Saya coba ide ini, pengolahan limbah botol plastik. Untuk dibuat filamen, untuk cetak 3 D printer. Iseng-iseng awalnya ikut lomba, menang juara satu,” terangnya ditemui Senin, 26 Juni 2023.

Pemuda kelahiran Singaraja, 2 Desember 1989 silam itu mengatakan, jika sebelum berhasil seperti sekarang. Dia sempat gagal beberapa kali, saat awal membuat alat pertama di tahun 2019. Dari kegagalan itu, dia tidak menyerah. Suami dari Putu Tresia Sastra Wiastami, kemudian terus membenahi hasil karyanya melalui ilmu yang dipelajari dari internet. Hasil karyanya itu, kini banyak dipesan oleh penggemar 3 D printer dari luar Bali.

“Saat ini masih kendala di penyambungan. Karena masih manual sambungnya. Kalau pembuatan, tergantung barang yang mau di buat. Kalau satu botol biasanya menghasilkan 11 meter filamen 3 D,” katanya.

Kini bapak tiga anak ini, juga merencanakan untuk membuat filamen 3 D tersebut, tidak hanya menjadi bahan untuk printing 3 D. Cana merencanakan, filamen tersebut bisa dijadikan bahan anyaman pembuat piring pengganti lidi. Pihaknya pun berharap kedepannya bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah desa, maupun pemerintah daerah. Kedepannya teknologi yang dihasilkannya juga akan di sharing ke publik. Dia pun tidak mempermasalahkan jika ada yang terinspirasi dan membuat teknologi yang menyerupai TrashKleng. Menurutnya itu adalah bagian dari edukasi yang diberikan kepada masyarakat umum, sehingga lebih banyak orang dapat merasakan manfaat teknologi yang diciptakannya

“Untuk bahan baku, saya ambil di teman pencinta lingkungan dan pengepul sampah. Rencana buat yang lebih besar, untuk bisa diberdayakan. Tidak hanya jadi bahan baku 3 D printer, juga bahan anyaman,” ucapnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada
Editor. : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts