Singaraja, koranbuleleng.com | Sebanyak 50 bhikku asal Thailand, Malaysia, dan Laos memulai perjalanan spiritual Thudong dari Brahma Vihara Arama, Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Sabtu, 9 Mei 2026 pagi. Ritual berjalan kaki menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah itu menjadi bagian dari rangkaian Waisak nasional 2026.
Perjalanan bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026 tersebut menyita perhatian masyarakat Buleleng. Puluhan bhikku tampak berjalan khidmat meninggalkan kawasan vihara dengan iringan doa dan dukungan masyarakat lintas agama yang hadir dalam pelepasan.
Dalam ritual spiritual itu, para bhikku dijadwalkan menempuh perjalanan sejauh 666 kilometer melintasi empat provinsi. Rute perjalanan dimulai dari Bali, kemudian melintasi Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum mencapai Candi Borobudur sebagai titik puncak perayaan Waisak pada 30 Mei 2026 mendatang.
Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace 2026, Dr. Tosin, mengatakan seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan ketat sebelum memulai perjalanan panjang tersebut. Pemeriksaan kesehatan juga akan dilakukan secara berkala di setiap titik peristirahatan.
“Sejauh ini apa yang disampaikan bagian dari medis, tidak ada catatan yang tinggi. Tapi di luar itu, karena perjalanan ini jauh, mitigasi yang lain kita juga jaga, termasuk cuaca dan sebagainya,” ujarnya usai pelepasan di Brahma Vihara Arama.
Dari total 50 bhikku yang mengikuti ritual Thudong tahun ini, sebanyak 43 orang berasal dari Thailand, empat orang dari Malaysia, dan tiga orang dari Laos. Beberapa di antaranya bahkan diketahui pernah mengikuti perjalanan serupa pada tahun sebelumnya.
Dr. Tosin menyebut jumlah peserta masih berpotensi bertambah di tengah perjalanan. Sejumlah bhikku asal Indonesia disebut akan bergabung dalam perjalanan damai tersebut.
“Indonesia ada juga menyertai, bisa juga di pertengahan ada gabung-gabung lain. Harapan kita justru banyak biksu lokal ini bergabung menjadi kebersamaan,” ucapnya.
Menurut Dr. Tosin, Bali dipilih sebagai titik awal perjalanan karena dikenal memiliki kehidupan toleransi antarumat beragama yang kuat. Sambutan masyarakat dan dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan tersebut dinilai sangat luar biasa.
“Walaupun umat Buddhisnya terbatas, tapi sambutan yang ada di Bali ini sangat-sangat luar biasa. Semua elemen bukan hanya dari komunitas Buddhis, lintas agama, bahkan pemerintah itu semua support,” kata dia.
Selain menjadi ritual spiritual, Indonesia Walk for Peace 2026 juga membawa pesan perdamaian kepada masyarakat luas. Dr. Tosin menilai perdamaian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesan kita jalan damai ini bukan hanya orang tertentu, tapi kita bisa berkontribusi. Setiap langkah yang kita lakukan itu ada memberikan kedamaian,” ucapnya.
Di lokasi yang sama, Wakil Menteri Agama RI, KH. Romo R. Muhammad Syafii, menegaskan kegiatan tersebut mencerminkan kuatnya toleransi umat beragama di Indonesia. Menurutnya, nilai toleransi yang telah tumbuh sejak lama kini semakin diperkuat melalui dukungan pemerintah.
Antusiasme masyarakat dan dukungan kepala daerah dari berbagai latar belakang agama disebut menjadi bukti nyata bahwa kerukunan antarumat beragama di Indonesia masih terjaga dengan baik.
“Karena itu politik toleransi ini menjadi sebuah kekuatan untuk memformalisasi toleransi yang sudah berjalan di Indonesia. Ternyata ini mendapat dukungan dari kepala-kepala daerah yang semuanya berbeda agama. Nah, itu bukti bahwa semua agama di kita itu mengajarkan kedamaian, persaudaraan, kasih sayang, dan toleransi,” ujarnya.
Syafii juga menilai penguatan toleransi menjadi langkah penting untuk menjaga persatuan bangsa dari pengaruh geopolitik global yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Sekarang pemerintah tidam mengajari lagi, tapi memagari umat beragama agar toleransi yang sudah terbentuk itu tidak bisa diganggu oleh infiltrasi-infiltrasi yang itu adalah gerakan-gerakan geopolitik,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

