More

    Warung Bu Sosro Tawarkan Nuansa Tempoe Doeloe,Bisa Makan di Dapur

    Pelanggan warung Bu Sosro yang menawarkan nuansa Tempoe Doeloe bisa langsung makan di dapur |FOTO : Alit Kertaraharja|

    Gilimanuk, koranbuleleng.com |  SAAT ini dunia kuliner bukan hanya sekedar ‘makan enak’ di restaurant yang mewah dan mahal, tapi banyak pecinta kuliner justru juga mencari nuansa yang unik dan rasa makanan yang khas di lidah. Sehingga, mereka candu untuk datang ke lokasi yang dituju.

    Dunia  kuliner  sudah jadi bagian dari gaya hidup semua orang, semua level sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Usai beraktivitas, atau ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya, atau ingin bisa menikmati sesuatu yang  ‘enak, nyaman, aman serta bisa mengurangi stress’ kecendrungan orang saat ini adalah menikmati kuliner.

    Bahkan banyak orang sengaja jalan-jalan keluar kota hanya untuk bisa menikmati jenis kuliner tertentu, yang menjadi satu paket yaitu jalan-jalan. Uniknya, mereka tahu meskipun objeknya tidak berada di kawasan umum.

    Mungkin demikian halnya dengan Rumah Makan Bu Sosro di Gilmanuk, Negara – Bali.  Rumah makan ini punya konsep unik hingga mampu bertahan hingga 35 tahun. Tidak ada jenis makanan yang istimewa yang ditawarkan di warung sederhana ini.

    Sebagaimana layaknya makana rumahanya. Hanya ada menu ayam suir, ayam goreng, gorengan – jeroan ayam, telur dan ikan. Semuanya dimasak pedas. Dan sambalnya yang membuat mulut tidak berhenti makan.

    Meski demikian, per-hari Bu Sosro bisa menghabiskan 50 kilogram beras dan berkilo-kilogram ayam, belum lagi Telur ayam dan Ikan. Ini yang menarik, konsep kesederhanaan dengan nuansa tempo doeloe mampu memikat para pelanggan datang ke warung yang berada di dalam ruamah. Tidak hanya pelanggannya dari kawasan Gilimanuk, tapi juga luar Gilumanuk atau luar Kabupaten.  ‘’Dari kota banyak yang datang ke sini, juga dari  Kecamatan Gerokgak. Jika kita baru pertama datang ke warung tersebut, akan terheran-heran. Bagaimana tidak, sama sekali tidak terkesan ada warung,  karena di depannya ada dua bangunan rumah  menghadap ke Selatan. Di depannya ada gapura sederhana di atasnya ada sebuah tulisan ‘Warug Nasi Bu Sosro’ ekstra pedas.  Ternyata warung dimaksud merupakan satu bagian dari dapur tempat mereka memasak sehari-hari.

    Ini keunikannya, warung Bu Sosro dengan warung-warung lainnya. Warung dan Dapur menjadi satu, dimana Bu Sosro sekaligus sebagai tukang masaknya atau kokinya. Sedangkan yang melayani adalah anak dan cucunya sendiri.

    Seperti sebuah pertunjukan, para pelanggan yang makan di tempat ini bisa melihat-lihat dapur dengan tungku kayu api yang serba besar. Paling tidak ada dua tungku api besar, dimana yang satu untuk menanak nasi dengan kapasitas 25 kg beras. Dan tungku lainnya untuk mematangkan berbagai masakan yang akan dihidangkan.

    Dapur dan sekaligus warung ini memang unik,  sangat alami tidak ada yang dipoles slelama 35 tahun ini, kayu bakar disusun di dapur itu, mesak atau bekerja di dalam – menjadi satu kesatuan.  

    ’’Warung ini sudah 35 tahun, Awalnya kami jualan dengan suami, sejak suami meninggal 10 tahun lalu, saya dibantu anak-anak. Bentuk warung sama deperti dulu, tidak ada berubah,’’ kata Bu Sosro.

    Dan pelanggannya justru bertambah dari hari ke hari. ‘’Mungkin dari mulut ke mulut ada saja yang baru datang.’’ujar Bu Sosro.

    Keistimewaan lainnya disamping rasanya yang sangat ‘NDeso’ , juga nasinya tahan lama. Bu Sosro mengatakan kualitasnya terjaga karena dimasak dengan kayu api.  ‘’Kalau dimasak dengan kayu api, matangnya merata, jadi tidak cepat basi. Bisa dibuktikan selama ini nasi bungkus saya bisa bertahan sampai sore.’’ tambahnya.

    Dia mengakui pelanggan yang makan langsung di warung kebanyakan dibungkus, banyak pegawai atau masyarakat lainnya khusus datang ke sini mintanya nasi dibungkus. ‘’Kecuali mereka jalan-jalan baru mampir.

    Merekapun makan di depan rumah. Tapi banyak juga yang makan langsung di dapur.’’jelasnya. Bu Sosro menjual  perbungkus  rata-rata Rp10 rbu. Tetapi jika ingin nambah lauk, dikenakan harga ekstra sesuai harga lauknya.

    Kalau pengunjung warung ingin jalan-jalan, kawasan Gilmanuk juga memiiiliki Taman Pelabuhan Gilimanuk – berdekatan dengan patung Shiwa. Di kawasan wisata ini bisa melihat keindahan kawasan perairan dan juga disediakan fasilitas permainan di air.(*)

    Pewarta : Alit Kertaraharja

    Editor : I Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles