Desa Adat Buleleng Gelar Lomba Nyurat Aksara Bali dan Pidato Krama Lestarikan Bahasa Ibu

Singaraja, koranbuleleng.com | Desa Adat Buleleng menggerakkan pelestarian bahasa daerah dengan menggelar lomba nyurat aksara Bali tingkat Sekolah Dasar (SD) dan lomba pidato Bahasa Bali antar krama, Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan ini digelar sebagai ikhtiar nyata menjaga eksistensi Bahasa Bali agar tetap hidup dan digunakan lintas generasi.

Lomba nyurat aksara Bali diikuti oleh 14 siswa SD, sementara lomba pidato Bahasa Bali melibatkan 14 krama dengan rentang usia 30 hingga 71 tahun. Seluruh peserta merupakan krama dari 14 banjar adat yang berada di wilayah Desa Adat Buleleng, sehingga kegiatan ini merepresentasikan keterlibatan penuh masyarakat adat.

- Advertisement -

Ketua Panitia Lomba, Putu Mahendra, menegaskan pelibatan krama dewasa hingga lanjut usia bukan tanpa alasan. Lomba pidato dirancang sebagai ruang keteladanan agar penggunaan Bahasa Bali tidak hanya menjadi tanggung jawab anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

“Kami sengaja melibatkan krama yang sudah berusia lanjut untuk memberikan contoh kepada generasi muda agar memiliki mental yang kuat. Kalau yang tua saja bisa, kenapa yang muda tidak bisa,” ujar Mehandra.

Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap Bahasa Bali. Tidak hanya digunakan saat lomba atau kegiatan adat, tetapi juga diterapkan dalam komunikasi sehari-hari bersama keluarga dan lingkungan pergaulan.

Di sisi lain, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa lomba tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan berdasarkan arahan Dinas Pemajuan Masyarakat Desa Adat (PMDA) Provinsi Bali. Setiap desa adat di Bali diwajibkan menyelenggarakan kegiatan serupa sebagai bentuk komitmen kolektif menjaga bahasa dan budaya.

- Advertisement -

“Sebagai kelian desa adat, saya mengeluarkan Surat Keputusan untuk membentuk panitia. Anggaran pelaksanaan lomba ini bersumber dari Dana BKK Provinsi Bali,” kata dia.

Sutrisna mengungkapkan, para peserta yang berhasil meraih juara tidak akan dilepas begitu saja. Mereka akan mendapatkan pembinaan lanjutan dari penyuluh Bahasa Bali agar memiliki kesiapan mental dan kemampuan linguistik untuk tampil di jenjang lomba yang lebih tinggi.

“Juara satu, dua, dan tiga nantinya akan dibina secara khusus agar siap mewakili desa adat di jenjang yang lebih tinggi,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sutrisna menambahkan bahwa Desa Adat Buleleng sejatinya telah menjalankan program berbahasa Bali setiap hari Kamis sesuai arahan Pemerintah Provinsi Bali. Namun dalam praktiknya, masih ditemui tantangan, terutama di lingkungan keluarga yang kerap beralih ke Bahasa Indonesia.

Kondisi tersebut mendorong peran penyuluh Bahasa Bali untuk terus mengedukasi krama di setiap banjar adat agar konsisten menggunakan Bahasa Bali yang baik dan benar, baik dalam ruang adat maupun kehidupan rumah tangga.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru