Singaraja, koranbuleleng.com | RSUD Buleleng kini resmi membuka layanan rawat inap khusus untuk pasien gangguan kesehatan jiwa, sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan penanganan gangguan kejiwaan secara terpadu dan terjangkau di daerah.
Langkah ini sekaligus menghapus ketergantungan masyarakat Buleleng terhadap Rumah Sakit Jiwa Bangli yang selama ini menjadi satu-satunya rujukan untuk kasus-kasus gangguan jiwa berat.
Direktur RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, mengungkapkan bahwa layanan ini dibuka untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus mengurangi beban keluarga pasien. Selama ini, proses rujukan ke Bangli tidak hanya menyita waktu dan biaya, tetapi juga kerap membuat pasien kehilangan kedekatan emosional dengan keluarga. Dibukanya layanan di Singaraja menjadi titik balik dalam pendekatan pelayanan yang lebih humanis.
Berdasarkan data internal RSUD Buleleng, selama empat bulan terakhir dari Maret hingga Juni 2025, sebanyak 44 pasien dengan gangguan kejiwaan telah ditangani melalui layanan ini, angka yang mencerminkan tingginya kebutuhan perawatan mental di Buleleng. “Sekarang ini kami hadirkan solusi agar pasien bisa dirawat di sini. Harapannya, motivasi sembuh menjadi lebih besar karena dukungan keluarga lebih dekat,” ujarnya, Senin, 23 Juni 2025.
Layanan rawat inap ini difokuskan di Ruang Akasia, dengan total empat bangsal yang disiapkan untuk pasien gangguan jiwa yang tidak memerlukan sistem pengamanan tinggi. Selain itu, RSUD Buleleng juga membangun satu unit ruang isolasi berstandar keamanan maksimal sesuai dengan regulasi dari Kementerian Kesehatan.
“Desain ruangannya kita desain khusus. Terisolasi dari bangsal umum, namun tidak terasa seperti penjara. Aman bagi pasien, keluarga, dan lingkungan rumah sakit, serta tetap memperhatikan kenyamanan psikologis,” ucapnya.
Dalam menjalankan layanan ini, RSUD Buleleng telah diperkuat oleh dua orang psikiater serta ketersediaan obat-obatan dan sarana terapi kejiwaan. Seluruh sistem operasional layanan mengacu pada standar prosedur operasional (SOP) dan fasilitas fisik yang telah diverifikasi oleh Kemenkes.
“Semua SOP, sarana, hingga profil gedung sudah sesuai ketentuan Kemenkes. Bahkan sebelum operasional, dilakukan visitasi dan evaluasi menyeluruh. Ini bukan layanan asal buka, tapi sangat terstandar,” kata dia.
Tak hanya fokus pada aspek medis, RSUD Buleleng juga berkomitmen membangun lingkungan pemulihan yang menyeluruh, termasuk rencana penyediaan fasilitas olahraga dan seni bagi pasien. Langkah ini diyakini dapat mempercepat pemulihan psikologis serta membangun rasa percaya diri pasien.
“Kami ingin ruang ini tak hanya mengobati secara medis, tapi juga memberi ruang ekspresi dan harapan. Pasien merasa dihargai, keluarga merasa tenang. Apa yang bisa kita tangani, kita tangani. Yang butuh alat lebih advance seperti terapi ECT tetap akan dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap,” kata dia.
Data dari RSUD buleleng menyebutkan, jumlah pasien yang memeriksakan gangguan kejiwaan dan psikiatri tergolong tinggi. Di bulan Maret ada 14 pasien, April sebanyak 10 pasien, Mei sebanyak 12, dan di bulan Juni sebanyak 8 pasien. (*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

