Gong Teknong Pembawa Berkah Iringi Ngusaba Bukakak

Singaraja, koranbuleleng.com| Gamelan tradisional yang disebut Gong Teknong mengiringi rangkaian prosesi Ngusaba Bukakak yang digelar krama subak Sangsit Dangin Yeh Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan. Gong yang dianggap keramat ini ditabuh hanya bila terjadi Ngusaba Bukakak.

Warga setempat lebih lazim menyebut Gong duwe teknong. Gong ini biasanya tersimpan rapi di gedong simpen Pura Subak. Jika sudah keluar dari gedong penyimpenan untuk mengiringi rangkaian ngusaba Bukakak, remaja desa ramai-ramai ingin menjadi pengiring untuk menabuhnya. Mereka yang menabuh ini adalah adalah anak-anak hingga remaja .

- Advertisement -

Gong teknong ini ditabuh dan berkeliling keberbagai lokasi ladang pertanian untuk meminta hasil-hasil tani sebagai bahan sesajen.  Ritme gamelannyapun sederhana, seakan bercerita akan suasana dan peristiwa yang sedang terjadi. Perangkat Gong duwe teknong ini meliputi cengceng, ketuk, kendang serta kempul.

Klian Subak Sagsit Dangin Yeh, Ketut Sukrana mengatakan Desa Pekraman Sangsit Dangin Yeh memiiliki dua gamelan sakral yakni gong teknong yang tersimpan di Pesanggrahan Gedong Simpan Pura Subak dan perangkat Gong Dewa Ayu Bondangan.

Gong Duwe teknong ini secara khusus untuk mengiringi Ngusaba Bukakak sementara gong Dewa Ayu Bondangan digunakan untuk mengiringi upacara piodalah di Kahyangan Tiga wewidangan Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh. Keduanya merupakan perangkat gamelan warisan turun temurun yang sudah ada sejak dahulu kala.

“Gong Teknong memang khusus dimainkan oleh remaja-remaja yang berumur belasan tahun, 17 tahun kebawah. Mereka sambil memukul Gong keliling baik pagi, siang sore, ataupun malam selama tiga hari mencari sarana pelengkap upacara seperti, buah-buahan dan sayur-sayuran. Praktis, ya merekalah yang menyiarkan kepada masyarakat umum bahwa di desa kami sedang digelar acara Ngusaba Desa,” terang Sukrana.

- Advertisement -

Dari berbagai pengalaman yang sudah pernah terjadi, biasanya pemilik lahan tidak pernah menolak jika tanaman di kebunnya itu diminta oleh para pengiring Teknong. Ada sebuah kepercayaan yang sudah kental dan melekat bagi para pemilik lahan. Ketika para pengiring Gong memetik tanaman yang ada di ladang kebun tersebut, maka pada panen berikutnya akan menikmati hasil panen yang melimpah ruah.

“Jadi, menurut keyakinan yang mereka anut sejak dulu bahwa Gong Teknong itu selalu membawa berkah melimpah ketika para pemilik ladang itu ikhlas memberikan tanamannya untuk dipetik. Itu berlangsung surut,” tutup Sukrana.

Dituturkan oleh sejumlah warga, pernah terjadi seorang pemilik lahan merasa keberatan lantaran tanaman tebu siap panen di areal kebun miliknya dipetik. Kala itu,  sekitar 50 orang mencari tebu di areal seluas 15 are, namun pemilik kebun marah-marah bahkan mengumpat dengan kalimat kasar. Akhirnya, pemilik lahan itupun alami gagal panen karena tanaman tebunya diserang hama ulat. |NH|

 

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts