Pemetaan Destinasi Pariwisata Sastra Buleleng

Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan pariwisata sastra namun masih belum digarap oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan para pengusaha pariwisata. Laporan ini mencoba memetakan destinasi pariwisata sastra yang tersebar di tanah Den Bukit atau lor adri. Pariwisata sastra adalah tempat kunjungan wisata yang berkaitan dengan karya sastra, tokoh dalam fiksi atau cerita rakyat, dan pengarang.

Sejumlah tempat yang disebutkan di Babad Buleleng, seperti Pura Yeh Ketipat di Desa Wanagiri, Pura Penimbangan, dan Desa Panji adalah destinasi pariwisata sastra karena tempat-tempat itut disebutkan di dalam karya sastra. Pura Yeh Ketipat berkaitan dengan perjalanan Raja Buleleng Pertama, I Gusti Anglurah Panji Sakti (Ki Barak Panji) ketika kehausan dan memperoleh air setelah menancapkan keris di tanah dan juga saat tubuhnya diangkat tinggi-tinggi oleh Panji Landung untuk menunjukkan kepada dirinya bahwa wilayah kekuasaannya di Den Bukit membentang luas dari Barat di Gilimanuk hingga hampir ke ujung timur di dekat Karangasem.

- Advertisement -

Desa Panji adalah cikal-bakal istana kerajaan Buleleng dengan permainan megoak-goakan, yang berkaitan dengan keputusan Ki Barak Panji menyerbu Kerajaan Blambangan di ujung Jawa Timur. Pura Penimbangan adalah pantai tempat kapal dagang dari Cina terdampar dan prajurit Kerajaan Panji membantu menyelamatkannya.

Duka cerita percintaan (tragedi cinta) yang berasal dari Desa Kalianget (Kecamatan Seririt) melahirkan beberapa destinasi pariwisata sastra seperti makam Jayaprana di Teluk Trima (dalam Kawasan Taman Nasional Bali Barat), Desa Kalianget dengan beberapa pura seperti Merajan Raja Kalianget dan Pura Anyar. Pura Anyar adalah pura yang baru dibangun pada tahun 1949 ketika upacara kremasi roh I Nyoman Jayaprana dan Ni Nyoman Layonsari. Pura ini berfungsi sebagai rumah suci mereka setelah dikremasi. Di samping itu, rute perjalanan yang ditempuh oleh I Nyoman Jayaprana dari Desa Kalianget ke Teluk Trima, sebagaimana disebut di dalam Gaguritan Jayaprana, juga adalah destinasi pariwisata sastra.

Desa Banyuning adalah sebuah desa yang terkenal dengan kerajinan gerabah dan teater drama gong. Di desa ini seka atau kelompok drama gong yang terkenal di seluruh Bali dan Lombok hingga pertengahan dekade 1980-an, Puspa Anom. Desa Banyuning identik dengan dua cerita rakyat Bali yang menjadi lampahan, yaitu Sampik  dan Jayaprana. Tradisi sastra teater tetap hidup di Banyuning setelah popularitas drama gong kian surut di seluruh Bali, berkat keterlibatan seniman (sutradara teater modern) Putu Satria Kusuma dengan kelompok teater Kampung Seni Banyuning (KSB). Agenda pariwisata sastra ke Banyuning tidak hanya menikmati cerita sastra (Sampik dan Jayaprana), melihat lokasi dan benda-benda peninggalan kejayaan sebuah teater rakyat di titik persimpangan tradisi dan modern tetapi juga bisa mengikuti workshop singkat teater dari Putu Satria Kusuma.

Gedong Kirtya dengan koleksi naskah lontar erat kaitannya dengan dunia kesusastraan dan tradisi pernaskahan yang melahirkan dan memeliharanya sampai kedatangan seorang ahli Alkitab di koloni Hindia Belanda, termasuk ke Buleleng dan mendirikan skriptorium atau rumah penyakinan naskah di Desa Beratan, Van der Tuuk.  Sejak mula pariwisata di Buleleng menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Namun demikian, tidak dipikirkan sebagai destinasi sastra pariwisata. Artikel ini mereposisi Gedong Kirtya, menjadi detinasi sastra pariwisata karena koleksinya berupa naskah tulis tangan di atas daun lontar yang telah melewati proses pengawetan; di atasnya hampir seluruh khazanah sastra yang diwarisi Bali (cerita lokal, Panji, dan Epos, berbagai jenis ilmu pengetahuan etnik, dan transformasi kitab-kitab Hindu).

- Advertisement -

Di Desa Tejakula berkembang wayang wong  Ramayana dan desa karena itu juga memiliki potensi pariwisata sastra. Di desa ini epos Ramayana dihidupkan lewat tradisi seni wayang wong. Sayang sekali, para pelaku pariwisata hanya melihatnya sebatas kesenian yang indah. Di balik kehidupan tradisinya yang telah berusia ratusan tahun, kemegahannya sebagai seni tontonan; tersimpan sastra, yakni epos Ramayana.  Dengan melihat hubungan erat Desa Tejakula dan kesenian wayang wong dengan sastra epos Ramayana; desa ini sejatinya adalah objek pariwisata sastra.

Pariwisata Buleleng “berhutang budi” kepada A.A. Pandji Tisna. Nyaris seluruh peninggalannya sebagai seorang sastrawan Indonesia tidak dilindungi pemerintah setempat. Padahal menurut pengalaman sejumlah negara di dunia yang beruntung memiliki sastrawan, peninggalannya menjadi aset wisata dunia yang tidak ternilai harganya. Seperti kuburan Franz Kafka di Praha, nisan James Joyce di Zurich, Swiss, dan makam Karl Marx di London Utara, Inggris. Demikin pula halnya dengan rumah-rumah peninggalan para sastrawan.

Jika dilihat dari konsep pariwisata sastra, keberadaan A.A. Pandji Tisna, yang tergolong sastrawan Indonesia Angkatan Pujangga Baru, sangat tepat dikembangkan sebagai destinasi pariwisata sastra. Sebagai destinasi pariwisata sastra A.A. Pandji Tisna terkait dengan sejumlah tempat seperti Puri Buleleng (rumahnya), Puri Manggala Heritage di titik nol kilometer Lovina, Pantai Lovina yang dulunya bernama Tukad Cebol tempat tinggal A.A. Pandji Tisna ketika menulis beberpa novelnya dan mendirikan penginapan kecil bernama Puri Tasik Madu dan restoran. Jalan A.A. Pandji Tisna di dekat Pepito Desa Kaliasem, dan Bukit Sraya Nadi lokasi gereja dan makam A.A. Pandji Tisana beserta keluarganya.

Tulisan ini telah mencoba menunjukkan suatu potensi pariwisata sastra yang sangat kaya yang ada di Kabupaten Buleleng. Pengembangannya yang telah dirintis pada Museum A.A. Pandji Tisna di Desa Kaliasem, yang dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat Undiksha, diharapkan akan menarik perhatian pemerintah setempat dan dinas terkait. Dengan demikian, Buleleng memiliki destinasi pariwisata sastra dan menjadi daerah yang memlopori pengembangan destinasi pariwisat sastra. (*)

Penulis : Dr. I Wayan Artika (Akademisi Undiksha)

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts