Saatnya Media Siber Daerah Berhenti Jadi “Penyebar Berita Gratis” dan Bergerak Jadi Bagian Gerakan Kreatif

Surabaya, koranbuleleng.com | Di tengah gempuran algoritma media sosial, perubahan perilaku pembaca, serta dominasi content creator mandiri, media siber lokal sering kali merasa tertinggal. 

Publikasi berita yang dilakukan setiap hari seolah berjalan di tempat, bahkan trafik dan penjualan para mitra UMKM lokal di sekitar mereka kerap kali tidak menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan. 

- Advertisement -

​Pesan krusial ini mengemuka dalam rangkaian acara Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Surabaya. Pegiat media sekaligus Founder Good News From Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto, memaparkan refleksi strategis mengenai bagaimana seharusnya posisi media siber lokal bertahan dan tumbuh di tengah ketatnya ekosistem digital. Menurutnya, sudah saatnya media siber melakukan rebound—bukan sekadar memberitakan, melainkan melebur menjadi bagian dari penggerak industri kreatif itu sendiri.

​Akhyari mencontohkan sebuah kisah nyata dari keluarganya di Yogyakarta yang mengelola bisnis kerajinan tangan (handicraft) UMKM. Pada suatu masa, bisnis tersebut sempat kedatangan sejumlah content creator dan media nasional. Barang-barang mereka diliput, di-publish, dan disebarluaskan secara masif di berbagai platform. 

​Hasilnya? Berita tersebut memang tayang di mana-mana. Kliping koran dan cetakan berita dipajang di tempat usahanya setiap hari. Namun, ketika ditanya perihal dampak nyata terhadap penjualan, sang pemilik usaha justru menggelengkan kepala. Penjualan bulan itu dan bulan-bulan berikutnya justru melandai, bahkan cenderung turun. 

​”Pertanyaannya, seberapa jauh publikasi kita, seberapa jauh berita kita, dan konten kita benar-benar membawa pembeli kepada pelaku UMKM? Seberapa jauh kita membantu klien baru bagi pelaku industri kreatif di sekitar kita?,”  ungkap Akhyari dalam pemaparannya di hadapan para peserta IDMC 2026 di Surabaya. 

- Advertisement -

​Dia tegaskan bahwa media siber di daerah tidak bisa lagi hanya berpuas diri dengan pola lama, meliput, menerbitkan berita gratis, lalu berharap UMKM meroket dengan sendirinya. Media harus melangkah lebih jauh dengan menempatkan diri sebagai simpul penting dan bagian integral dari gerakan industri kreatif lokal. 

​Akhyari menyatakan kekuatan utama media yang tidak dimiliki oleh Konten Kreator lain adalah Trust (Kepercayaan). 

​Kans media siber daerah sangat besar jika melihat angka konsumsi konten saat ini. Sebagai perbandingan, platform dan website media secara kolektif mendulang miliaran views. Dengan mengalokasikan sebagian kecil dari trafik tersebut untuk mendampingi UMKM dan pelaku kreatif lokal, dampaknya akan sangat masif. 

​Jika publik atau algoritma media sosial terkadang skeptis terhadap konten jualan murni dari kreator, media massa tetap memegang standar verifikasi, proses redaksional, serta proses editing yang ketat. Di sinilah letak keunggulan komparatif media siber. 

​Media memiliki begitu banyaknya kisah yang bisa diangkat. Konten kreator adalah bagian dari ekosistem digital individu, itu bagus. “Tapi media punya tugas mulia yakni memotret dan mengemas kisah perjuangan, keberhasilan, dan prestasi manusia, not only product, but manusia (human stories), tegasnya. 

​Strategi Tumbuh Bersama: Jangan “Do It Alone”. 

​Lantas, apa yang harus dilakukan oleh pengelola media kecil di daerah jika ingin bertahan dan tumbuh bersama UMKM lokal? 

​Kunci utamanya adalah kolaborasi ekosistem. Media tidak boleh berjalan sendiri (do it alone). Melalui semangat kolaborasi yang digaungkan dalam forum IDMC 2026 ini, sejumlah media dan komunitas mulai merangkul sekolah-sekolah kejuruan (SMK) dan kampus yang memiliki kurikulum konten digital. 

​Para pelajar ini didampingi untuk dibekali ilmu jurnalistik, teknik copywriting, hingga editing video. Selanjutnya, mereka diterjunkan langsung untuk mendampingi puluhan UMKM lokal, memproduksi konten secara berkala, lalu dikurasi dan dipublikasikan melalui kanal media siber. 

​Dengan cara merajut ekosistem dari hulu ke hilir seperti ini, media siber tidak lagi diposisikan sebagai “penonton” atau sekadar papan reklame berita, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif di daerahnya masing-masing. (*)

Pewarta : I PUTU NOVA ANITA PUTRA

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru