More

    Menjaga Kewarasan di Tengah Badai COVID-19

    Seorang tukang sol sepatu menuliskan unek-uneknya tentang virus CORONA di sejumlah peralatan kerjanya |FOTO : Wayan Artika|

    Badai ini menerjang dunia, Pandemi COVID-19. Tak nyata oleh mata namun tetiba saja menginfeksi tubuh manusia. Virus Sars-COV2 terus melahirkan varian-varian barunya, menyerang kesehatan tubuh manusia dan berdampak pada keseimbangan jiwa.

    Kasus terkonfirmasi bahkan terus meroket. Mereka yang terinfeksi semakin dekat dengan lingkungan tempat dan orang-orang sekitarnya berada, mulai dari teman ataupun keluarga langsung.

    Seorang teman (identitas tidak disebut), dinyatakan positif terinfeksi COVID-19, beberapa minggu lalu. Dia sendiri tidak bisa memastikan, dimana tertular. Namun sebagai seorang pekerja di lingkungan pemerintahan, mobilitasnya memang tinggi dalam menunaikan tugas profesinya.  

    Dia sudah berkeluarga, punya anak-anak dan istri.  Hasil rapid tes cepat antigen, anak anaknya reaktif dan diminta isolasi mandiri, sementara istri non reaktif. Kondisi mereka sehat semua. Namun, karena anak-anaknya sempat menunjukkan hasil tes cepat yang reaktif, mereka cemas. Tidakkah terjadi sesuatu nantinya? Begitulah dibenak mereka.

    Sebagian besar warga yang tertular COVID-19 merasa terganggu pikirannya, cemas berlebih. Pikiran yang runyam dan tidak stabil atau menyebabkan stress justru berpotensi membuka pintu bagi virus ini untuk menggerogoti tubuh manusia secara perlahan. Pasien COVID-19 yang alami stres diyakini bisa “memancing” munculnya penyakit lain. Apalagi yang mempunyai riwayat penyakit bawaan, maka harus berhati-hati sekali.  

    Sejumlah informasi dari beberapa aplikasi kesehatan banyak menyebutkan warga yang terinfeksi COVID-19 harus tenang, tidak stres dan fokus pada pengobatan diri. Istirahat yang cukup, berjemur dibawah terik mentari, minum vitamin yang disarankan oleh dokter. 

    Tetapi mereka yang belum terinfeksi juga terganggu, karena merasa terancam. Ada pikiran di benak, tidakkah saya akan terinfeksi? Apa yang harus dilakukan? Sementara dampak dari wabah ini, Pemerintah juga harus membatasi kegiatan masyarakat agar tidak ada penyebaran virus, tapi disisi lain warga juga harus bekerja mencari uang?

    Mobilitas manusia dinilai menjadi salah satu faktor penyebaran virus ini. Hanya ketika berhadapan saja, virus yang menular melalui droplet ini bisa menjangkit lawan bicara, atau teman pada saat makan bersama. Sakti betul virus ini! 

    Kondisi ini membuat kewarasan kurang terjaga. Karena dampak akan virus ini bukan saja soal kesehatan tetapi menggempur benteng-benteng ekonomi manusia dari mikro dan makro. Masyarakat serba salah. Sementara pemenuhan kebutuhan ekonomi harus ada setiap hari.

    Disisi lain, interaksi sosial budaya harus terus berjalan. Misalnya, Ibadah tetap harus berjalan. Di Bali, orang Bali yang kaya ragam tradisi keagamaan kini seringkali harus melakukan secara terbatas karena pandemi ini.

    Ketika aktifitas harus dilakukan di dalam rumah, manusia lebih memilih untuk menggunakan gadget untuk mencari informasi, termasuk soal COVID-19. Tapi lagi-lagi ada potensi permasalahan yang mengancam jiwa. Di Internet berseliweran hoax tentang COVID-19. Jika tidak bisa menyaring informasi dan masyarakat awam menelan begitu saja informasi tersebut maka akan menjadi sebuah petaka.

    Nice Maylani Asril

    Seorang Psikolog, Nice Maylani Asril, S.Psi.,M.Psi.,Ph.D.,Psikolog  mengungkapkan bahwa pandemi ini sudah berlangsung satu setengan tahun ini dan kondisinya belum ada kepastian. Pada masa sekarang, banyak yang merasa terancam karena tidak hanya terkait dengan kesehatan, tetapi juga terkait dengan kondisi ekonomi. “Saat ini, untuk waras saja sudah bersyukur.”ungkap Nice yang juga seorang akademisi. 

    Di masa pandemi ini, Nice mengaku banyak masyarakat dari kalangan tertentu berkonsultasi. Rata-rata klien yang datang mengatakan mereka kesulitan untuk beradaptasi dengan situasi yang serba sulit ini, seperti kehilangan pekerjaan, namun kehilangan orang-orang di sekitarnya juga.  

    Mereka kehilangan kesempatan untuk bergaul dan bersosialisasi. Situasi-situasi seperti ini yang membuat orang merasa cemas, merasa tidak berharga.

    Misalkan, banyak orang yang masih berpikir bahwa kehidupan dahulu sebelum terjadi pandemi sangat baik karena mampu menghasilkan dan membeli yang mereka inginkan, namun saat ini tidak mampu untuk melakukan hal tersebut.  “Ini yang membuat orang terbelenggu dengan masa lalu, yang mengakibatkan terjadinya kecemasan dan gangguan mental lainnya.” terangnya.

    Saran dari Nice, sebenarnya masyarakat harus lebih aware terhadap kebutuhan sendiri sesuai dengan kondisi saat ini dulu. Semua orang sedang dalam kondisi kesusahan.

    Di tengah kemajuan teknologi, masyarakat yang merasa cemas akan pandemi COVID-19 ini sebenarnya bisa berkonsultasi tentang masalah-masalah kejiwaan yang dihadapi karena tekanan situasi pandemi COVID-19. Tidak harus bertemu langsung dengan seorang psikolog, namun juga bisa berkonsultasi melalui platform digital.

    Pemerintah juga sebenarnya sudah menyediakan banyak platform untuk melakukan konsultasi psikologi, namun memang belum banyak bisa diakses oleh kalangan tertentu karena keterbatasan banyak hal. Harus banyak sosialisasi.  Seperti yang dilakukan oleh Himpunan Psikolog Seluruh Indonesia yang sudah membuka layanan hotline yang bernama Sejiwa. Kapanpun dan dimanapun masyarakat dapat mengaksesnya dan itu dapat berkontak langsung dengan psikolog.

    Asosiasi-asosiasi psikolog juga melakukan kerjasama dengan kementerian untuk membuka tele-konseling. Namun, sosialisasi ke masyarakat yang masih kurang dan literasi masyarakat terhadap psikologi masih minim, karena menurut perspektif masyarakat, orang yang datang ke psikolog adalah orang-orang gangguan jiwa, padahal tidak seperti itu.  

    Jumlah relawan-relawan psikolog yang ada di Indonesia cukup banyak, namun klien malah yang sangat sedikit. “Kesehatan mental bagi sebagian masyarakat kita masih dianggap belum penting.” katanya.  

    dr. Putu Arya Nugraha

    Di sisi lain, secara medis, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD selaku Direktur RSUD Kabupaten Buleleng juga menjelaskan bahwa konsep sehat harus memenuhi sehat secara fisik dan mental.

    Dalam mengobati pasien COVID-19, Tim medis di RSUD Buleleng tidak hanya fokus dengan kesehatan fisik. Apalagi wabah COVID-19 banyak memantik isu yang menimbulkan ketakutan, kontroversi, dan kecemasan dan kondisi ini berlarut-larut. 

    Khusus untuk menjaga jiwa dari pasien COVID-19 tetap nyaman, RSUD Buleleng memiliki program healing garden therapy yaitu terapi tambahan untuk kasus-kasus yang memang ada gangguan depresi karena COVID-19 dan penyakit kronis lainnya.  

    Di samping itu, Arya memastikan bahwa tenaga kesehatan akan selalu mendukung kesembuhan pasien. Mereka diberikan pengetahuan bahwa yang sudah terinfeksi akan mampu membentuk kekebalan tubuh terhadap serangan virus ini. 

    “Tapi pada kondisi tertentu jika ada pasien yang sangat memerlukan psikoterapi, maka kita akan jadwalkan. Tapi khusus untuk covid, terapi tambahan ini dilakukan setelah masa isolasi. Ini khusus untuk yang bergejala sedang berat.” terang Arya.

