Desa Adat Buleleng Gelar Pengerupukan Festival 2026, Pemkab Kucurkan Rp15 Juta per Banjar untuk Yowana

Singaraja, koranbuleleng.com | Desa Adat Buleleng memastikan kembali menggelar Pengerupukan Festival pada tahun 2026 sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Caka 1948. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan festival kali ini dikemas dengan sistem parade yang melibatkan seluruh yowana di 14 banjar adat Desa Adat Buleleng.

Pemerintah Kabupaten Buleleng menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian seni dan budaya lokal. Total anggaran sebesar Rp210 juta disiapkan dan akan dibagi merata kepada masing-masing yowana. Setiap banjar adat dipastikan memperoleh dana pembinaan sebesar Rp15 juta untuk menunjang kreativitas generasi muda.

- Advertisement -

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, menjelaskan bahwa anggaran tersebut dialokasikan khusus untuk mendukung berbagai kegiatan seni dalam Pengerupukan Festival. Dukungan itu mencakup proses pembuatan ogoh-ogoh, latihan seni tari, hingga pementasan dalam parade budaya.

“Masing-masing banjar adat akan dikoordinasikan bantuan dari Pemkab untuk kegiatan gelar seni itu. Mulai pembuata ogoh-ogoh, latihan menari, sampai pementasannya. Pemkab alokasi melalui Disbud 15 juta ke masing-masing yohana di banjar adat. Ada pajak dan ketentuan dalam angagaran tersebut,” ujarnya, ditemui usai rapat bersama desa adat dan yowana se-Desa Adat Buleleng, Selasa, 20 Januari 2025.

Meski tidak mengusung konsep perlombaan, Pemkab Buleleng berharap seluruh yowana tetap menampilkan karya terbaiknya. Selain bantuan anggaran, pemerintah daerah juga menyiapkan sarana dan prasarana penunjang agar festival berjalan tertib dan berkesan bagi masyarakat.

Dody bahkan membuka peluang agar Pengerupukan Festival Buleleng dapat berkembang menjadi agenda berskala nasional. Jika digelar secara konsisten, festival ini direncanakan akan diusulkan sebagai Karisma Event Nasional (KEN).

- Advertisement -

“Harus ada komitmen, di atas 3 kali diselenggarakan nisa diajuka kegaiat Karisma Event Nasional. Setelah tahun ke tiga akan ajukan. Tahun ke tiga rancang di titik nol karena venue lebih luas suasana baru. Tentu akan menambah aneka kegiatan. Bukan saja ogoh-ogoh diiringi seni tari, mungkin bisa dikemas menjadi lebih dari itu,” ucapnya.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menegaskan bahwa seluruh yowana telah sepakat festival ini tidak dilombakan. Meski demikian, setiap banjar adat tetap diwajibkan menampilkan ogoh-ogoh yang mengandung cerita atau pesan tertentu sebagai bagian dari nilai seni dan filosofi.

“Syarat ogoh karena parade bebas, pengikut yang inti maksimal 5. Jangan sampai ada parade diluar jalur kita. Masing-masing banjar adat maksimal ogoh-ogoh lima dengan tinggi besaran disesuaikan dengan jalan dan kabel-kabel yang ada jangan sampai mengganggu,” ujarnya.

Sutrisna juga menekankan pentingnya pengaturan rute parade agar tidak menimbulkan kemacetan. Penentuan jalur festival akan dibahas lebih lanjut bersama pihak terkait, mengingat pelaksanaan Pengerupukan bertepatan dengan rangkaian hari raya keagamaan Hindu di Buleleng.

“Rute menyesuailan kondisi jalan. Kami akan lihat dulu mana posisi jalan yang ramai. Di hindu ada bude wage klau. Upacara di masing-masing dadia pasti banyak mobil. Akan kami deteksi bersama panitia dan OPD terkait. Jalan mana saja yang akan dilalui,” ucapnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru