Singaraja, koranbuleleng.com| Warisan budaya sekaligus simbol kemajemukan Buleleng, Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong, akhirnya menjalani restorasi besar-besaran setelah lebih dari setengah abad tak tersentuh perbaikan. Langkah ini sekaligus menjadi dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam penataan kawasan Pelabuhan Tua Buleleng.
Restorasi yang dimulai 27 Maret 2024 ini memakan waktu lebih dari setahun. Sekitar 90 persen bangunan diperbarui dengan total biaya mencapai Rp3,4 miliar, di mana sebagian besar dananya berasal dari sumbangan umat, dan sisanya 12 persen dari kas klenteng. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Gede Supriatna, Jumat 8 Agustus 2025, melalui seremoni pemotongan pita.
Ketua Pengurus TITD Ling Gwan Kiong, Wirasanjaya, mengungkapkan bahwa tembok menjadi satu-satunya bagian yang tidak diganti. Sementara itu, altar hingga atap kini menggunakan kayu merbau yang didatangkan langsung dari Irian Jaya.
“Renovasi kali ini hampir menyeluruh, sekitar 90 persen dari struktur bangunan diperbarui. Hanya temboknya saja yang masih dipakai, selebihnya seperti atap, kap, hingga pilar diganti semua,” jelasnya.
Pilar-pilar utama yang sebelumnya rapuh karena dimakan rayap kini diganti kayu merbau yang memiliki makna filosofis dalam kepercayaan Tridharma. Unsur kayu dan logam dipercaya menjaga keseimbangan spiritual. Restorasi juga mempertahankan berbagai ornamen dan ukiran khas Bali, bahkan mereplikasi detail yang rusak agar sama persis dengan bentuk aslinya.
“Itu tidak baru, tapi direstorasi. Ada yang rusak karena usia, kita buat replikanya persis seperti aslinya. Termasuk angin-angin dari era Belanda yang warnanya hitam itu, kami buat ulang,” tambah Wirasanjaya.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah digitalisasi lukisan dinding bertema klasik Samkok (Tiga Negara) di luar bangunan altar. Dahulu, lukisan digambar langsung di tembok, namun kini direproduksi dalam bentuk keramik dengan teknologi digital printing. “Karena kami sudah punya data digitalnya dari umat, jadi kami gambar ulang lewat komputer. Jika suatu saat rusak, tinggal dicetak lagi,” ujarnya.
Meski restorasi utama telah selesai, pengurus klenteng akan melanjutkan perbaikan ke bagian aula barat. Harapannya, keberadaan Klenteng Ling Gwan Kiong yang telah berdiri sejak 1873 ini tetap menjadi pusat spiritual, kebudayaan, dan toleransi di Buleleng.
Wirasanjaya menegaskan, renovasi ini juga menjadi bagian dari sinergi dengan pemerintah untuk menghidupkan kembali kawasan Pelabuhan Tua Buleleng. “Kami mendukung program pemerintah membangkitkan kembali pelabuhan ini,” ucapnya.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyambut positif restorasi ini, mengingat klenteng merupakan salah satu ikon bersejarah di kawasan pelabuhan. “Karena kelenteng ini yang menjadi legend ini sudah direnovasi dan direstorasi. Nanti akan menjadi salah satu daya tarik, tujuan, salah satu tujuan di wisata di Kabupaten Buleleng,” katanya.
Ia membeberkan, penataan Pelabuhan Tua Buleleng akan dilakukan pada 2026 mendatang, bersamaan dengan penataan titik nol Kota Singaraja. “Jadi, rencana (penataan), mulai tahun depan. Kita akan menata kembali Pelabuhan Buleleng ini. Jadi pelabuhan yang salah satu menjadi heritage di Kabupaten Buleleng,” ujarnya.
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

