123 UMKM Catat Transaksi Ratusan Juta di Pasar Rakyat Provinsi Bali

Singaraja, koranbuleleng.com | Pasar Rakyat Provinsi Bali yang berlangsung di Taman Kota Singaraja, Jumat, 5 Jumat 2026, kini tidak lagi sekadar menjadi tempat promosi dan penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah mulai memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai instrumen awal untuk menyeleksi pelaku usaha lokal yang berpotensi tampil dalam ajang Buleleng Festival (Bulfest).

Sebanyak 123 pelaku usaha ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai sektor, mulai dari pertanian, kuliner, hingga industri olahan pangan. Selain membuka peluang transaksi langsung dengan masyarakat, para peserta juga mulai menjalani proses penilaian yang menjadi bagian dari mekanisme kurasi produk unggulan daerah.

- Advertisement -

Ketua Tim Penggerak PKK Buleleng, Ida Ayu Wardhany Sutjidra, mengatakan proses kurasi dilakukan untuk mengukur kesiapan UMKM sebelum tampil dalam event yang lebih besar dan kompetitif.

“Kami ingin melihat kesiapan UMKM. Nantinya produk-produk ini akan melalui proses kurasi untuk Bulfest. Jadi bukan hanya soal rasa atau kualitas produk, tetapi juga kemasan dan aspek lainnya,” ujarnya.

Penilaian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada kualitas produk. Aspek kemasan, strategi branding, hingga kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan juga menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan sebuah produk untuk dipromosikan pada panggung yang lebih luas.

Di tengah proses tersebut, Pasar Rakyat juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi lokal. Hingga pukul 11.30 Wita, total transaksi yang tercatat telah mencapai Rp354 juta dan diperkirakan masih terus bertambah seiring berlangsungnya kegiatan.

- Advertisement -

Nilai transaksi tersebut diterima langsung oleh seluruh peserta UMKM yang terdiri dari 38 pelaku usaha sektor pertanian, 30 pelaku usaha kuliner, serta puluhan pelaku usaha lain yang bergerak di bidang olahan pangan dan berbagai sektor usaha kreatif.

Di sisi lain, proses kurasi yang dilakukan juga mengungkap sejumlah tantangan yang masih harus dibenahi oleh pelaku usaha lokal. Tim penilai masih menemukan penggunaan kemasan berbahan styrofoam dan sedotan plastik oleh beberapa peserta.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena belum sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong pengurangan sampah plastik sekali pakai. Kondisi ini sekaligus menjadi catatan penting bagi UMKM yang ingin meningkatkan kualitas dan memperluas akses pasar.

Pemerintah daerah pun mendorong pelaku usaha untuk mulai beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting agar produk lokal mampu memenuhi standar pameran, promosi, dan pemasaran yang semakin menekankan aspek keberlanjutan.

Melalui skema kurasi sejak tahap awal, PKK Buleleng berharap pertumbuhan UMKM tidak hanya terjadi dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Pelaku usaha didorong untuk meningkatkan daya saing produk sehingga mampu tampil lebih percaya diri dalam berbagai event berskala regional maupun nasional.

Pendekatan ini menandai perubahan fungsi Pasar Rakyat di Buleleng. Dari yang semula hanya menjadi ruang transaksi, kini berkembang menjadi wadah pembinaan, evaluasi, dan seleksi yang membuka jalan bagi UMKM lokal untuk naik kelas menuju pasar yang lebih luas dan kompetitif.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru