Denpasar, koranbuleleng.com | GROWATA, wadah anak muda peserta Green Leadership Indonesia (GLI) Batch 5 Regional Bali, mengajak 38 peserta muda menyusuri kawasan mangrove Simbar Segara di Pemogan lewat kegiatan Canoe Trip: Mangrove Clean-up & Fun pada Minggu 7 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ruang belajar lapangan yang memadukan edukasi, aksi bersih-bersih, dan interaksi langsung dengan nelayan setempat.
Sejak pagi, peserta diajak memahami fungsi ekologis mangrove, mengenal produk olahan berbasis mangrove, serta menyaksikan langsung bagaimana ekosistem ini menjadi pelindung penting wilayah pesisir. Setelah sesi edukasi, perjalanan kano dimulai. Para peserta mengayuh pelan menembus rimbunnya akar mangrove sambil mengumpulkan sampah yang tersangkut di sela-sela vegetasi.

Ketua pelaksana, I Made Tejamurti Anggara, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kepemimpinan ekologis pada generasi muda Bali. “Kami ingin anak muda merasakan sendiri bahwa menjaga lingkungan itu bisa menyenangkan, inklusif, dan punya dampak nyata. Ketika mereka melihat sampah menumpuk di akar mangrove, perspektif itu berubah menjadi kesadaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aksi ini merupakan bentuk penerjemahan ilmu GLI menjadi tindakan langsung di lapangan. “Selama ini kami belajar tentang isu lingkungan dan perubahan sosial. Hari ini kami membuktikan bahwa ilmu itu bisa diwujudkan lewat aksi sederhana, bekerja sama dengan nelayan dan komunitas lokal,” katanya.
Kolaborasi dalam kegiatan ini melibatkan Yayasan Bendega Alam Lestari, Dermaga Hub Internasional, KUB Simbar Segara, Sungai Watch, serta Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali dan Nusa Tenggara. Kerja bersama tersebut menegaskan semangat gotong royong dalam konservasi pesisir.
Dari proses clean-up melalui kano, peserta berhasil mengumpulkan 119 kilogram sampah, terdiri dari plastik rumah tangga, styrofoam, botol minuman, dan limbah lainnya. Selain bersih-bersih, GROWATA juga membagikan lembar edukatif tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan bahaya sampah pesisir.

Bagi peserta, kegiatan ini bukan sekadar rekreasi. Penyusuran mangrove sambil memungut sampah menjadi pengalaman emosional yang membuka kesadaran tentang kondisi lingkungan Bali.
Generasi muda juga didorong untuk membawa pulang semangat konservasi ke komunitas masing-masing.
Tejamurti berharap gerakan ini tidak berhenti pada satu kegiatan. “Kami ingin aksi kecil ini menjadi pemicu langkah lebih besar. Mangrove adalah penjaga pesisir Bali, dan masa depannya ada di tangan anak-anak muda yang berani bergerak,” tuturnya. (*)
Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

