Jejak Baru di Pura Desa Buleleng: Langkah Tenang Jro Mangku Muda yang Dipilih Lewat Lekesan

Singaraja, koranbuleleng.com | Di malam Galungan yang temaram, Pura Desa di Desa Adat Buleleng seolah menyimpan getaran yang lebih dalam dari biasanya. Wangi dupa mengalir pelan, kidung menggema dari balik pelinggih, dan ratusan krama berdiri dalam sunyi yang penuh hormat. Di tengah keteduhan itu, lahirlah sebuah keputusan penting: pemilihan Jro Mangku Pura Desa yang baru, membuka jejak baru setelah kepergian almarhum Jro Mangku Nyoman Wiryasa. Peristiwa itu berlangsung Rabu 19 November 2025.

Lowongan jabatan pemangku ini sempat menciptakan ruang kosong yang dirasakan oleh krama desa. Bukan hanya karena peran pemangku sangat lekat dalam kehidupan ritual, tetapi juga karena sosok almarhum yang selama ini menjaga ketenangan pura. Sejak kepergiannya pada September lalu, krama seolah menunggu waktu yang tepat bagi tradisi untuk berbicara kembali.

- Advertisement -

Paruman desa kemudian sepakat memilih jalur lekesan, sebuah tradisi yang tidak hanya memercayakan pilihan kepada manusia, tetapi juga kepada restu niskala. Prosesnya dilakukan dengan kwangen, dalam suasana yang sangat hening, disaksikan oleh prajuru, Jro Mangku Khayangan Tiga, pangempon pura, dan ratusan krama.

Empat nama duduk dalam tahapan lekesan malam itu, I Made Slamet Ganeawan, Putu Nunuk Satriawan, Putu Andi Permadi Putra, Kadek Adi Yudha Permana.

Keempatnya bukan nama sembarangan. Mereka adalah anak-anak dari mantan pemangku yang pernah menjalankan tugas suci di Pura Desa. Ikatan itu membuat suasana pemilihan semakin sarat makna, seolah generasi muda sedang dipanggil kembali untuk menjaga jejak leluhurnya.

Awig-awig Desa Adat Buleleng Tahun 2013, Pasal 60 ayat (1), memang memberikan tiga jalur pemilihan Jro Mangku: keturunan, nyanjan atau metuun, serta lekesan. Namun dengan hadirnya lebih dari satu calon dari garis pemangku, paruman memilih jalan lekesan—cara yang dianggap paling adil, paling jernih, dan paling lapang bagi campur tangan niskala.

- Advertisement -

Dalam prosesi yang lembut dan menyentuh itu, Putu Andi Permadi Putra (32) terpilih sebagai Jro Mangku Pura Desa. Putra almarhum Jro Mangku Nyoman Wiryasa itu melangkah pelan ke depan, disambut tatapan hangat warga yang seakan melihat kelanjutan garis keluarga pemangku yang kembali menyatu.

Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna, mengingat suasana pemilihan dengan raut yang masih diselimuti haru. “Karena calon lebih dari satu, maka diputuskan memakai cara lekesan. Prosesnya terbuka, disaksikan prajuru, Jro Mangku, dan krama. Semua kita serahkan dengan tulus,” ujarnya.

Namun perjalanan seorang pemangku tidak selesai pada satu malam. Ada tahapan penyucian dan penempaan diri yang menunggu. Putu Andi akan menjalani pewintenan sebelum benar-benar mengemban tugas secara penuh. Setelah itu, ia akan menjalani masa pendampingan bersama Jro Mangku Khayangan Tiga, belajar memaknai mantram, menjaga ketenangan pura, dan memahami setiap ritme yadnya.

“Beliau akan diberikan pelatihan, mendampingi Jro Mangku lainnya, sampai benar-benar siap,” sambung Jro Sutrisna.

Malam itu, ketika obor di pelataran pura mulai meredup, langkah Putu Andi tampak begitu mantap. Tidak tergesa, tidak ragu—seperti seseorang yang menerima tugas suci dengan hati yang sepenuhnya terbuka. Dengan terpilihnya ia melalui lekesan, sebuah babak baru pun mulai diguratkan di Pura Desa Buleleng. Sebuah perjalanan yang lahir dari hening, restu niskala, dan kesinambungan keluarga pemangku yang kembali hadir untuk menjaga pura.(*)

Kontributor: Putu Rika Mahardika

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru