Cangkang Kerang Giwang Jadi Ragam Kerajinan Bernilai Tinggi

Singaraja, koranbuleleng.com|Mendengar kata kerang giwang pasti kita akan berpikir, dengan perhiasan mutiara. Perhiasan tersebut memang sangat digandrungi oleh kaum hawa di seluruh dunia.

Namun, kerang giwang tidak hanya dicari mutiaranya saja. Banyak orang yang mencari kulit kerang digunakan bahan baku kerajinan.

- Advertisement -

Zubaidi, 43 tahun, warga Banjar Dinas Pala Sari, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang cukup kreatif mengolah kerang giwang tersebut sebagai sebuah kerajinan tangan yang bernilai ekonomi tinggi.  Dari tangan apiknya, kulit kerang tersebut menjadi kerajinan bernilai tinggi. Bahkan per bulan dia bisa meraup keuntungan hingga Rp 5 juta dari kerajinan tersebut.

Biasanya kulit kerang tersebut, dibuat Zubaidin menjadi kerajinan berbentuk mangkok, vas bunga, mangkuk, tempat tisu, dan tatakan gelas. Selain itu, ia juga berinovasi membuat kerajinan berbentuk jam dinding hingga bentuk ikan arwana. Untuk model ikan arwana dijual di harga Rp 350 ribu, sementara jam dinding Rp 1 juta. Harga tersebut ditentukan dari tingkat kesulitan dan penggunaan bahan.

“Paling banyak dipesan model mangkuk. Untuk kerangnya biasanya ambil di warga sekitar karena disini banyak yang budidaya,” katanya ditemui belum lama ini.

Zubaidin menuturkan, membuat kerajinan dari kerang ini sudah ditekuninya sejak tahun 1997 silam. Ketertarikannya itu bermula dari banyaknya kulit kerang yang dibuang dibuang petani kerang sehingga menjadi limbah. Dari situlah idenya muncul untuk mengubah limbah kerang tersebut, menjadi kerajinan yang bernilai.

- Advertisement -

Kata Zubaidin, membuat kerajinan itu dipelajari secara otodidak. Awalnya kulit kerang yang dibeli dari pembudidaya itu, dicuci dan dihaluskan secara manual dengan menggunakan mesin gerinda. Setelah bersih, barulah kerang itu ditempel sesuai motif yang yang sebelumnya dibuat menggunakan bahan fiber. Selanjutnya, setelah menjadi kerajinan kerang tersebut kembali di amplas hingga menjadi halus.

“Untuk buat motif ikan arwana, bisa dikerjakan sampai dua hari. Rata-rata habis kerang satu kuintal setengah per bulan, tergantung order apa permintaannya. Kalau tidak ada orderan, baru cari motif lain untuk dibuat,” ujarnya.

Zubaidin (kiri) menunjukkan hasil kreatifitasnya dengan menggunakan kulit kerang giwang |FOTO :Kadek Yoga Sariada|

Zubaidin menyebut, selain dirinya di Desa Pemuteran ada 15 warga lainnya yang menggeluti pekerjaan sebagai pengrajin kulit kerang giwang. Mereka tergabung dalam Kelompok Sari Mutiara. Namun kebanyakan pembeli kerajinan tersebut, membeli lewat pengepul. Sehingga harga yang didapat menjadi tiga kali lipat lebih mahal dari harga awal.

“Rata-rata yang beli bule dari Eropa dan Australia. Cuma tidak langsung ke kita. Kebanyakan lewat pengepul. Kalau langsung ke kita hanya beli 1 atau dua biji. Namun tamu biasanya lebih suka belanja ke kita. Karena bisa melihat proses pembuatannya,” ucapnya.

Mantan karyawan hotel ini menambahkan, untuk saat ini bahan kulit kerang yang menjadi utama kerajinan tersebut selalu ada. Namun, harganya yang kian hari kian melonjak. Pengrajin kerang sendiri juga tidak hanya mengambil bahan dari petani lokal. Bahan tersebut juga ada di impor dari negara lain, untuk menambah kecantikan motif kerajinan.

“Kendala harga terus naik, sekilo standar bisa 70 ribu. Mulai naik ikut harga pasar. Kadang impor dari luar. Kerang New Zealand warna pelangi. Satu kilo 300 ribu,” kata dia. |YS|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts