More

    Mempertahankan Tradisi Garam Palungan dari Tanah Warisan Leluhur

    Made Indrawan melakukan proses pembuatan garam palungan |FOTO : LUH Sinta Yani|

    Singaraja, koranbuleleng.com |Pukul 12:53 wita di pesisir pantai Desa Tejakula. Panas matahari terasa membakar, air laut juga terus memantulkan kilau cahaya. 

    Bebatuan dengan bentuk pipih banyak terlihat di pantai itu. Dibelakang pantai itulah, ada lokasi ladang garam. Disini produksi garam palungan berproses. Pembuatan garam tradisional dengan memanfaatkan uap air laut dari pemanasan terik matahari. Beberapa warga desa Tejakula masih melestarikan warisan leluhurnya untuk membuat garam palungan ini.

    Made Indrawan, dengan memakai topi bundar yang agak lebar, berusaha menutupi kepala dan tubuhnya agar tidak terpapar sinar matahari, Selasa 3 Agustus 2021 siang itu. Panasnya memang terasa sekali. Namun, panas matahari adalah kebahagiaan bagi seorang petani garam seperti Indrawan. Karena memang kala musim kemarau, mereka akan bekerja selama enam bulan penuh untuk memproduksi garam.

    Anak muda ini mulai mengikuti jejak ayahnya, Made Swastika memproduksi garam palungan. Sebelumnya dia bekerja di sebuah hotel berbintang. Namun karena badai COVID-19, dia harus berhenti bekerja. Perusahaan tempatnya bekerja terdampak dan tidak bisa membayar gaji karyawan.  Akhirnya, Indrawan memilih pulang kampung.  Kini dia beralih profesi menjadi seorang petani garam. Berbekal dari ilmu yang diperoleh dari ayahnya, Indrawan tampak mengerjakan tugas-tugasnya dengan cekatan memproduksi garam. 

    Tempat pembuatan garamnya dibagi dalam empat petak dalam satu area. Tanah tersebut adalah warisan turun temurun dar lleuhurnya.   Di bawah terik matahari, Indrawan membawa dua pikul air laut untuk disiram di tanah tersebut. Berselang  waktu 10 menit, tanah yang sudah disiram menjadi kering, lalu tanah digemburkan memakai alat yang mereka sebut bangkrak.

    Indrawan dan petani garam lainnya akan menunggu selama tiga sampai empat hari sampai tanah yang digemburkan itu kering, sambil mengerjakan petak tanah lainnya. Tanah yang gembur dan benar-benar kering akan dimasukan ke dalam sebuah tinjung.

    Kulit kaki Indrawan tampak legam nan kuat akibat paparan matahari. Dia menginjak-injak tanah di tinjung untuk menyaring sari-sari tanah. Tak lupa juga setelahnya, dia menyiram air laut ke tinjung tersebut sampai penuh. Jarak ladang garamnya dengan laut hanya dipisahkan oleh pantai saja. 

    “Sari air laut dan sari tanah akan disaring dalam tinjung dan bercampur menjadi satu. Penyaringan ini hanya membutuhkan waktu 1 hari.” ungkap pemuda yang kini baru berusia 22 tahun itu. 

    Garam Palungan

    Sari ini akan dibawa ke palungan untuk dikeringkan kembali. Agar produksinya banyak, biasanya sari-sari di palungan ini akan ditimbun sampai penuh. Terik matahari yang panas, menjadi waktu yang tepat untuk panen garam. 

    Garam dalam palungan akan dikeruk memakai alat yang namanya ‘pengerikan’. Proses ini belum usai, karena garam-garam tersebut akan dibawa ke karung untuk diserap kembali air-airnya.

    Panen garam biasanya dilakukan setiap 2 hari sekali, dengan jumlah produksi sebanyak 25 kilogram.  Harga garam tradisional ini bisa mencapai angka Rp20.000/kg.  Biasanya garam ini sudah dipesan oleh pelanggan, yang akan mereka jual kembali dengan kemasan dan brand tersendiri.  Garam ini sudah sampai di ekspor ke Negara Jepang. Produksi garam tradisional terbebas dari penggunaan bahan-bahan plastik. Rasanya pun berbeda karena garam palungan tidak terasa pahit. Pori-pori dari Palungan yang berbahan dari kayu kelapa itu yang berfungsi untuk membuang zat-zat yang memicu rasa pahit tersebut.

    Namun, Indrawan sangat menyayangkan banyak sekali ladang-ladang produksi garam yang sebelumnya dikelola warga, kini berubah menjadi bangunan-bangunan villa atau hotel. Kondisi itu sebenarnya mengancam eksistensi garam tradisional palungan.  “Kalau keluarga Saya, tidak berani menjualnya karena ini sumber penghasilan serta lahan ini adalah warisan.” ujar Indrawan. 

    Untuk itulah, dia berusaha agar ladang garam tidak berpindah tangan dan peralatannya tetap terawat.  

    Garam adalah kebutuhan mendasar dalam dunia masak memasak. Hambar rasanya jika makanan tanpa garam. Sejenis mineral berasa asin ini sangat mudah didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau.

    Namun garam tidak hanya dipakai sebagai bumbu dapur semata. Garam juga sering dipakai untuk mengawetkan makanan secara alami. Kandungan garam juga ikut terlarut dalam beberapa produksi kimia industri, seperti detergen dan plastik. Sebagian masyarakat juga mempercayai garam bisa mengusir ular dari lingkungan sekitar. Atau dipercayai untuk mengusir roh-roh jahat. 

    Dalam dunia kesehatan, tubuh membutuhkan garam untuk membentuk ion. Ion yang terkandung di dalam sel memiliki energi untuk melakukan fungsi esensial di tubuh, salah satunya mengubah nutrisi menjadi energi.

    Ion mudah keluar dari tubuh, bisa berbentuk keringat, atau air urin. Makanya, tubuh seringkali membutuhkan asupan garam tambahan untuk membentuk ion. Dari sejumlah refrens kesehatan, jika kadar natrium di tubuh turun, dapat mengakibatkan kondisi hiponatremia. Kondisi ini menyebabkan kadar natrium dalam darah tidak mencukupi. Akibatnya dapat meningkatkan risiko resisten terhadap insulin, peningkatan risiko kolestrol LDL, hingga risiko kematian akibat gagal jantung. |SY|

    Berita Terpopuler

    Related articles