    Sedangkan bagi pasien yang bergejala ringan, RSUD Buleleng juga membuka hotline melalui nomor kontak 0812 364 8629. Jika menghubungi nomer tersebut, pasien bisa berkonsultasi dan terapi pernafasan melalui instruktur yang bernama Ketut Suartika.  “Nantinya akan diikutkan latihan pernafasan secara daring setiap hari Sabtu,” ungkap Arya yang selama ini dikenal aktif dalam rutinitas sosial.

    dr. Arya menerangkan bahwa wabah bisa dikendalikan bukan saja karena vaksin semata atau kecanggihan peralatan rumah sakit. Namun wabah ini bisa diselesaikan secara masif jika semua pihak mau bekerja sama dan secara sadar untuk saling menjaga dan mengingatkan.   

    Seperti misalnya, di saat sekarang ini ada anjuran agar lansia dan anak-anak harus berada di rumah, maka ikutilah dengan baik. Untuk orang dewasa yang harus bekerja, sudah diberikan porsi agar moblitas masyarakat juga bisa dikendalikan selama pemerintah sedang berperang melawan COVID-19 ini. Salah satunya dengan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

    “Seharusnya pemberlakuan tersebut sudah membuat kita nyaman. Ini ada pandemi, orang tua dan anak-anak sudah di rumah. Saya keluar mengikuti prokes yang baik serta sudah vaksin. Nah itu kan sebenarnya syarat pertama yang membuat kita tenang. Syarat kedua yang harus bisa dilakukan agar tenang pada masa pandemi ini adalah dengan menghindari berita-berita hoax yang beredar. Silakan untuk mencari berita COVID-19 ke dokter, rumah sakit, dan website-website resmi.” terang Arya.

    Tambahan, menurut dr. Arya ada syarat ketiga yang bisa dilakukan untuk menghindari kecemasan di masa pandemi ini yaitu turut membantu sesama dengan memberikan sedikit yang kita punya serta membantu mengedukasi masyarakat tentang COVID-19.  

    Virus ini memang benar adanya, namun masyarakat tidak boleh cemas melainkan waspada dan cerdas dengan mentaati aturan pemerintah seperti taat menjalakan protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi.

    Selain itu, stigma masyarakat terhadap penyintas COVID-19 perlu dihapuskan oleh masyarakat sendiri. Sebenarnya penyintas COVID-19 adalah orang yang paling kebal terhadap virus penyebab COVID-19 dibandingkan dengan yang sudah melakukan vaksinasi.  Karena antibodi yang kuat sudah terbentuk pada para penyintas COVID-19, maka plasma darah dari penyintas COVID-19 dikatakan efektif untuk menyembuhkan penderitanya. Orang yang pernah terkena COVID-19 adalah orang yang paling kecil resikonya terpapar kembali.  “Justru Penyintas COVID-19 sebenarnya dapat menolong orang-orang yang terkena virus corona ini. Mereka yang terkena COVID ini memiliki dua pilihan, apakah meninggal ataukah memiliki kekebalan tubuh atau antibody yang semakin kuat.” ungkap dr. Arya. 

    Kecemasan dan kesehatan mental lainnya salah satunya ditimbulkan karena pembatasan sosial yang mengakibatkan kurangnya aktifitas masyarakat dalam bersosialisasi. Banyak masyarakat yang merasa tidak bisa berbuat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sosial media, itu terlihat jelas. Pembatasan ini memicu kekesalan warga dan disalurkan lewat sosial media melalui umpatan-umpatan yang kasar sekalipun.

    Dr. Luh Putu Sendratari

    Jika ditinjau dari kacamata sosiologi, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum dari Undiksha Singaraja, menyampaikan bahwa hubungan sosial yang menyebabkan masyarakat harus berkumpul dan bersosialisasi merupakan hasil dari produk budaya. Kembali ke pemahaman soal budaya, bahwa konsep budaya itu berawal dari sebuah pembiasaan, kemudian terbiasa, menjadi kebiasaan, dan terakhir menjadi budaya, artinya bahwa budaya itu bisa diubah. 

