28 Oktober: Pemuda dan Mahasiswa tetaplah Anjay

Indra Andrianto |FOTO : Koleksi Pribadi|

“Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini baiknya digunduli saja kepalanya” – Ir. Soekarno

- Advertisement -

Semua manusia pasti mengalami fase menjadi seorang pemuda, ntah akan menuju atau bahkan telah melawati masa mudanya (nostalgia muda). Dan sapatutnya bersyukur kalian yang saat ini berada difase-fase menjadi pemuda (muda yang berbahaya). Bahaya yang dimaksud, dimana seorang yang muda berani mengambil segala resiko sekalipun cenderung terburu-buru mengambil suatu keputusan baik dalam hal bertindak maupun pikiran dari buah idealismenya (bang rhoma, maklum darah muda). Jika kita berbicara dunia para pemuda tentu tidak akan pernah ada habisnya, sebab dinamika pemudalah yang saya rasa begitu kompleks. Pemuda pada masa pra Kemerdekaan misalnya,  tentu memiliki peran besar bahkan penentu bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan negara ini. 

Pembaca pasti banyak tau tentang peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. dimana pada peristiwa tersebut, para pemuda saking bucinnya (bukan budak cinta lohh tapi cinta beneran) pada negara kesatuan sehingga begitu antusias untuk memerdekan Indonesia dengan memilih jalan menculik Presiden Ir. Soekarno dan Moh. Hatta (jangan sampai kalian menculik bapak Jokowi setelah membaca ini karena beda jaman …).

Tepat jam 04.00 pagi para pemuda menculik tokoh paling berpengaruh untuk menentukan proklamasi kemerdekaan,  dengan mendesak golongan tua bahwa Indonesia harus segera memproklamasikan kemerdekaannya (secepatnya) dan para pemuda menolak jika kemerdekaan bangsa Indonesia didapat dari hasil pemberian/hadiah penjajah (pemuda maunya kita menang dramatis,  bukan hasil ngemis kemerdekaan dari bangsa jepang) . Aksi tersebut dikomandoi oleh tiga pemuda pemberani yakni Sukarni,  Wikana,  dan Chairul Saleh hingga terjadi perundingan antara golongan tua dan muda (perundingan panjang) .  Akhirnya Ir. Soekarno dan Moh.  Hatta dan menyetujui desakan para pemuda dengan dibacakannya teks Proklamasi kemerdekaan di rumah Ir.  Soekarno di Pegangsaan Timur pada tanggal 17 Agustus 1945. Dari peristiwa tersebut jangan sampai tidak kita tidak mampu memaknai. bahwa pemuda memiliki semangat juang yang sangat tinggi dan keberaniannya yang sangat gigih terhadap apa yang dia perjuangkan termasuk pada negara  yang dicintai (seharusnya pemuda hari ini). 

Namun Apa sih yang dimaksud Pemuda? Apa pemuda itu identik dengan Remaja,  atau identik dengan kata semangat (sampai-sampai tan menulis buku semangat muda). Atau harus seperti masa muda-mudanya Sukarni,  Wikana dan Chairul salah?  Tentu dinamika dan tantangan zaman sudah berbeda,  tidak mungkin pemuda hari ini menculik Ir.  joko Widodo dan wakilnya agar terlihat seperti pemuda yang dimaksud Ir.  Soekarno. 

- Advertisement -

” Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Secara umum definisi daripada pemuda itu setidaknya memiliki dua definisi yang menyangkut batasan usia pemuda, sifat ataupun karakteristik pemuda, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan. WHO menyebut sebagai  ”young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescence” atau remaja. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda. Definisi yang selanjutnya, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural. Menurut draft RUU Kepemudaan, Pemuda adalah mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Menilik dari sisi usia maka pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat secara umumnya. (kalau dalam buku-buku bacaan tan malaka,  semangat muda adalah semangat pembaharu).

Penulis tidak akan menceritakan kembali runtutan peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi selama perjalanan bangsa ini yang dimotori oleh kelompok pemuda, termasuk peristiwa sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1908 yang ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini (karena saya rasa pembaca lebih memahami daripada penulis) . Hanya sedikit yang penulis ulas tentang bagaimana keberanian pemuda (sebagai contoh saja)  pada paragraf dimuka yang menceritakan secara singkat tentang keberanian Sukarni,  Wikana dan Chairul Saleh. Yang setidaknya menjadi refkeksi bagi kita sebagai pemuda sebagai generasi penerus jangan sampai gampang ciut (seperti ayam makan garam)  apalagi cuma masalah remeh temeh (putus cinta gantung diri, ini bukan jiwa pemuda) silahkan Bucin pada lawan jenis yang disukai tetapi ingat jangan lupa tugas pokok dan fungsi sebagai pemuda bangsa yang besar dan merdeka karena peran pemudanya. 

Dalam judul tulisan ini pemuda saya kaitkan dengan kata Anjay yang perhari ini lagi trend sebagai kosa kata gaul dikalangan millenial, bahkan anjay pun tidak bisa diterjemahkan dalam KBBI namun ada beberapa artikel bahwa Anjay adalah kata yang dibengkokkan dari kata “Anjing” namun saya rasa itu juga belum begitu bisa dikatakan benar,  karena anjay menjadi kata yang tidak memiliki pegukuhan makna (atau kata mati) sehingga sangat rentan sekali untuk ditafsirkan subjektif.

Dikalangan millenial, anjay seperti kata yang sangat akrab dan penuh emosional dikalangan darah muda sebagai suatu keasyikan dalam berteman dan bergaul. Penulis pernah mendengar dan mengamati anak-anak muda diantaranya ketika si Pemuda jago berpuisi (anjay puisinya), si muda pakai baju branded (anjay bajunya), si doi dapat juara bla bla (anjay banget). Anjay seakan-akan seperti “Wah/keren/bagus”. Mungkin pemuda hari ini khususnya para millenial sudah bosan memakai kata-kata yang baku (tapi ingat,  ada tempatnya penggunaan kata itu,  dan tidak berlaku disemua orang dan semua tempat apalagi kosa kata dipakai untuk menjawab soal ujian…)

Pemuda dan Mahasiswa tetaplah Anjay

Menjadi pemuda itu bukan hanya anjay di baju dan penampilannya saja, namun penting juga sikap kritis dan selalu subur dalam berkarya  atau dalam hal lain jadi pemuda jangan sampai mati kreativitas dan tetap bermental yang mampu menyurakan kebenaran dan tidak bertindak atas dasar pembeneran. hal tersebut menjadi hal terpenting dalam menentukan kemana arah kemajuan bangsa Indonesia kedepannya. Tahun ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan kejadian-kejadian aksi dikalangan kaum muda,  baik kelompok pemuda ataupun mahasiswa,  mereka serentak menentukan sikap dengan mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak memihak rakyat kecil,  secara tupoksi tentu sudah sangatlah tepat karena salah satu tugas Pemuda dan Mahasiswa adalah Agent of Social Control atau dengan kata lain mereka mempunyai tanggung jawabmenyuarakan/menyampaikan kebenaran, beberapa buku tentang pemuda  pasti akan bersepakat bahwa Pemuda dan mahasiswa itu adalah penentu keputusan karena kemampuan berpikir pemuda dan mahasiswa yang sangat segar dan cemerlang. Tentunya juga semangat pemuda yang begitu tinggi (kita bisa refleksi kejadian tahun 1998 ketika pak Harto lengser). Pemuda dan Mahasiswa dituntut mampu untuk mengontrol keadaan negara bukan untuk sekedar mengkritik, tetapi juga memberikan kontribusi yang riil untuk perubahan yang lebih baik (agent of social control). Sebagai kaum intelektual khususnya pemuda yang mahasiswa harus bersikap berani dan kritis, berani untuk mendobrak zaman ke arah kemajuan dan kritis terhadap kebijakan para pemegang roda pemerintahan.

Perhari ini bangsa Indonesia juga sedang dihadapkan pada masalah demoralisasi.  Benar yang dikatakan Presiden RI bapak Ir.  Joko Widodo bahwa mental kita perlu direvolusi (mental moral), namun muncul pertanyaan dibalik jargon seruan revolusi, yang mau di revolusi yang sebelah mana dulu, Rakyat or Pemerintah?  Disinilah tugas serta tantangan pemuda dan mahasiswa sebagai agent of Change sebagai penyeru perubahan mendapat tantangan ke-Anjay-annya untuk kearah yang lebih baik dan lebih pada memberikan suatu contoh yang baik atas sikap yang seharusnya dilakukan sesuai moral yang menjad nilai-nilai kebaikan bersama.  

Penulis jadi ingat filsuf ternama bernama Socra (sapaan akrab penulis pada socrates)  bahwa hal yang tidak baik (berupa apapun) tidak akan pernah bisa kita berangus kecuali dengan kembali pada diri sendiri yang mencontohkan dark kebaikan tersebut maka dengan demikka hal tidak baik akan hilang dengan sendirinya jika semua orang mampu memperbaiki dirinya sendiri (berkaca diri untuk mengenal diri). Tentunya dalam membenahi demoralisasi akan selalu bersinergi dengan tupoksi mahasiswa dan pemuda seperti yang pernah penulis temukan dalam tulisan jurnal (revolusi pendidikan) yang menjadi salah satu tugas penting pemuda dan mahasiswa yakni moral force atau kekuatan moral karena sangat besar pengaruhnya terhadap peradaban bangsa. Lalu mengapa harus moral force? Mahasiswa dan pemuda dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat. 

Hal ini menjadi beralasan karena mahasiswa dan pemuda adalah bagian dari masyarakat sebagai orang yang memiliki beragam ilmu pengetahuan, dimata masyarakat umum bahwa pemuda dan mahasiswa adalah orang yang anjay dengan idealisme dan kecerdasannya. Namun, sebaliknya dari anjay menjadi sikap yang anj**g bila peran pemuda dan mahasiswa yang satu ini telah banyak ditinggalkan dan banyak mahasiswa yang berorientasi pada kehidupan hedonisme (bodo amat penting saya senang). 

Pemerintah beberapa bulan lalu memberikan suatu aturan UU terhadap kata Anjay,  penggunaan kata Anjay untuk seseorang akan berindikasi pidana dan dibui, namun kalangan pemuda dan mahasiswa dengan keanjayannya justru memberikan feed yang bagus bahwa pemerintah jangan terpokus pada masalah yang tidak terlalu urgensi atau tidak bersubtansi dengan mengabaikan dan meninggalkan masalah-masalah yang besar yang terbengkalai dan bahkan sampai hari ini pemuda dan mahasiswa sangatlah antusias mengawal proses demokrasi.

Jika boleh berpendapat bahwa tindakan pemuda dan mahasiswa ntah benar atau salah,  namun berani menyampaikan suatu sikap kritis yang penulis rasa anjay banget bahwa betapa tidak relanya kaum pemuda dan mahasiswa jika rakyat tidak dilindungi dan disejahterahkan oleh jalannya demokrasi yang berlangsung. Hal ini juga bagian dari nilai-nilai refleksi semangat muda pada masa-masa Sukarni, Wikana dan Chairul Saleh.  serta bagian dinamika disetiap generasinya dalam dunia kepemudaan. Dengan semangat berpikir dan bertindak mampu menjadikan suatu power dalam diri bangsa Indonesia bahwa negara ini besar pengaruhnya yang terdapat pada kalangan para kaum muda. 

Tentang Penulis

Penulis bernama lengkap Indra Andrianto S.Pd. Seorang pendidik di sekolah Jembatan Budaya (JB School, Bali). Penulis melahirkan satu karya buku berjudul Kumpulan Opini #Merawatingat yang terbit tahun 2018 dan aktif menulis dibeberapa media masa

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts