Buleleng Selamatkan Padi Sudaji dari Ancaman Punah di Tengah Gempuran Varietas Modern

Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai mengambil langkah serius menyelamatkan keberadaan Padi Sudaji, varietas lokal khas Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, yang kini berada di ambang kepunahan. Padi lokal yang dulu mendominasi lahan pertanian warga itu perlahan menghilang akibat pergeseran pola tanam petani menuju varietas modern yang dinilai lebih cepat menghasilkan.

Situasi tersebut mendorong Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distan KP) Kabupaten Buleleng melakukan upaya konservasi benih melalui penanaman demplot di kawasan Hutan Kota Banyuasri, Kecamatan Buleleng.

- Advertisement -

Kepala Distan KP Buleleng, Gede Melandrat, mengungkapkan kondisi Padi Sudaji saat ini semakin mengkhawatirkan. Ketersediaan benih disebut sangat terbatas hingga menyulitkan proses penanaman ulang.

“Sedikit. Malah sudah mau hampir habis ini. Buktinya sekarang kami hanya mendapatkan benih sedikit untuk ditanam,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.

Untuk menjaga keberlangsungan varietas lokal tersebut, pemerintah daerah menanam Padi Sudaji di lahan seluas 12 are. Penanaman ini difokuskan sebagai langkah penyelamatan benih agar varietas asli Buleleng itu tidak hilang dari peredaran.

Melandrat menjelaskan, salah satu penyebab utama petani meninggalkan Padi Sudaji adalah masa panennya yang relatif lama. Jika varietas modern dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga bulan, Padi Sudaji membutuhkan waktu hingga enam bulan sebelum siap dipetik.

- Advertisement -

“Kalau varietas baru tiga bulan sudah panen. Sedangkan Padi Sudaji sampai enam bulan. Ini yang membuat petani penyakap banyak mundur,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar petani memilih varietas unggul modern yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi dan mendukung program intensifikasi pertanian dengan pola tanam tiga kali panen dalam setahun.

Namun di balik masa tanam yang panjang, Padi Sudaji justru memiliki kualitas premium yang masih sulit ditandingi beras modern. Dari segi rasa, tekstur, hingga kandungan gizi, beras lokal ini disebut memiliki karakter unggulan yang menjadi ciri khas pangan tradisional Buleleng.

“Dari segi rasa, kualitas, kandungan gizi, ini bagus. Berasnya pulen, utuh, dan panjang. Harga juga lebih mahal,” katanya.

Nilai ekonominya pun disebut cukup tinggi. Harga jual beras Padi Sudaji dikabarkan bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan beras umum seperti Ciherang maupun Inpari yang saat ini mendominasi pasar.

Dulu, hampir seluruh wilayah Desa Sudaji dikenal sebagai sentra penghasil padi lokal tersebut. Namun seiring perubahan pola pertanian dan minimnya regenerasi benih, keberadaan Padi Sudaji kini semakin jarang
ditemukan di sawah-sawah warga.

“Kalau yang begini-begini pemerintah tidak hadir, nanti bisa hilang,” tegasnya.

Tidak hanya fokus pada pelestarian Padi Sudaji, Distan KP Buleleng juga mulai mengembangkan berbagai komoditas pangan lokal lainnya sebagai bagian dari program integrated farming dan penguatan ketahanan pangan daerah. Sejumlah tanaman lokal yang mulai dikembangkan antara lain talas, singkong, ubi-ubian, sorgum khas Buleleng, hingga kapas lokal.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan pelestarian pangan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kemandirian pangan daerah sekaligus mempertahankan identitas pertanian khas Buleleng.

“Padi Sudaji ini kita lestarikan. Bibit yang ditanam sekarang nanti akan disebarkan kembali ke petani, khususnya di Desa Sudaji dan Kecamatan Sawan,” ujar Sutjidra.

Pemkab Buleleng juga mulai mendorong pengembangan pangan alternatif pendamping beras seperti sukun, talas, ubi, dan sorgum sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan masyarakat di tengah tantangan perubahan sektor pertanian.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru