Tradisi Sepak Bola Api di Banjar Tukad Pule: Aksi Ekstrem yang Meriahkan Malam Pengrupukan

Singaraja, koranbuleleng.com | Malam Pengrupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi, menjadi momentum sakral yang penuh makna bagi umat Hindu di Bali. Namun, suasana berbeda dan menggugah hadir di Banjar Tukad Pule, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Di sini, warga merayakan malam penyucian jagat ini dengan tradisi unik dan ekstrem: Sepak Bola Api.

Permainan penuh adrenalin ini dimulai tepat pukul 12 malam, menjelang Hari Nyepi. Sepak bola api bukan sekadar atraksi, tapi juga simbol pengusiran energi negatif dan persembahan spiritual untuk menyambut hari suci. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya warga setempat.

- Advertisement -

Yang menjadikan tradisi ini ekstrem adalah bola yang digunakan bukanlah bola biasa, melainkan buah kelapa utuh yang telah direndam dalam minyak tanah selama dua hingga tiga hari. Setelah disulut api, kelapa menyala terang dan dilempar ke tengah arena yang berlokasi di jalan utama Seririt–Gilimanuk.

Anak-anak, remaja, hingga dewasa ikut bermain tanpa alat pelindung khusus. Mereka menendang dan menggiring kelapa menyala dengan penuh semangat dan keberanian. Suasana menjadi riuh dan magis sekaligus.

“Saya sangat antusias menunggu tradisi ini karena sepak bola api hanya dilaksanakan setahun sekali. Ini sudah menjadi bagian dari budaya kami. Harapan saya, ke depan bisa diikuti juga oleh seluruh pemuda Desa Sanggalangit,” kata Kadek Armada, salah satu pemain muda.

Tak hanya pemain, penonton pun tumpah ruah di sisi jalan. Mereka rela begadang demi menyaksikan langsung ritual yang jarang ditemui ini.

- Advertisement -

“Saya sangat senang dengan adanya tradisi ini. Sepak bola api bukan hanya hiburan, tapi juga mempererat persaudaraan dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga budaya daerah,” ungkap Nonik Weliyanti, salah satu warga yang hadir.

Makna spiritual sepak bola api tak bisa dipisahkan dari semangat Malam Pengrupukan, yakni penyucian alam dan diri dari roh jahat dan energi buruk. Dengan keberanian, gotong royong, dan semangat kebersamaan, tradisi ini menjadi cara warga menolak bala dan menyambut kedamaian Nyepi.

Dukungan dari masyarakat, aparat desa, serta antusiasme generasi muda menjadi kunci utama keberlanjutan tradisi ini. Harapannya, sepak bola api dapat menjadi ikon budaya Desa Sanggalangit, menarik minat wisatawan, dan menjadi sarana edukasi bagi generasi berikutnya.

Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah gempuran zaman modern, kearifan lokal masih hidup dan berdenyut kuat. Sepak bola api bukan sekadar tontonan ekstrem, tetapi juga napas budaya Bali yang tak lekang waktu. (*)

Kontributor : Ni Kadek Ayu Desi Kernia

Catatan : Berita ini ditayangkan untuk melengkapi tugas mata kuliah di IAHN Negeri Mpu Kuturan, Singaraja. Tulisan ini telah melalui seleksi dan tahapan editing agar sesuai dengan kaidah jurnalistik. Kami terbuka menerima tulisan hasil reportase dari mahasiswa dan harus mengikuti ketentuan/kebijakan redaksi kami.

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru