Merintis Bisnis Kopi dari Pedesaan

Singaraja, koranbuleleng.com | Suara pecahan biji kopi, terdengar gemeretak dari tungku perapian milik Luh Supadmi, di desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng.

Supadmi melanjutkan usaha penjualan serbuk kopi milik almarhum Suaminya, Ketut Sukasana alias Sanuk. Merk serbuk kopi yang dijual juga bernama “Sanuk”, namun dia menyangrai sendiri.  

- Advertisement -

Kopi Sanuk ini, dirintis sejak tahun 1992. Di Desa Jinengdalem, tidak ada perkebunan kopi. Jika ditelusuri, di Buleleng, bisnis kopi itu sebenarnya dimulai dari wilayah-wilayah pedesaan.

Terutama dari desa yang dekat dengan penghasil buah kopi. Namun, ada perusahaan kopi yang sudah besar, lalu memilih ekspansi ke wilayah perkotaan untuk membuka cabang. Tetapi produksi utamanya tetaplah ada di pedesaan.

Luh Supadmi sendiri diawal usahanya dulu, almarhum suaminya membeli kopi dari berbagai desa-desa penghasil kopi di wilayah Buleleng timur.

Supadmi, kini mengelola usaha penjualan kopi bubuk Sanuk ini bersama anaknya, Komang Agus Indrawan. Indrawan kini banting “stir” untuk ikut melanjutkan dan membesarkan usaha warisan ayahnya. Dulu, Indrawan adalah seorang pegawai di sebuah bank swasta di Buleleng.

- Advertisement -

“Ya, dengan berbagai pertimbangan, saya harus melanjutkan usaha Bapak, agar terus bisa eksis dan besar,” ungkap Indrawan.

Proses Sangrai Kopi Sanuk

Cara roasting yang dilakukan oleh Luh Supadmi tergolong sederhana dan tradisional. Dia memanggang butiran kopi dari tungku perapian dengan bahan kayu bakar.

“Kayu bakar harus benar-benar dipastikan kering. Kami menjaga kualitas perapian supaya rasa kopinya juga nikmat di lidah penikmat kopi,” ujar Supadmi.

Jangkauan pasarnya dari desa ke desa. Kopi Sanuk yang dijual oleh Supadmi memiliki kualitas terbaik, atau kelas satu. Tanpa campuran apapun. Perkilogram dijual dengan harga Rp.60 ribu. Namun, Indrawan juga mengemas dengan beberapa varian ukuran. Mulai dari 50 gram, 250 gram, 500 gram hingga 1 kilogram. Di masa pandemi seperti sekarang, penjualan serbuk kopi bisa mencapai 25 kilogram dalam jangka waktu tiga hari.  

Dulu, kopi Sanuk dijual tanpa logo di pembungkusnya. Namun, setelah Indrawan fokus mengelola warisan sang ayah, dia lalu berfikir untuk melakukan branding lebih permanen terhadap produksi kopi Sanuk ini. Branding ini ternyata mampu lebih membangkitkan daya jual.   

“Pasar kami baru dari desa ke desa saja, tetap setelah ada branding seperti sekarang, penjualan memang lebih meningkat. Ada rencana merambah pasar modern,” tambah Indrawan.

Brand kopi Sanuk

Indrawan menjelaskan Kopi Sanuk produksi keluarganya juga mempunyai penikmat yang fanatik. Bahkan, jika dibandingkan dengan kopi merek lain, penikmat fanatic tersbeut takakan mau minum kopi merek lain.

“Ada kok, pelanggan kami yang memang fanatik. Bahkan, ke kantor harus bawa kopi Sanuk dan diseduh di kantor. Tidak mau meminum kopi merk lain,” kata Indrawan.  

Bagi sejumlah kalangan, minum kopi itu bukan hanya sekedar tentang kebiasaan, semisal kebiasaan bangun pagi langsung ngopi, atau kebiasaan saat bercengkerama harus ditemani dengan secangkir kopi.

Tapi lebih dari itu, ada fanatisme tentang rasa, bahkan segelintir orang menjadikan kopi untuk teman menggali inspirasi. Namun, ada juga yang candu minum kopi, setiap saat harus minum kopi tanpa kopi konon akan terasa pusing atau sejenisnya.

Kondisi inilah juga menjadi peluang bisnis kopi. Apalagi, Buleleng salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Bali. Kondisi pandemi COVID 19 seperti  sekarang, juga menjadi ladang bisnis.

Dalam kondisi apapun, kopi tetap dikonsumsi. Cuma saja, tren penjualan tidak stabil, kadang permintaan tinggi , namun terkadang rendah sesuai daya beli warga karena pengaruh masa pandemi ini.

Salah satunya, usaha pembuatan bubuk kopi cap Mawar yang berada di  Dusun Ideran, Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng tetap berjalan walaupun penjualannya menurun karena pengaruh daya beli yang rendah.

Bubuk kopi  yang  biasanya dipasarkan ke Denpasar terpaksa harus dihentikan. Mengingat hotel dan restauran tutup.   Hal tersebut membuat pembuatan bubuk kopi per harinya harus dikurangi. Meskipun dikurangi, permintaan terhadap bubuk kopi ini masih banyak di minati di desa Kayuputih maupun Banyuatis.

“Saya buka usaha ini dari tahun 1989, dulu saya kerjakan sendiri. Tapi sekarang sudah pakai 2 orang tenaga kerja,” ujar pemilik Pemilik usaha  bubuk kopi  Ketut Rusbianto ketika di temui di rumahnya.  

Ketut Rusbianto dengan produksi Kopi Mawar dari Dusun Ideran, Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar

Rusbianto  menuturkan, Pandemi Corona sangat jelas berpengaruh dari omzet yang didapatkan. Biasanya omset yang didapat sebulan mencapai 25 juta sekarang hanya mencapai 15 juta saja. Meski demikian, Rusbianto tetap memproduksi bubuk kopinya.

“Sekarang dijual cuma disini saja, pengiriman ke Denpasar sudah tidak ada, ya di sini lumayan lah masih ada banyak yang beli,” ungkap Bapak dengan 4 anak ini

Bersama dengan 2 karyawannya Rusbianto bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore. Biasanya per hari memproduksi hingga 80 kilogram bubuk kopi, namun selama pandemi Corona hanya berkisar 60 kilogram bubuk kopi. Harga per kilogram bubuk kopi ia jual Rp. 50 ribu.

“Biasanya tamu luar negeri juga kesini ada yang beli, sehari ada saja, tapi karena corona sekarang sudah jarang, untung sekarang lagi musim cengkeh jadi masih ada yang beli, karena buruh petik cengkeh itu sering ngopi,” imbuh Rusbianto.

Untuk bahan baku, Rusbianto mengambil dari pengumpul yang ada di desa Banyuatis maupun Di desa Kayuputih. Namun juga kadang menggunakan kopi hasil dari kebunnya.

“Bahannya  saya pesen,  nanti ada pengepul yang bawa kesini,” ungkapnya

Rusbianto berharap dengan adanya wacana pembukaan sektor pariwisata membuat usaha pembuatan bubuk kopinya bisa kembali seperti dulu.

“Ya mudah-mudahan cepat normal kembali, tidak saya saja yang merasakan dampak corona tapi semua juga kena,” pungkasnya.

Pewarta : Edi Toro | Putu Nova A.Putra

Editor      : Putu Nova A.Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts