Singaraja, koranbuleleng.com | Dinas Pertanian Buleleng meluncurkan inovasi baru dalam sektor pertanian dengan memperkenalkan varietas padi lokal bernama Semeton Buleleng. Varietas unggulan ini telah berhasil dipanen perdana pada Minggu, 3 Agustus 2025, di lahan pertanian milik warga Desa Tangguwisia, Kecamatan Seririt.
Peluncuran varietas ini menjadi langkah strategis dalam membangun pertanian berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan kondisi lahan marginal yang kerap menjadi tantangan di Buleleng, kehadiran Semeton Buleleng disambut sebagai terobosan penting oleh para pelaku pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat, memaparkan bahwa varietas ini dikembangkan secara khusus untuk menjawab kebutuhan petani lokal dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu.
“Padi ini punya adaptasi luar biasa di lahan yang umumnya sulit ditanami. Hasil ubinan perdana mencatatkan produksi 5,7 ton per hektar, hampir menyentuh target ideal 6 ton,” ujarnya.
Tak hanya produktif, Semeton Buleleng juga memiliki karakteristik unik berupa daun yang tumbuh tegak. Bentuk daun ini membuat burung kesulitan bertengger, sehingga secara alami mengurangi serangan hama burung—salah satu masalah kronis di wilayah pertanian Buleleng.
Lebih jauh, varietas ini juga tahan rebah dan bisa ditanam pada musim tanam kedua (MK II), suatu kondisi yang seringkali menjadi hambatan bagi varietas lain seperti Inpari 32 yang membutuhkan pasokan air tinggi.
Uji adaptasi varietas Semeton Buleleng telah dilakukan di tiga lokasi berbeda: Desa Tangguwisia (Seririt), Alasangker (Kecamatan Buleleng), dan Giri Emas (Sawan). Hasil positif dari ketiga lokasi tersebut memperkuat keyakinan bahwa varietas ini layak untuk dikembangkan lebih luas.
Menurut Melandrat, keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antara petani, tim peneliti, dan Dinas Pertanian Provinsi Bali. Pemerintah daerah pun terus mendorong kelengkapan infrastruktur pertanian seperti irigasi, alat mesin pertanian (alsintan), dan Rice Milling Unit (RMU).
“Kita tak ingin berhenti di panen. Hilirisasi jadi tantangan utama. Tanpa pengolahan gabah di daerah sendiri, kita akan terus bergantung pada luar,” tegasnya.
Selain meningkatkan produktivitas, pemerintah juga fokus pada penguatan hilirisasi. Pemkab Buleleng ingin agar gabah hasil panen dapat diolah dan dipasarkan sendiri, tanpa harus dikirim ke luar daerah. Ini sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem perbenihan dan distribusi lokal yang akan melibatkan BUMD seperti Perumda Swantara serta koperasi petani.
Varietas Semeton Buleleng tidak dirancang untuk menggantikan varietas lain, tetapi menjadi pelengkap. Keberadaannya mendampingi Inpari 32 yang cocok untuk musim hujan, dan Cierang yang lebih tahan kekeringan, sehingga memperkaya pilihan petani dalam menghadapi dinamika iklim.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menyambut baik kehadiran varietas ini dalam mendukung target swasembada pangan daerah. Ia menegaskan bahwa capaian produksi gabah di tahun ini menunjukkan tren positif.
“Hingga Juli saja, produksi sudah mencapai 60.026 ton. Tren ini memberi keyakinan target akhir tahun bisa tercapai,” ujar Supriatna.
Ia pun menyoroti pentingnya hilirisasi agar petani Buleleng tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga bisa menikmati nilai tambah dari hasil olahan sendiri.
“Kita dorong penggilingan lokal bekerja maksimal. Jangan sampai petani hanya panen, tapi nilai tambah justru dinikmati daerah lain,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