    Menurut Sendratari, pada masa pandemi ini model hubungan masyarakat bisa diubah. Jarak dan model hubungan sosial bisa diperbaharui. Sebagai contoh, agar tradisi budaya kita dapat berjalan namun supaya tidak ada kerumunan maka harus ada kloter-kloter. Jadi sebenarnya tidak ada permasalahan hanya yang dahulunya bisa hadir berbanyak, sekarang harus dengan bergiliran. “Ini tentunya tidak merubah esensi dari tradisi tersebut, namun hanya merubah model hubungan sosialnya saja.” ungkap Sendratari.

    Pilihan berikutnya yang bisa ditawarkan untuk menjaga hubungan sosial masyarakat adalah dengan memanfaatkan teknologi infomasi. Namun, dalam penggunaan teknologi informasi ini, masyarakat juga perlu cerdas dalam memilah dan memilih informasi yang disajikan.  Kadangkala, informasi yang beredar di internet menyebabkan masyarakat menjadi bingung dan bahkan tidak percaya terhadap virus corona ini.

    Sendratari mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam memulihkan kepercayaan masyarakat dengan cara mengawal berita-berita yang beredar di media. “Masyarakat kita sebenarnya belum siap didewasakan dengan pemberitaan sehingga cepat sekali terpengaruh oleh berita tersebut.”

    Lebih lanjut, Sendratari menjelaskan bahwa media massa mainstream memiliki peran sebagai pemain determinan dalam pemberitaan tersebut agar memberikan berita yang benar dan tidak menimbulkan kebingungan untuk masyarakat.  Daya kritis masyarakat juga perlu ditingkatkan dan juga masyarakat perlu mengurangi untuk mengikuti informasi tentang perdebatan-perdebatan adanya COVID-19 yang sering menimbulkan kebingungan dan kecemasan. “Berbeda kalau menjadi seorang akademisi, perdebatan ini menjadi sebuah kebutuhan untuk memperbaharui ilmu pengetahuan.” terangnya.

    Menanggapi berita-berita hoax tentang COVID-19 yang beredar dan menyebabkan keresahan terhadap masyarat, Pemerintah kabupaten Buleleng punya strategis khusus untuk menangklanya.

    Kadis Infokomsanti Buleleng, Ketut Suwarmawan |FOTO : Ni Luh Sinta Yani|

    Kepala Dinas Kominfo Santi Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, menjelaskan bahwa di pemerintahan Kabupaten Buleleng khususnya pada Dinas Kominfo Santi sudah memiliki tim CIRT (Cyber Incident Response) di bawah bidang persandian dan statisitik. Fungsinya dari tim CIRT adalah memberikan dan menangkal informasi-informasi yang tidak benar, yaitu melakukan deteksi, mitigasi dan melindungi.

    Semenjak bulan Januari 2021 sampai Juli 2021, Kominfo Santi sudah memperoleh laporan berita hoax sampai 20 laporan. “Namun pada batas kemampuan kita, kita baru bisa melakukan sampai dengan verifikasi, identifikasi, dan juga klarifikasi terhadap berita-berita hoax yang beredar. Sebagai penyeimbangnya, pemerintah selalu berusaha untuk menyajikan berita-berita positif dan informasi yang sudah diuji kebenarannya.”jelas Suwarmawan. 

    Untuk menangkal hoax itu, Kominfo Santi juga agresif melakukan sosialisasi secara massif kepada masyarakat mengenai COVID-19, menyoal dari penerapan protokol kesehatan sampai eduasi tentang vaksinasi. PPKM juga disosialisasikan ke sleuruh masyarakat mengetahui lebih dini dan tidak terkejut atas pemberlakuan itu. Sosilaisasi itu bagian agar masyarakat bisa bersiap menghadapi semua resiko di tengah Pandemi dan merasa lebih tenang menghadapi. 

    Karena para intinya, kata Suwarmawan semua anjuran pemerintah dan pemberlakuan aturan adalah untuk menjaga kesehatan masyarakat. PEmerintah sedang berusaha keras untuk menekan jumlah penyebaran COVID-19. “Kami lakukan itu se-humanis dan persuasif mungkin karena masyarakat juga sedang berada pada kondisi ekonomi yang terpuruk.” ucapnya. (*)

    Pewarta : Ni Luh Sinta Yani

    Editor    : I Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles