Singaraja, koranbuleleng.com | Fenomena minimnya penerimaan siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026 tak hanya menimpa SD Negeri 4 Sambirenteng di Kecamatan Tejakula, tetapi juga terjadi di 57 sekolah dasar lainnya di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng. Kondisi ini menjadi sorotan serius Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng.
Plt. Kepala Disdikpora Buleleng, Dewa Made Sudiarta, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), tercatat total 58 SD di sembilan kecamatan menerima siswa di bawah 10 orang. Fenomena ini, menurutnya, disebabkan oleh berkurangnya jumlah anak usia sekolah dasar serta kuota penerimaan siswa yang masih mengacu pada kapasitas tahun-tahun sebelumnya.
“Jenjang SD beberapa kasus terjadi seperti itu, karena jumlah anak yang memang bersekolah di jenjang itu berkurang dari sebelumnya,” ujar Sudiarta, Senin, 21 Juli 2025.
Meski demikian, Sudiarta memastikan bahwa seluruh siswa yang telah diterima akan tetap mendapatkan pelayanan pendidikan secara maksimal, tanpa ada pemindahan paksa ke sekolah lain.
“Sepanjang dia bersekolah disitu, wajib bagi kita memberikan layanan. Kita berikan pelayanan dengan segala prasarana dan pendidik yang tersedia,” ujarnya.
Disdikpora akan segera melakukan kajian menyeluruh bersama pihak sekolah dan komite sekolah untuk menata masa depan sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang minim tersebut. Keputusan soal regrouping sekolah pun disebut tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus melalui kajian matang demi menjaga mutu dan keberlanjutan pendidikan.
“Kita akan kaji dulu, regroping itu tidak serta merta kita lakukan. Nanti kita akan kaji, kalau ada yang lebih efektif dan efisien untuk menunjang mutu kualitas pendidikan untuk pengembangan anak. Itu yang kita lakukan,” ucapnya.
Minimnya minat siswa untuk mendaftar di sejumlah sekolah juga disebabkan kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang kurang layak. Sudiarta menambahkan bahwa Pemkab Buleleng kini tengah mengupayakan percepatan perbaikan fisik sekolah yang mengalami kerusakan berat, baik di jenjang SD maupun SMP.
Sebanyak 20 sekolah telah diprioritaskan, termasuk SD Negeri 4 Sambirenteng yang masuk kategori rusak sedang. Sekolah tersebut mengalami kerusakan pada bagian kav baja ringan penyangga atap, yang dipengaruhi oleh letaknya yang sangat dekat dengan garis pantai.
“Kita sudah punya data kerusakan sekolah yang diunggah sekolah di Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Yang menjadi prioritas penanganan bersumber dari data tersebut,” kata Sudiarta.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

