More

    Buleleng Timur Pernah Ada Kehidupan Pelabuhan Besar dan Ramai

    Wilayah Pantai Desa Les, Kecamatan Tejakula. Disini juga diduga pernah ada wilayah pelabuhan kuno yang ramai oleh pedagang dari berbagai wilayah bahkan dari luar negari |FOTO : I Putu Nova A.Putra|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Di kehidupan jaman Bali kuno, wilayah Buleleng timur diyakini sebagai salah satu pusat pemukiman dan peradaban. Beberapa pantai disana, pernah dijadikan pelabuhan-pelabuhan besar pada jamannya. Pelabuhan ini sebagai titik temu para pedagang dan pembeli dari berbagai wilayah, termasuk pedagang dari luar terutama Cina dan Arab.

    Beberapa waktu lalu, pemilik dapur Bali Mula, di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Jro Gede Yudiawan sempat mengaku mendapatkan berbagai guci tua dari warga-warga sekitar di Kecamatan Tejakula. Guci yang digunakan untuk tempat penyimpanan arak Bali itu sudah banyak yang berumur tua, ratusan tahun. Dia perkirakan, guci-guci tersebut memang berasal dari jaman Bali kuno. Bahkan, dirinya juga mempunyai tiga unit guci tua warisan leluhurnya.

    Made Pageh |FOTO : Luh Sinta Yani|

    Dari penampakan yang ditunjukkan Yudiawan, kehidupan masa lalu di wilayah itu bisa diprediksi. Bahwa Buleleng timur pernah ada kehidupan dengan kemajuan peradaban di masa itu.

    Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, I Made Pageh mengungkapkan berbicara tentang pelabuhan pada zaman kuno di Buleleng, maka tidak akan pernah lepas dengan sistem perdagangan, hubungan dengan orang luar negeri, dan pelaksanaan kegiatan ritual agama. 

    Dosen sejarah ini menyertakan bukti bahwa dahulu desa-desa di Buleleng membentuk sebuah Banua, yang kehidupannya saling melengkapi. Desa yang di pegunungan akan menyediakan bahan-bahan makanan seperti ubi, beras, dan sayur-sayuran sedangkan desa yang ada di wilayah pesisir, akan menyediakan ikan dan garam. Sebab, konsep wilayah Buleleng semenjak dahulu adalah Nyegara Gunung. “Jika ingin melihat dan mengetahui pelabuhan-pelabuhan tua itu, maka prasasti yang bisa digunakan sebagai acuan adalah prasasti Bebetin” ujar Pageh. 

    Prasasti Bebetin setara dengan prasasti Sukawana yang sudah ada semenjak abad ke-9. Pada prasasti Bebetin ada catatan sejarahnya bahwa Bebetin memberikan hak untuk membangun kota baru dengan menggunakan kapal-kapal rusak sebagai pembatas atau benteng kota baru tersebut karena daerahnya dirusak oleh orang-orang pante. Ketika masa itu sudah terjadi perdagangan antarpulau dan perdagangan luar negeri,  bahkan pada saat itu masyarakat sudah menggunakan benang import. Itu menjadi bukti bahwa pada saat itu sudah ada proses penenunan. 

    Biasanya setiap pemukiman ramai, pasti di pantainya terdapat pelabuhan. Daerah timur, yaitu Ponjok Batu diperkirakanmenjadi salah satu pelabuhan besar pada massanya. Wilayah Ponjok Batu dahulunya bernama Purwasidhi. Ini menjadi bagian ikatan 4 desa atau Banua yakni Julah, Pacung, Bangkah, dan Purwasidhi. 

    “Dahulu, karena banyak yang berdagang di Purwasidhi seperti masyarakat lokal, masyarakat muslim, dan masyarakat lainnya yang membuat daerah Purwasidhi menjadi kaya, namun kala itu pernah terjadi perpecahan,” jelas Pageh. 

    Akibat dari perpecahan itu, masyarakat Purwasidhi melarikan diri ke atas dan membentuk desa baru yang disebut dengan desa Sembiran. Orang-orang islam juga ikut naik ke atas dan membentuk  daerah yang disebut dengan Batu Gambir, dan nama desa Purwasidhi menjadi hilang. Padahal, Purwasidhi menjadi hulu dari 4 desa tersebut. 

    Menuju ke daerah timur lagi, Desa Sambirenteng menjadi pelabuhannya dengan pura pemujaannya di Pura Pegonjongan. Dahulu, kata Pageh, Panji Sakti berhasil menaklukan daerah timur Buleleng ini hingga ke daerah Bangli. Sehingga dulu wilayah Bangli memiliki wilayah pantai, yakni dari daerah Desa Bukti hingga daerah Kubu,Karangasem menjadi wilayah pantai Bangli.

    “Kemajuan suatu daerah akan dipengaruhi oleh penyerbukan dari budaya lokal dengan budaya luar yang akan menghasilkan hibridasi budaya baru.” ujar Pageh.

    Pura menjadi salah satu bukti adanya peradaban di masa lalu. Pura Pegonjongan di iwayah pantai di Buleleng timur sebagai bangunan tua yang dulu dibangun oleh penghuni lokal di sana. Begitupun Pura Balingkang di Desa Pinggan, Bangli, adalah hasil dari karya manusia di masa alu. Di Pura Dalem Balingkang, selain sebagai tempat peribadatan untuk Hindu, di dalamya juga terdapat tempat peribadatan Cina sebagai bukti adanya proses budaya diantara kehidpan manusia di masa lalu. |SY|

    Berita Terpopuler

    Related articles