Mereka Yang Rindu Sekolah dan Pertemanan

Peserta belajar bersama Nyurat Lontar wajib mengenakan masker |FOTO : I Putu Nova Anita Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Sandi, salah satu peserta Belajar Bersama Nyurat Lontar di Museum Buleleng, gedung Sasana Budaya, Singaraja. Selain Sandi, ada Dewi Puspita yang juga ikut dalam agenda yang sama digelar oleh Dinas Kebudayaan kabupaten Buleleng selama dua hari, 12-13 Nopember 2020.

- Advertisement -

Sandi dan Dewi Puspita satu sekolah di SMPN 2 Singaraja, namun baru bertemu secara fisik dalam agenda Belajar Bersama Nyurat Lontar. Mereka berdua adalah dua peserta diantara puluhan peserta lainnya. Mereka sangat bergembira bisa bertemu secara fisik dalam acara Nyurat Lontar ini. Nyurat Lontar artinya menulis ulang aksara Bali diatas daun lontar.

Kegiatan ini salah satu kegiatan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng sebagai bagian untuk pelestarian manuskrip kebudayaan ditengah Pandemi COVID-19.  Selama Pandemi COVID-19, kegiatan sekolah tak bergerak, karena sekolah tutup, termasuk kegiatan ekstra kurikuler. Namun ini mengejutkan, ketika kegiatan Belajar Bersama Nyurat lontar ini justru menjadi ajang untuk melepas rindu antar teman di sekolah.   

Saat pertama kali bertemu di gedung Sasana Budaya, mereka langsung berteriak, layaknya kebiasaan anak-anak milenial saat ini. Mereka langsung terlibat obrolan serius dan saling bertukar cerita selama Pandemi sampai persiapan untuk mengikuti kegiatan Belajar Bersama Nyurat Lontar ini.

“Kami rindu sekolah, rindu teman. Suasana seperti sekarang karena COVID-19 membuat gerak kita menjadi terbatas. Beruntung saja ada kegiatan belajar bersama ini, jadi ajang reuni bagi kami,” ujar Sandi.

- Advertisement -

Kegiatan Belajar bersama Nyurat lontar, diikuti oleh puluhan peserta dalam dua hari. Pihak panitia sengaja menggelar dua hari, agar tidak banyak terjadi kerumunan. Di tengah kegiatan, Panitia juga mewajibkan peserta untuk memakai masker. Panita juga sudah mengatur jarak duduk antar peserta ketika menulis aksara diatas daun lontar. Dan yang pasti, panitia juga menyediakan tempat cuci tangan.

“Dan kami tetap mengikuti protokol kesehatan. Pakai masker, dan bawa hand saniteser juga. Saya merasa, ditengah Pandemi COVID-19 pertemuan belajar tatap muka menjadi sulit, namun agenda ini sudah menerapkan protokol kesehatan, 3M itu,” terang Dewi Puspita menimpali.

Era Pandemi COVID-19 ini memang merubah kebiasaan dan perwajahan kehidupan, salah saunya dunia pendidikan. Proses belajar mengajar saat ini lebih banyak dilakukan dengan cara virtual melalui zoom meeting maupun google meet. Namun, kelemahannya, tidak semua lini wilayah bisa melakukan karena kelemahan infrastruktur infomasi. Selain itu tidak semua siswa juga memiliki gawai untuk mengunduh aplikasi pertemuan virtual itu.

“Selama Pandemi ini, kami lebih banyak memang belajar virtual. Ada agendanya, tetapi terkadang sangat sulit jika akses internet putus-putus. Jadi kami rindu sekali sekolah secara nyata,” ucap Dewi.

Walaupun rindu sekolah, Dewi Puspita dan Sandi mengaku memaklumi sekolah belum dibuka sampai saat ini demi kesehatan anak-anak atau generasi emas saat ini. Pemerintah belum berani melakukan pembukaan sekolah untuk mengurangi potensi penularan COVID-19.

“Jadi ajang seperti ini sangat kami tunggu,’ ujar Sandi sambil memperbaiki posisi maskernya.

Di Pedesaan di Kabupaten Buleleng, juga masih sulit melakukan pembelajaran dengan cara virtual. Di desa, sulit jaringan internet, walaupun ada orang tua siswa yang relah merogoh kocek untuk membelikan gawai untuk anaknya bisa belajar virtual.

Siswa SDN 3 Pedawa Belajar diluar sekolah dengan jumlah terbatas dan tetap mengedepankan protokol kesehatan

Akhirnya, karena tidak ada jaringan internet, sia-sia.  Salah satu guru di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Ni Komang Susilawati dengan semangat mengumpulkan anak didiknya pada satu tempat, baik di rumah siswa ataupun di rumahnya sendiri secara bergantian. Jumlahnya setiap saat berbeda-beda, agar tidak terjadi kerumunan. Dia menggelar pembelajaran tatap muka langsung di luar sekolah.

Seperti diketahui, Desa Pedawa sangat kesulitan akses internet, sehingga sulit melakukan tatap muka atau pembelajaran virtual.

“Namun dengan tatap muka langsung dan jumlah terbatas, memakai masker, anak-anak bisa menikmati pelajaran. Selama ini tidak bisa virtual karena tidak ada akses internet,” terang Susilawati.

Ni Komang Susilawati adalah guru kelas empat SDN 3 Pedawa. Dia mengungkapkan jumlah siswa yang diajar adalah 22 orang. Pembelajaran di luar sekolah dilakukan di rumah siswa yang saling berdekatan.  Siswa dibagi menjadi enam kelompok. Anggota kelompok ada yang empat dan tiga orang.

Dalam satu minggu, kelompok-kelompok kecil ini diajar tiga kali. Satu hari diambil dua kelompok. “Selasa diambil dua kelompok, Kamis dua kelompok dan Jumat juga dua kelompok. Setiap kelompok bertemu dengan saya seminggu sekali,” ungkapnya.

Untuk lokasi belajar mengambil tempat di rumah siswa.  Ini dikarenakan tatap muka belum diperbolehkan di sekolah. Ia mencari rumah siswa yang saling berdekatan sehingga memudahkan untuk kehadiran siswa. Selain itu, mengingat tidak semua siswa memiliki handphone. “Sulit saya memberikan metode daring. Oleh karena itu, seluruhnya saya berikan dengan metode luring,” terang Susilawati.

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Bali melakukan pemantauan kegiatan pembelajaran luar sekolah di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.

“Pemantauan dilakukan di daerah yang susah menggelar pembelajaran secara dalam jaringan (daring). Desa Pedawa merupakan salah satu tempatnya,” ujar Kepala Disdikpora Buleleng, Made Astika saat ditemui di sela-sela pemantauan, Kamis 12 Nopember 2020.

Made Astika menjelaskan  pemantauan aktivitas pembelajaran tatap muka secara terbatas ini memang menjadi rencana dari Disdikpora Buleleng.  

Desa Pedawa dipilih karena merupakan salah satu tempat yang susah untuk melaksanakan pembelajaran secara dalam jaringan (daring). Dalam pemantauan, semua sudah menerapkan protokol kesehatan. Peserta didik diminta memakai masker, menjaga jarak walaupun jumlahnya juga sudah terbatas dibagi dalam kelompok.  “Ini bisa dilakukan sepanjang tatap muka yang terjadi tidak melibatkan atau mengumpulkan banyak orang,” jelasnya.

Desa Pedawa menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Selanjutnya, akan dicari tempat yang memang daerahnya sulit melaksanakan pembelajaran secara daring. Desa yang dimaksud seperti Desa Sepang Kecamatan Busungbiu, Desa Mengening Kecamatan Kubutambahan serta titik-titik lainnya. Pemantauan akan terus dilakukan. “Karena zona risiko COVID-19 Buleleng sangat fluktuatif. Sehingga pembelajaran secara daring dan luring bisa terus dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing,” ucap Made Astika.

Lebih lanjut, Made Astika mengatakan potensi pembelajaran  tatap muka langsung bisa saja dilakukan namun harus ada persiapan yang matang. Sekolah harus menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan.

“ Tentu keselamatan dan kesehatan anak-anak mereka lebih penting daripada proses pembelajaran tatap muka di sekolah,” katanya. (*)

Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts